Sabtu, 24 Mei 2014

AMERIKA LATIN SEBELUM PERANG DUNIA

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Amerika Latin mempunyai latar belakang sejarah yang tidak hanya banyak memperoleh pengaruh sistem politik dan kebudayaan Spanyol dan Portugal saja, namun juga oleh sistemBelanda, Inggris, dan Amerika Serikat. Amerika Latin merupa negara di belahan bumi baratsebelah selatan dan tenggara dari Amerika Serikat ang pernah dijajah oleh negara-negara Eropaterutama Spanyol dan portugal.
Secara geografis Amerika Latin memang merupakan sebuah benua sendiri karenaluasnya adalah sekitar 8 juta mil persegi atau dua kali luas Eropa. Dalam tahun 1973 penduduk Amerika Latin tercatat sekitar 305 juta jiwa dengan kenaikan rata-rata setiap tahunnya 4 %.Bahasa Spanyol tidak hanya digunakan untuk sebagian besar wilayah ini, tetapi merupakansuatu keharusan, karena umumnya bangsa-bangsa Amerika Latin kurang bergairah untuk  belajar bahasa Inggris.
Suku bangsa asli yang menghuni Amerika Latin adalah suku Indian. Diantara suku-suku bangsa Indian ini yang terkenal adalah suku Azteca, yang menghuni Meksiko Utara danTengah, suku Maya menghuni Meksiko Tenggara dan Amerika Tengah, dan suku Inca yang bermukim di Peru. Suku-suku bangsa lainnya yang terbesar di Amerika Latin, diantaranyaadalah suku Chibchas di daerah Bogota. Mereka telah pandai bercocok tanam, menggalitambang emas dan zambrud sera membuat garam dari batu tambang. Telah mengenal pulasistem tenun untuk pakaian, membuat alat-alat rumah tangga dari tembikar dan sistem perdagangan yang baik
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana masa Amerika Latin?
2. Bagaimana politik dan ekonomi Amerika Latin?
3. Bagaimana revolusi Amerika Latin?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana masa Amerika Latin.
2. Untuk mengetahui bagaimana politik dan ekonomi Amerika Latin.
3. Untuk mengetahui bagaimana revolusi Amerika Latin.















BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Masa Amerika Latin
Benua Amerika Latin pertama kali ditemukan oleh Columbus pada tanggal 12 Oktober 1492. Namun tidaklah seperti sebelum tahun 1517, dimana terjadi pendaratan yang pertamakali dari Francisco Hermandes de Cordoba di daerah Yucatan (4 Maret 1517).
Ekspedisi kedua dari Spanyol dipimpin oleh Juan de Grijalva pada tahun 1518,menyusuri pantai timur Meksiko sampai dekat Veracruz. Tetapi ekpedisi ini tidak membawa banyak pengaruh terhadap nasib Meksiko selanjutnya. Ekspedisi-ekspedisi yang terkenal dankemudian sama sekali mengubah peta politik Amerika Latin, sebenarnya dilakukan oleh empatorang, yakni Hernando Cortes, Francisco Pizarro, Jimenez de Quesada dan Pedro de Valdivia.
1.Hernando Cortes (Penjajahan atas Meksiko)
Cortes dilahirkan di Medellin di Spanyol 1485 yang dibesarkan oleh keluarganingrat, namun ia lebih suka mengembara daripada belajar di Universitas Salamanca yanghanya dikunjunginya selama dua tahun. Karena jiwa pengembaraannya, kemudian ia disuruholeh Velasquez mempimpin ekspedisi ke Meksiko. Pada usia 38 tahun, 18 November 1518Cortes berangkat menuju pantai timur Meksiko dengan selusin kapal, lebih dari 500 pelaut, persenjataan beberapa meriam, dan budak-budak belian. Di Cozumel pantai Yucatan, iamenemukan seorang pelaut Spanyol yang terdampar karena kapalnya pecah. Pada Maret1519 ekspedisi menuju pantai Tabasco. Disinlah Cortes kemudian bertemu dengan DonaMarina de Jaramillo yang dijadikan sebagai gundiknya.
2.Jimenez de Quesada (Penjajahan atas Colombia)
Ia lahir pada tahun 1499 di Cordoba Spanyol dari golongan bangsawan. Ia sangatingin belajar ilmu hukum, tetapi sama seperti halnya Cortes dan Pizzaro, ia lebih tertarik  pada ilmu petualangan. Tahun 1535 ia brlayar ke benua Amerika, datang di Santa Marta.Gubernur Fernando de Lugo membantunya dengan menugaskan mempimpin suatu ekpedisike selatan, yang dimulainya pada tanggal 6 April 1536.Ia memperoleh 6 buah kapal, 600 pasukan infanteri, 200 pelaut, 100 ekor kuda dan perlengkapan lainnya. Kapalnya menjelajah sungai Magdalena, sedang pasukan daratnya berusaha mendaki gunung-gunung di Colombia Tengah. Melalui perjalanan di hutan belantara yang sangat sulit ditempuh, angin dan hawa dingin mencekam, serbuan panah beracun dari suku Indian Chibcha, akhirnya hanya 166 orang yang selamat sampai datarandekat Bogota. Suku Chibcha yang sedang bertempur satu sama lain mudah dikuasainya.
Pada 6 Agustus 1538 ia membangun kota Santa Fe de Bogota. Dari sinilah selanjutnyadiperluas kekuasaan Spanyol. Kemudian ia kembali ke Santa Marta, lalu melaporkan hasilekspedisinya ke raja Spanyol. Seperti lazimnya, Raja memberikan hadiah sebidang tanah.Tetapi kawan-kawannya yang cemburu melaporkan hal-hal yang menjatuhkan namanya,antara lain ia di laporkan perlakuannya yang terlalu kejam terhadap suku Chibcha.Kemudian Quesada dijatuhi hukuman pengasingan, tetapi dalam tahun 1549direhabilitasikan dan menjadi seorang pejabat di Bogota. Sekitar tahun 1569, ia memimpinlagi suatu ekspedisi ke selatan dan terlibat dalam pertempuran-pertempuran melawan suku-suku Indian. Quesada meninggal dunia pada 16 Februari 1579.
3.Pedro De Valdivia (Penjajahan atas Chili)
Pedro dilahirkan dari kalangan bangsawan Spanyol sekitar tahun 1500. Ia bertugasdipasukan Raja Charles V di Italia, dan dalam tahun 1530 pergi ke Amerika Selatan. Iadatang di Peru, memperoleh kepercayaan dari Pizarro dan diberi kekuasaan menggalitambang-tambang, dimana kemudian ia kaya karenanya. Tahun 1535 Almargo inginmenguasai Chili dari pangkalannya di Peru, tetapi gagal. Tahun 1539 ia menugaskan Pedrountuk mengambil oper tugas-tugasnya untuk menaklukkan daerah sebelah selatan. Padatahun 1540, Pedro berangkat memimpin ekspedisi disertai 200 orang Spanyol dan 1000orang penduduk asli. Ia berhasil mendirikan kota-kota di Santiago (12 Februari 1541),Concepcion (Januari 1550), Imperial (1551) dan Valdivia (1552).
Namun kemudian, perlawanan dari suku-suku Indian menghebat hingga Pedromeninggal dalam pertempuran tanggal 31 Desember 1553. Lima puluh tahun perlawanansuku-suku Indian ini berlangsung, tetapi akhirnya dapat didesak mundur oleh pasukan- pasukan Spanyol hingga ke arah seletan dari Sungai Bio-Bio.
Dari riwayat awal penjajahan Spanyol atas Amerika Latin, yang dirintis oleh ke empatorang petualang diatas, dapat kita ketahui bahwa penjajahan itu sifat mulanya adalah petualangan belaka dari segelintir orang yang mempunyai motivasi petualangan, hasrat akankeharuman nama pribadi, hasrat untuk memperoleh kekayaan, atau dapat dikenal dengan 3 Gyaitu, Gold, Glory dan Gospel .
Politik penjajahan Spanyol di Amerika Latin pada umumnya didasarkan atas alasn,tujuan, dan cara sebagai berikut:
    Mengeksploitasikan kekayaan setempat, terutama bahan tambang emas, perak, dan batu permata, baik unuk medukung industri maupun untuk memupuk kekayaan Spanyol,
    Negara jajahan sbagai media untuk memperkuat perdagangan dunia dan atau berfungsisebagai “market forces” yang baru,
    Mencari tenaga murah bagi kepentingan ekonominya, antara lain dengan sistem perbudakan  dan pemerasan,
    Menyebarkan political image Spanyol sebagai kekuatan dunia yang perlu diperhitungkan, baik oleh kawan atau lawan, antara lain dengan memperkenalkan sistem politik dan sistem pemerintahan Spanyol di negara-negara jajahan,
     Negara-negara jajahan sebagai salah satu faktor dalam perimbangan politik dunia,
    Politik kebudayaannya didasarkan pada penanaman kesadaran akan tingginya nilaikebudayaan Spanyol dan kebanggaan dalam penggunaan bahasa Castellano sebagai bahasadunia yang kuat fungsinya.
Pada dasarnya, cara penjajahan bangsa-bangsa lain di Amerika Latin mempunyai pola yangsama seperti yang digunakan oleh Spanyol. Mula-mula melalui daerah-daerah baru, kemudianmenguasainya sebagai daerah koloni. Bahkan, sebenarnya Portugal lebih dahulu daripada Spanyoldalam eksplorasi daerah-daerah baru.
2.2 Politik dan Ekonomi Amerika Latin
Kawasan Amerika Latin memiliki sumber-sumber alam yang melimpah. Hal ini tidak lepas dari keadaan geografis di kawasan tersebut yang bervariasi, dari dataran-dataran tinggi, hutan, hingga pantai. Selain itu, Amerika Latin juga memiliki wilayah yang luas. Dengan luas wilayah yang sangat besar, ditambah dengan adanya kondisi geografis yang bervariasi seperti demikian, negara-negara di kawasan selatan negara Amerika Serikat ini memiliki potensi alam yang sangat tinggi. Secara normatif, melimpahnya sumber-sumber alam berbanding lurus dengan pertumbuhan perekonomian negara-negara yang memilikinya. Namun, apa yang terjadi tidaklah demikian.
            Mayoritas negara di kawasan Amerika Latin memiliki tingkat perekonomian yang buruk. Bahkan, negara-negara di kawasan ini digolongkan sebagai kelompok negara-negara periphery. Hal ini jelas menimbulkan tanda tanya besar, terkait dengan kontradiksi yang terjadi antara kondisi alam di kawasan tersebut dengan tingkat perekonomian di kawasan tersebut. Padahal, sejak tahun 1970-an, negara-negara di kawasan ini telah mulai menerapkan resep kapitalisme, yang telah diberlakukan, dan relatif berhasil, di negara-negara barat (Teichman, 2001). Usaha-usaha yang dilakukan adalah melakukan restrukturisasi sistem ekonomi, dari sistem yang terpusat pada State, menjadi yang terpusat pada kapital dan market. Dengan kata lain, sejak era tersebut, liberalisasi ekonomi telah diterapkan demi mencapai kemajuan tingkat ekonomi, seperti yang terjadi di negara-negara barat. Jelas, dalam hal ini, terdapat perbedaan antara das sollen dan das sein, yang memunculkan permasalahan di kawasan tersebut, yang pada akhirnya memerlukan adanya suatu analisis yang komprehensif demi terpecahkannya permasalahan tersebut.
Cardoso (1997), melalui penelitian yang dilakukannya, berusaha untuk menjelaskan mengenai fenomena ini. Ia, dalam artikel yang berjudul Current Theses on Latin American Development and Dependency : A Critique, mencoba melakukan dekonstruksi terhadap tesis-tesis yang membawa ide tentang kapitalisme. Ia berpendapat bahwa tesis-tesis tersebut kurang dapat dalam menyajikan informasi, yang mana kekurangan tersebut akan dapat membawa dampak kehancuran bagi suatu kehidupan sosial.
            Tesis pertama yang dicoba untuk didekonstruksi adalah “Di negara periphery, Kapitalisme tidak akan dapat untuk hidup”. Tesis ini berangkat dua hal, yaitu pertama adanya keberadaan borjuis lokal. Keberadaan borjuis lokal dapat menghalangi terciptanya suatu pasar yang memiliki tingkat kompetitif yang tinggi, sehingga kemajuan ekonomi tidak akan dapat diraih[1]. Keberadaan borjuis lokal, dianggap, akan dapat mencegah terjadinya pasar kompetitif. Dan yang kedua adalah mengenai industrialisasi yang akan berdampak pada keadaan labor-saving. Industrialisasi dianggap akan membawa pada keadaan dimana labor tidak akan lagi dibutuhkan, karena peranannya digantikan oleh teknologi, padahal di negara-negara periphery, labor adalah sumber daya utama.
            Cardoso menolak tesis tersebut. Ia beranggapan bahwa kapitalisme dapat diterapkan di mana saja. Faktor dominan yang akan menentukan apakah ia akan berhasil atau tidak adalah prinsip dinamisme yang dimiliki oleh kapital itu sendiri. Artinya, prinsip dinamis dari kapital masih terjaga, maka kapitalisme akan mampu untuk “menjalankan tugasnya” dalam upaya peningkatan ekonomi suatu negara. Yang terjadi di kawasan Amerika Latin dari penerapan resep kapitalisme adalah terfokusnya kapital pada satu kawasan tertentu saja. Kapital, baik dari nasional maupun dari investasi asing, hanya terpusat di tempat tertentu, yang mengakibatkan ia berkembang dalam satu spriral yang statis. Konstelasi ini mengakibatkan penyebaran kapital tidak setara, sehingga kemajuan ekonomi yang dijanjikan pun tidak menyeluruh, hanya meliputi kawasan dan kalangan tertentu saja. Ketimpangan inilah yang kemudian mengakibatkan tetap kerdilnya tingkat ekonomi di kawasan ini meski telah menerapkan resep yang telah berhasil di negara-negara barat.
            Tesis kedua adalah “Esensi dari kapitalisme adalah eksploitasi buruh dan pemberian upah yang minimum”. Tesis ini berangkat dari prinsip efisiensi di dalam teori ekonomi, yang mengatakan bahwa setiap kegiatan ekonomi ditujukan untuk memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan cost. Untuk memaksimalkan keuntungan, buruh sebagai salah satu faktor penting dalam kegiatan produksi, dituntut untuk menampilkan kinerja yang optimal, sehingga produktivitas dari suatu perusahaan akan meningkat dan pada akhirnya keuntungan yang didapat oleh perusahaan tersebut akan meningkat pula. Sedangkan untuk meminimalkan cost, perusahaan-perusahaan melakukan kebijakan pemberian upah minimal.
            Tesis ini memiliki dua kelemahan. Pertama adalah ia menegasikan pentingnya peranan saving. Di sini, tesis ini hanya melihat aspek ekonomi dari kacamata perusahaan, tidak pada buruh atau masyarakat di wilayah tersebut. Sehingga, bagi perusahaan, hal tersebut dinilai menguntungkan. Namun, bagi pihak masyarakat, tentu tidak. Masyarakat hanya akan mendapatkan upah minimal, yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan primernya saja, tanpa memiliki kemampuan untuk melakukan saving. Padahal, dengan saving, suatu negara dapat mengembangkan kapitalnya sendiri, sehingga tidak perlu mengandalkan investasi atau utang dari luar negeri untuk mengembangkan ekonominya.

Kelemahan kedua adalah mengenai kemampuan pasar dalam menyerap hasil produksi. Dengan meminimalkan upah, maka mayarakat hanya akan memenuhi kebutuhan primernya saja. Kemudian, apa yang terjadi pada perusahaan-perusahaan yang memproduksi barang-barang tersier, seperti perusahaan mobil atau perhiasan misalnya. Perusahaan-perusahaan ini akan kesulitan untuk memasarkan produknya, karena pada dasarnya kemampuan masyarakat untuk membelinya sangat kurang dikarenakan upah yang minimal. Akibatnya adalah perekonomian akan bersifat statis, dan oleh karenanya ia tidak akan berkembang ke arah yang diinginkan.
Pemberian upah buruh yang minimal hanya dibutuhkan dalam proses awal dari restrukturisasi ekonomi ke arah kapitalisme saja[2]. Hal ini dikarenakan perusahaan memang diharapkan untuk berkembang. Namun, setelah sistem ekonomi ini diimplementasikan, hal ini harus dihapuskan, demi terciptanya suatu pasar yang kondusif bagi sistem perekonomian tersebut.
Tesis ketiga adala “Hilangnya peranan tokoh borjuis lokal di dalam kehidupan sosial”. Tesis ini beranggapan bahwa di era kapitalisme, peranan dari tokoh-tokoh borjuis lokal, yang sebelumnya merupakan tokoh pemimpin dari masyarakat, akan tergantikan oleh borjuis-borjuis baru, yaitu para korporasi atau perusahaan besar. Bahkan di dalam struktur politik, perusahaan-perusahaan besar lah yang memiliki suara terbesar dalam penentuan kebijakan di dalam suatu negara.
Dalam hal ini, perlu dipahami mengenai konsep borjuis lokal. Borjuis lokal merupakan kelompok-kelompok yang mendominasi elit-elit politik di negara-negara di kawasan Amerika Latin. Mereka adalah kelompok yang memiliki perkebunan (hacienda) yang juga kemudian mengatur kehidupan sosial di wilayahnya masing-masing. Cardoso menolak asumsi tesis tersebut. Terlebih, Cardoso beranggapan bahwa kelompok borjuis lokal telah bertransformasi menjadi sebuah birokrasi yang masih cukup dominan dalam bidang politik dan kontrol sosial. Sehingga, peranannya di kehidupan tidak akan hilang, walaupun terdapat suatu indikasi bahwa kelompok-kelompok ini, secara praktis, tidak menolak adanya perubahan struktur ekonomi. Sebaliknya, kelompok ini bertransformasi menjadi kelompok Internationalized Bourgeoisies.
Tesis keempat adalah “penetrasi dari perusahaan multinasional akan membuat State berorientasi pada kegiatan ekspansi pasar”. Masuknya investasi asing sebagai akibat dari globalisasi ekonomi akan membuat suatu negara, di manapun negara tersebut berada, akan terinvasi secara ekonomi oleh perusahaan-perusahaan besar multinasional. Di sini, perusahaan-perusahaan asing yang mengekspor barangnya ke suatu negara, akan bersaing dengan perusahaan-perusahaan lokal. Trend yang terjadi di sini adalah perusahaan-perusahaan asing akan memiliki kesempatan yang lebih besar dalam meraih keuntungan dan keberhasilan dalam persaingan tersebut daripada perusahaan lokal, karena mereka pada dasarnya memiliki kapital yang jauh lebih besar daripada perusahaan-perusahaan lokal. Dengan kapital yang besar, perusahaan-perusahaan asing membuka cabang di berbagai negara, sehingga keuntungan yang diraih akan semakin besar pula.
Cardoso menyangkal tesis tersebut. Dalam pendapatnya, Cordoso menjelaskan bahwa untuk masuk ke tahap ekspansionis, suatu negara harus mengkonsentrasikan keunggulan komparatifnya, sehingga ia akan meraih keuntungan ekonomis yang sangat signifikan[3]. Sementara, apa yang terjadi di Brasil, sesuai dengan penelitian yang dilakukan olehnya, menunjukkan hal yang sebaliknya. Di Brasil, penyumbang angka tertinggi dari hasil kegiatan ekonomi yang paling banyak datang dari produk-produk yang tidak terkonsentrasi untuk ekspor. Artinya adalah suatu negara tidak selalu perlu untuk melakukan konsentrasi suatu produk untuk kemudian dikembangkan ke arah ekspansionis ke pasar internasional demi mengejar keuntungan ekonomi. Keuntungan ekonomis dapat diperoleh melalui cara lain, seperti dengan menciptakan suatu keadaan yang “sehat” bagi seluruh pihak yang berperan di dalamnya, terutama bagi pihak lokal. Sehingga, perekonomian lokal akan ikut terangkat, tanpa perlu melakukan ekspansi pasar.
Amerika Latin hanya ada dua ideologi, Fasisme atau Sosialisme”. Pada dasarnya, kedua ideologi tersebut berseberangan dengan ideologi liberalisme, yang mendukung adanya revolusi ekonomi ke arah yang lebih bebas berdasarkan pada asas kapitalisme. Oleh karenanya, sering kali sistem politik yang demikian dianggap tidak demokratis dan sering kali ditentang oleh pihak negara-negara barat. Sistem politik di negara-negara di kawasan Amerika Latin, oleh beberapa kalangan, dianggap terjebak diantara dua pilihan, Fasisme atau Sosialisme. Fasisme merupakan suatu bentuk pemerintahan diktator oleh satu orang tokoh, sedangkan Sosialisme merupakan suatu sistem pemerintahan komunisme, yang mendasarkan tindakannya berdasarkan pada asas sama rata dan sama rasa.
Cardoso beranggapan bahwa munculnya trend tersebut dikarenakan adanya arus balik dari liberalisasi ekonomi yang diterapkan, yang mana arus balik tersebut tidak membawa dampak yang positif melainkan malah mebawa dampak yang negatif. Liberalisasi ekonomi yang pada dasarnya ditujukan pada perkembangan dan pencapaian kemakmuran malah membawa dampak yang sebaliknya, yaitu adanya kemiskinan dan ketimpangan di mana-mana. Oleh karenanya, di saat yang krisis seperti itu, muncul kaum-kaum revolusioner yang ingin mendobrak dan mendekonstruksi sistem yang ada. Namun pada saat tidak terjadi krisis, gelombang arus balik tersebut hampir tidak tampak dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, terminologi “fasisme” dan “sosialisme” yang muncul di sini tidak serta merta menyebabkan suatu negara di Amerika Latin menerapkan prinsip tersebut di setiap kehidupan yang ada. Yang terjadi adalah otoritas lokal memegang kontrol pada suatu aspek tertentu yang produktif untuk kemudian dikelola secara maksimal oleh negara, tanpa mengganggu aspek-aspek ekonomi yang lain. Hal ini dikarenakan oleh banyak hal, seperti otoritas asing tetap diberikan ruang gerak pada sektor-sektor tertentu, dan sektor yang diambil alih oleh otoritas lokal adalah yang dianggap paling produktif dan strategis saja. Dengan demikian, adanya kebijakan tersebut tidak serta merta menjadikan negara-negara di kawasan ini sebagai negara yang anti demokrasi.
2.3Revolusi Amerika Latin
Amerika Latin tetap merupakan sektor kunci dalam revolusi dunia. Apapun yang dikatakan oleh politisi-politisi borjuis dan reformis, jauh dari imun terhadap resesi dunia, Amerika Latin telah terpukul terutama secara besar. Di satu pihak, jatuhnya harga-harga bahan mentah dan minyak telah mempengaruhi negara-negara di wilayah tersebut, yang kebanyakan bergantung padanya. Ekspor tambang dan minyak di seluruh wilayah tersebut anjlok 50,7% di semester pertama 2009.
Resesi di AS dan Eropa juga telah mempengaruhi kiriman uang (remitan) oleh pekerja migran Amerika Latin yang di beberapa negara (Honduras, Nikaragua, Meksiko, Ekuador, Bolivia, Peru, dsb.) merupakan porsi besar di dalam PDB. Di 10 bulan pertama tahun 2009, jumlah remitan ke Meksiko jatuh 16,5% dan di Kolombia 17,5%, dengan El Salvador dan Guatemala jatuh sebesar 10%. Akhirnya, krisis kredit sedunia telah menyebabkan anjloknya Investasi Asing Langsung, dimana badan ekonomi regional CEPAL memperkirakan ini sebesar 45% dibandingkan tahun 2008.
Meksiko dan Amerika Tengah juga telah membayar harga yang mahal untuk integrasi ekonomi mereka dengan ekonomi AS, menderita lebih banyak daripada negara-negara yang memiliki lebih banyak hubungan dagang dengan Uni Eropa dan Tiongkok. Ekonomi dari benua ini secara keseluruhan jatuh sebesar 2,1% pada tahun 2009, dangan negara-negara seperti Meksiko (-7%) dan Venezuela (-2,9%) di antara yang paling parah. Tetapi bahkan setelah negara-negara ini pulih dari resesi pada tahun 2010, jumlah orang miskin akan terus tumbuh sebesar 39 juta. Ini adalah latar belakang eksplosif untuk revolusi di Amerika Latin yang sedang berkembang.
Venezuela
Selama dekade terakhir, lebih dari satu kali kaum buruh sudah bisa merebut kekuasaan di Venezuela. Masalahnya adalah kepemimpinan. Chavez adalah seorang yang pemberani dan jujur, tetapi dia bergerak secara empirikal, berimprovisasi dan membuat program sembari jalan. Dia mencoba menyeimbangkan kelas pekerja dan kaum borjuasi. Dan ini tidak bisa berlangsung selamanya.
Lenin menjelaskan bahwa politik adalah ekonomi yang terkonsentrasi. Chavez mampu memberikan konsesi, reforma-reforma, misi-misi sosial, dsb. untuk waktu yang cukup lama karena situasi ekonomi. Harga minyak yang tinggi memungkinkan dia untuk melakukan ini. Tetapi sekarang ini sudah berakhir. Harga minyak telah jatuh secara dramatik, walaupun ini telah pulih sedikit. Inflasi adalah sekitar 30%. Oleh karenanya ada penurunan upah riil. Banyak skema-skema jaminan sosial yang harus dipangkas dan pengangguran meningkat.
Tidak diragukan kalau kaum buruh Venezuela masih setia pada Chavez, tetapi juga tidak diragukan kalau banyak buruh, walaupun setia, semakin menjadi tidak sabar. Mereka bertanya: revolusi macam apa ini? Sosialisme macam apa ini? Apakah kita akan menyelesaikan masalah-masalah ini atau tidak? Ancaman konter-revolusi belumlah menghilang. Oposisi konter-revolusi sedang mempersiapkan sebuah ofensif baru untuk memenangkan mayoritas di Majelis Nasional pada tahun 2010. Bila mereka berhasil, atau bila mereka memenangkan sejumlah besar kursi, jalan akan terbuka untuk sebuah ofensif konter-revolusioner yang baru.
Fakta yang paling menonjol mengenai Revolusi Venezuela adalah ketidakmampuan para imperialis untuk mengintervensi secara langsung. Di masa lalu, mereka sudah pasti akan mengirim pasukan angkatan laut untuk menumbangkan Chavez. Tetapi mereka belum mampu mengintervensi secara langsung. Dengan cara yang sama, imperialisme Inggris terpaksa melepaskan kendali militer-birokratiknya dari koloni-koloninya karena biaya yang tinggi, secara finansial dan politis. Sebagaimana hal biaya okupasi Iraq dan Afghanista telah menyedot sumber daya AS. Sebuah aksi militer langsung melawan Venezuela oleh karenanya tampak mustahil sampai AS menarik mundur tentaranya dari negara-negara ini. Akan tetapi, ini tidak menihilkan intervensi proxi dari Kolombia yang disponsor oleh AS, yang telah meluncurkan kampanye terus-menerus untuk melemahkan, mengisolasi, dan menghancurkan Revolusi Bolivarian. Kekalahan kudeta 2002 disebabkan oleh intervensi massa.
Washington sedang bermanuver dengan Uribe untuk mengancam Venezuela. Perjanjian dimana Kolombia memberikan kepada AS akses ke tujuh pangkalan militer adalah sebuah aksi agresi terhadap Revolusi Venezuela. Ancaman eksternal dari Kolombia adalah nyata. Tetapi yang lebih serius adalah ancaman dari dalam. Kaum borjuasi masih memegang di tangannya titik-titik kunci ekonomi. Sepuluh bank masih mengendalikan 70% aktivitas finansial. Kebanyakan tanah masih ada di tangan tuan tanah besar, sedangkan 70% bahan makanan masih diimpor (dengan inflasi). Terutama, pemerintah masih ada di tangan birokrasi konter-revolusioner. Setelah lebih dari satu dekade, ada tanda-tanda keletihan dan kekecewaan di antara massa. Ini adalah elemen yang paling berbahaya.
Di Kongres Luar Biasa Pertama PSUV (Partai Persatuan Sosialis Venezuela), Chavez mengakui hal-hal ini dan menyatakan bahwa “sosialisme belumlah tercapai”. Dia menyerukan penghapusan kapitalisme secara total, penyenjataan rakyat dan milisi buruh. Semua ini diperlukan, tetapi bila ini hanya tinggal pidato saja, ini tidak akan menuju kemana-mana. Kenyataannya adalah bahwa birokrasi sedang secara sistematik melemahkan Revolusi dari dalam. Gerakan menuju kontrol buruh sedang secara sistematis disabotase, dan buruh-buruh yang berusaha berjuang melawan birokrasi sedang diserang, seperti yang kita lihat dalam kasus Mitsubishi. Situasi ini menghasilkan sebuah gejolak ketidakpuasan dan kekecewaan yang merupakan bahaya terbesar dari semuanya. Bila suasana hati ini terekspresikan dalam apati dan abstensi di pemilu-pemilu, ini akan menyiapkan sebuah konter-ofensif ke kanan.
Di Venezuela kelas buruh memisahkan diri mereka dari partai-partai borjuis dan melempar dirinya, di atas basis seruan Chavez, ke dalam usaha untum membangun partainya sendiri, sebuah partai kelas, PSUV. Partai ini, yang masa depannya belum ditentukan, dilahirkan di tengah sebuah revolusi, dan massa rakyat mengambilnya sebagai sebuah usaha untuk membangun apa yang kita sebuah partai buruh yang independen.
PSUV dilahirkan, dengan cara yang penuh kebingungan, dengan impuls kelas, dan di tengahnya ada perjuangan antara mereka yang ingin membangun sebuah partai kelas dan mereka yang ingin melihat PSUV hanya sebagai partai yang menjaga ketertiban, yang mewakilkan keinginan mereka sebagai sebuah klik dan orde kapitalis. Tugas utama dari kaum Marxis di revolusi Venezuela adalah untuk membantu mencapai hasil yang paling positif dari perjuangan ini, menjadi sebuah faksi Marxis dari partai ini dan membangunnya dengan penuh semangat, membantu elemen-elemen yang paling serius di dalamnya untuk meraih mayoritas di partai, menendang keluar para birokrat dan memperdalam revolusi proletar yang sedang terjadi.
Kita harus memberikan perhatian lebih banyak pada kerja kita di dalam PSUV, yang saat ini adalah ada di pusat masalah Revolusi. Kita harus mengakui secara jujur bahwa kepemimpinan dari seksi Venezuela belum memberikan perhatian yang cukup pada kerja ini, dan sebagai akibatnya kita kehilangan banyak kesempatan. Ini adalah satu kesalahan yang sangat serius, yang harus diperbaiki segera. Kerja serikat buruh sangat penting, tetapi ini harus diberikan ekspresi politik. Kerja kita di pabrik-pabrik yang diokupasi tetap adalah masalah yang kunci, tetapi ini akan menjadi sia-sia bila tidak dihubungkan dengan perjuangan untuk mentransformasi PSUV.
Kaum Marxis Venezuela harus menggabungkan keteguhan teoritis dengan fleksibilitas taktik yang dibutuhkan, selalu menekankan peran gerakan Bolivarian dan PSUV. Bila kita bekerja dengan tepat di tahun-tahun ke depan, pondasi untuk oposisi kiri massa akan terbentuk di dalam PSUV, dimana kita akan berpartisipasi dan memupukinya dengan ide-ide Marxisme. Ini adalah satu-satunya cara untuk membangun sebuah tendensi Marxis massa di Venezuela, sebagai langkah pertama menuju sebuah partai Marxis massa revolusioner di hari depan.
Meksiko, Kuba, dan Amerika Tengah
Ada sebuah krisis ekonomi yang serius di Meksiko. Seluruh Meksiko bergantung pada para imigran yang bekerja di Amerika Serikat, yang remitannya telah anjlok karena krisis. Kaum borjuasi tidak bisa mentolerir keberadaan reforma-reforma dan konsensi-konsesi yang mereka berikan di masa lalu. Tetapi tidak ada alternatif bagi massa selain mengambil jalan perjuangan
Serangan terhadap serikat buruh listrik adalah satu indikasi bagaimana kelas penguasa Meksiko berpikir. Mereka terdorong untuk menyerang taraf hidup, dan guna mencapai ini, mereka harus menghancurkan serikat-serikat buruh yang kuat di Meksiko. Ini ditunjukkan oleh penutupan Luz y Fuerza dan usaha untuk menghancurkan Serikat Buruh Listrik Meksiko yang kuat, yang menyebabkan ledakan gerakan massa dan Pemogokan Nasional pada bulan Oktober 2009.
Serangan dari pemerintahan PAN akan memprovokasi sebuah reaksi yang dapat membawa sebuah ledakan sosial seperti tahun 2006, atau bahkan dalam tingkatan yang lebih tinggi. Kita harus siap! PRD akan pulih kembali karena ketidakpopuleran pemerintahan Calderon. Partai ini ada di tangan sayap kanan, dan akan tergoncang oleh krisis-krisis internal dan perpecahan. Adalah mungkin kalau Lopez Obrador akan memutuskan untuk pecah dari PRD dan bergabung dengan PT (Partai Buruh). Kita harus fleksibel dalam taktik kita dan mengikuti peristiwa-peristiwa dengan seksama supaya bisa menjangkau kaum buruh termaju dengan ide-ide kita.
Nasib Revolusi Kuba terhubung secara langsung dengan perspektif revolusi sosialis di Amerika Latin. Setelah jatuhnya Uni Soviet, Kuba terisolasi dan ada di bawah tekanan, yang sekarang semakin besar. Selama Castro masih memimpin, mereka bisa menahan elemen-elemen pro-kapitalis dalam kendali dan mempertahankan situasi. Tetapi sekarang Kuba ada di dalam kesulitan-kesulitan yang serius. Krisis kapitalisme global telah memukul ekonomi Kuba, yang setelah jatuhnya Uni Soviet bergantung pada pasar dunia.
Ada bahaya jelas dalam mengambil kebijakan-kebijakan ekonomi, yang atas nama “efisiensi” dapat membuka jalan ke restorasi kapitalisme. Di persimpangan ini, revolusi Kuba harus diperkuat dengan membebaskan kekuatan kreativitas rakyat pekerja Kuba melalui keterlibatan penuh mereka dalam menjalankan masyarakat dan ekonomi.
Ini menunjukkan keterbatasan dari “sosialisme di satu negara”. Isolasi revolusi adalah sumber birokratisasi dan juga tendensi-tendensi pro-kapitalis. Revolusi Kuba dihadapi oleh pilihan yang pahit: kapitalise ditumbangkan di Amerika Latin, atau tendensi menuju restorasi kapitalisme di Kuba akan menjadi lebih kuat.
Bila Revolusi Venezuela berhasil diselesaikan, maka situasi ini akan berubah. Situasi objektif untuk revolusi semakin cepat matang di Amerika Latin. Yang ada di Meksiko sekarang adalah bahkan lebih benar di Amerika Tengah, seperti yang telah kita saksikan di Honduras. Yang dibutuhkan adalah sebuah kepemimpinan revolusioner yang paham akan tujuannya dan bagaimana meraihnya.
Teori dua-tahap Stalinis telah gagal dimana-mana. Supaya bisa berhasil, revolusi tidak bisa berhenti di batas kepemilikan pribadi. Dimulai dari tugas-tugas nasional-demokratik (perjuangan melawan imperialisme dan oligarki, revolusi agraria), revolusi harus melaksanakan ekspropriasi bank-bank dan industri besar, yang merupakan agen-agen lokal dari imperialisme dan pusat konter revolusi. Terakhir namun juga penting, revolusi ini tidak boleh berhenti di perbatasan nasional, yang sebenarnya hanyalah artifisial, terutama di Amerika Tengah.
Di El Salvador, dimana revolusi sosialis dapat dilaksanakan dengan sehat di masa lalu, tetapi dikhianati oleh kebijakan-kebijakan keliru dari kepemimpinan, gerakan revolusioner sekarang sedang memasuki tahapan yang baru. Suara untuk FMLN adalah ekspresi dari kemarahan rakyat. Pemilihan untuk pertama kalinya pemerintahan FMLN di dalam sejarah El Salvador menunjukkan sebuah hasrat mendalam dari rakyat untuk perubahan radikal. Tetapi para pemimpin reformis tidak memiliki solusi untuk krisis ini, yang hanya bisa diselesaikan dengan cara revolusioner, melalui penyitaan tanah, bank, dan titik-titik kunci di dalam ekonomi.
Di Nikaragua, Guatemala atau El Salvador, krisis kapitalisme adalah sebuah bencana. Ketika buruh imigran di AS dipecat, mereka tidak dapat mengirim uang kembali ke keluarga mereka. Ini adalah sebuah bencana sosial untuk seluruh wilayah ini. Ini menjelaskan gejolak-gejolak di Honduras di mana permasalahan kekuasaan terpampang. Ada gejolak-gejolak serupa yang terjadi di semua negara di Amerika Tengah. Negara-negara ini terlalu lemah dan kecil untuk bersaing dengan ekonomi-ekonomi kapitalis yang kuat, terutama Amerika Utara yang mencekik mereka.
Krisis di AS telah menyebabkan anjloknya permintaan barang-barang dari wilayah ini, dan para buruh migran dari Amerika Tengah yang menyediakan tenaga kerja murah untuk ekonomi AS selama boom ekonomi adalah yang pertama dipecat dalam resesi. Anjloknya remitan dari buruh-buruh imigran ini merupakan bencana untuk Amerika Tengah.
Gerakan massa Honduras yang luar biasa, yang berlangsung selama lima bulan, tidak dapat dihentikan oleh represi, jam malam, dan pembunuhan. Situasi di Honduras adalah produk langsung dari situasi dunia yang menggabungkan revolusi dan konter-revolusi di sebuah ekonomi terbelakang yang didominasi oleh imperialisme. Tidak mampu mengembangkan ekonomi Honduras karena ketertundukan mereka pada imperialisme, kaum kapitalis lokal juga tidak mampu mengijinkan demokrasi sekecil apapun di negara tersebut. Tuntutan Majelis Konstituante, di mata rakyat, tampak sebagai sebuah cara untuk mengekspresikan diri mereka dan sebagai satu cara untuk menyelesaikan kebutuhan-kebutuhan mereka yang urgen. Perkembangan situasi di Honduras adalah sebuah demonstrasi dari kebenaran teori Revolusi Permanen dan program transisional. Ini menunjukkan potensi revolusioner besar yang ada di semua negara di Amerika Latin. Di hari-hari sebelum dan menyusul kembalinya Zelaya secara rahasia ke Honduras pada bulan September, rakyat dapat merebut kekuasaan dan menumbangkan kediktaturan dengan cara revolusioner. Akan tetapi, kebimbangan dari kepemimpinan Front Perlawanan dan Zelaya sendiri pada momen-momen yang penting berarti hilangnya kesempatan ini. Sekali lagi, masalah kepemimpinan adalah kunci. Namun, situasi ini belumlah terselesaikan, walaupun sekarang ini terkendali, dimana perlawanan rakyat mendorong situasi internasional yang dilalui oleh Amerika Latin.
Semua seksi kelas penguasa – termasuk Obama – tersatukan dalam ketakutan mereka akan penumbangan revolusioner rejim Honduras. Pada akhirnya, melalui trik, diplomasi dan penipuan, mereka semua mendapatkan apa yang mereka inginkan: kaum oligarki dan teman-teman mereka di Washington berhasil mendapatkan “legitimasi” untuk kudeta mereka melalui pemilu yang palsu. Secara tipikal, Obama mundur di bawah tekanan dari sayap kanan, menjatuhkan keberatan dia terhadap kudeta dan mengatakan bahwa pemilu ini mewakilkan “restorasi demokrasi”. Detil kecil ini mengungkapkan karakter Obama yang sesungguhnya dan kebijakan-kebijakan “progresifnya”, di dalam dan di luar negeri.
Apa yang terjadi di Honduras dapat terjadi setiap negara di Amerika Tengah. Peristiwa di Honduras menunjukkan bahwa Revolusi Amerika Tengah adalah sebuah proses tunggal yang tidak dapat terpisahkan. Akan tetapi, bahkan di atas basis yang sehat, negara-negara Amerika Tengah tidak dapat menyelesaikan masalah-masalah mereka dalam isolasi. Bila revolusi ini ingin berhasil, Revolusi Amerika Tengah setidaknya harus terhubungkan dengan perspektif Revolusi Amerika Latin. Sebuah revolusi sosialis yang berhasil di salah satu negara ini akan memberikan sebuah dorongan yang kuat untuk revolusi sosialis, bukan hanya di Amerika Tengah dan Latin dan Karibia, tetapi juga di AS dan negara-negara kapitalis maju lainnya. Pada analisa terakhir, ini adalah satu-satunya jaminan untuk keberhasilannya.
Bolivia, Ekuador, dan Kolombia
Pemilihan kembali Evo Morales dengan suara yang meningkat menunjukkan dukungan yang besar dari massa untuk gerakan revolusioner. Pemerintah yang baru ini akan berada di bawah tekanan besar untuk menyelesaikan semua permasalahan krusial: pekerjaan, tanah, layanan kesehatan, dan pendidikan, yang kesemuanya tidak akan dapat diselesaikan secara serius dalam batasan kapitalisme.
Ini telah membuka sebuah periode perjuangan kelas yang tajam di Bolivia, yang belum terselesaikan, seperti yang telah ditunjukkan oleh konflik baru-bari ini antara pemerintah dengan gerakan buruh dan penduduk asli [Indian Amerika], dimana MAS telah memobilisasi gerakan petani dan borjuis kecil urban yang mengakibatkan dilontarkannya ancaman-ancaman terhadap markas dari serikat guru di La Paz. Meliha karakter unik dari MAS dan perkembangan revolusi Bolivia, hasil pertama dari mobilisasi terakhir ini bukanlah pergeseran pemerintahan ke arah kiri tetapi justru memperkuat tendensi bonapartisnya, yang mana kelompok-kelompok sektarian dalam cara mereka yang impresionis membingungkan ini dengan fasisme. Gerakan buruh pada gilirannya terus terjebak antara sektarianisme dan oportunisme, yang termanifestasikan dalam usaha-usaha dari setiap serikat buruh untuk meraih, dengan cara yang korporatis, bagian kekuasaan mereka di dalam kabinet pemerintah. Perspektif Bolivia tergantung dari kemampuan kaum buruh yang paling maju untuk menarik kesimpulan yang diperlukan, yang pada gilirannya bertautan dengan kemampuan kaum Marxis Bolivia untuk membangun hubungan yang kuat dengan kaum pelopor dan meyakinkan mereka akan perlunya sebuah alternatif revolusioner.
Bila kaum buruh Venezuela berhasil merebut kekuasaan, ini akan memberikan efek yang luar biasa pada revolusi di Bolivia dan terutama pada kelas buruh Bolivia. Berhadapan dengan gerakan massa revolusioner, kaum imperialis tidak akan bisa mengintervensi. Sebaliknya, mereka akan menghadapi gerakan massa oposisi di negaranya sendiri, yang akan membuat protes Perang Vietnam tampak jinak dalam perbandingannya. Akan tetapi, bila langkah-langkan menentukan tidak diambil, dan rakyat mulai letih akan perjuangan bertahun-tahun tanpa hasil yang jelas, perimbangan kekuatan akan berubah.
Revolusi Venezuela memiliki pengaruh yang kuat pada negara-negara tetangga seperti Bolivia dan Ekuador. Ekuador telah menutup pangkalan-pangkalan militer AS dan sekarang kaum imperialis sedang membangun militer mereka di Kolombia, yang telah memberikan mereka tujuh pangkalan militer. Ini merupakan ancaman bahaya bagi Revolusi Venezuela. Pada satu hari di masa depan, Washington akan mencoba merancang sebuah peperangan antara Kolombia dan Venezuela. Namun ini adalah sebuah strategi yang beresiko.
Rakyat Venezuela akan melawan seperti harimau untuk membela Revolusi, dan rejim Kolombia akan mendapati dirinya bertarung di dua front dengan pembaharuan permusuhan dari para gerilyawan, dan juga oposisi dari buruh Kolombia. Tidaklah jelas kalau imperialisme dapat memenangkan perang semacam ini, dan sebuah kekalahan militer dapat berarti akhir kapitalisme, bukan hanya di Venezuela, Bolivia, dan Ekuador, tetapi di Kolombia juga.
Brazil
Brazil adalah negara terbesar di Amerika Selatan, dengan populasi sekitar 190 juta. Ia telah mengalami pertumbuhan ekonomi yang signifikan semenjak Perang Dunia Kedua, dan terutama dalam 30 tahun belakangan ini. Dengan ini juga telah tumbuh proletariat Brazil, yang berakibat terbentuknya organisasi-organisasi buruh yang kuat, terutama federasi serikat buruh CUT yang beranggotakan 7 juta buruh, dan partai buruh PT dengan lebih dari satu juta anggota.
Ekonomi Brazil yang sebesar 1,75 trilyun dolar adalah lebih besar daripada India dan Rusia, dan pendapatan per kapitanya hampir dua kali lebih besar daripada Tiongkok. Penemuan cadangan-cadangan minyak yang baru juga diharapkan akan membuat negara ini menjadi salah satu produsen minyak mentah terbesar di dunia. Investasi asing (45 milyar dolar pada tahun 2008) adalah 3 kali lipat dibandingkan satu dekade lalu.
Tahun lalu Brazil terpukul oleh resesi dunia, menderita penurunan singkat pada kuartal ke dua (sebuah resesi -0,2% pada tahun 2009), tetapi sekarang diprediksikan akan tumbuh lebih dari 5 persen tahun ini, menurut sebuah survei dari institusi ekonomi ternama yang diterbitkan bulan Februari.
Lula meraih kemenangan besar pada pemilihan presiden 2002, dan terpilih lagi pada tahun 2006, memperpanjang jabatannya sebagai presiden hingga 1 Januari 2011. Pada akhir tahun ini, Brazil akan kembali ke bilik suara. Lula telah menjadi presiden yang paling populer di dalam sejarah Brazil baru-baru ini, tetapi ia tidak akan bisa ikut pemilihan lagi karena hukum Brazil melarang dia untuk menjadi presiden tiga kali.
Lula telah memerintah selama satu periode kenaikan ekonomi yang panjang (ledakan pertumbuhan ekonomi terbesar di Brazil dalam 30 tahun terakhir). Semenjak 2008, 8,5 juta pekerjaan telah tercipta dan program-program seperti bantuan sembako untuk keluarga miskin (Bolsa Familia) telah diimplementasikan. Ini telah menguntungkan sejumlah besar keluarga dan juga menjelaskan mengapa tingkat kepopuleran dia telah mencapai 82%.
Pada saat yang sama dimana kebijakan-kebijakan Bank Dunia telah dicanangkan, Lula belum membatalkan privatisasi yang dilakukan oleh pemerintahan sebelumnya dan juga serangan-serangan pada reforma-reforma sebelumnya. Dan pemerintahannya terus memprivatisasi jalan tol, dam listrik, hutan Amazon, jaminan sosial, dan layanan publik lainnya. Masih ada jurang yang besar antara orang kaya dan miskin. Kenyataannya, Brazil adalah sebuah negara dengan kontradiksi yang besar. Ia memiliki kota-kota moderen seperti Rio de Janeiro dan Sao Paulo, yang dapat dibandingkan dengan kota-kota di negara kapitalis maju, tetapi sepertiga populasinya tinggal di daerah kumuh (favela). Kontradiksi ini bahkan lebih besar ketika kita melihat kesenjangan antara daerah-daerah, dimana daerah Timur laut lebih mirip dengan kondisi kemiskinan “dunia ketiga”. Sebagian besar tanah dikontrol oleh latifundistas [tuan tanah besar] dan perusahaan kapitalis nasional dan multinasional. Ini telah menyebabkan lahirnya Gerakan Buruh Desa Tak Bertanah (MST) yang mengorganisir lima juta petani tak bertanah yang menuntut distribusi tanah.
Seperti yang dapat diharapkan, pemilihan Lula pada tahun 2002, dan pertumbuhan ekonomi dan reforma-reforma yang menyusul, telah memiliki efek sementara dalam mencapai sebuah perimbangan yang tidak stabil, semacam “perdamaian sosial”. Walaupun telah terjadi sejumlah pemogokan yang penting, secara umum tingkat konflik telah berkurang. Para buruh melihat pemerintah sekarang ini sebagai pemerintahan mereka. Ini adalah satu hal yang tidak dimengerti oleh kaum sektarian. Benar kalau partai ini telah terbirokratisasi, tetapi PT memiliki cadangan dukungan sosial yang besar. PT dibentuk oleh kelas pekerja Brazil dalam perjuangan buruh metal pada akhir 1970an dan awal 1980an. Ia memiliki akar yang dalam di kelas pekerja Brazil.
Kaum Marxis Brazil mendasarkan diri mereka dari fakta fundamental ini. Massa buruh masih melihat PT sebagai partai mereka. Popularitas besar Lula mengkonfirmasikan ini. Kenyataan bahwa kaum Marxis Brazil memenangkan lebih dari 3500 suara di dalam pemilihan internal PT dan memenangkan posisi di dewan nasional PT mengkonfirmasi bahwa di dalam partai ini ada lapisan buruh yang maju yang sedang mencari sebuah alternatif revolusioner. Di atas basis peristiwa-peristiwa, di atas basis pengalaman pemerintah PT dan gerakan kelas pekerja, pada satu tahapan tertentu sayap kiri di dalam partai akan menjadi kuat dan kaum Marxis akan dapat tumbuh dari proses ini. Mereka sudah mendapat posisi-posisi penting di serikat buruh kereta, kimia, dan buruh gelas. Mereka juga punya posisi sebagai anggota dewan PT di Sao Paulo dan Santa Caterina yang memberikan mereka gaung yang lebih luas di dalam gerakan buruh. Mereka juga dikenal luas di dalam gerakan buruh Brazil sebagai pemimpin Gerakan Pendudukan Pabrik, yang memberikan mereka otoritas di antara massa buruh. Semua ini menempatkan mereka dengan baik sebagai sebuah tendensi yang disegani  oleh banyak buruh dan membuka kesempatan-kesempatan yang besar di hari depan.
Dalam situasi ini, Kaum Marxis dari kelompok Esquerda Marxista yang merupakan sebuah tendensi di dalam PT sedang berjuang dalam basis Front Persatuan, dengan tuntutan bahwa Lula dan PT harus pecah dari kelas penguasan (pecahkan pemerintah koalisi dengan partai-partai borjuis), mendorong terbentuknya Pemerintahan Buruh, yang mendasarkan dirinya pada CUT dan MST dan organisasi-organisasi rakyat, yang harus menjalankan program anti-imperialis dan anti-kapitalis, mengimplementasikan aspirasi kelas buruh yang paling urgen di kota-kota dan pedesaan.
Argentina
Kendati pertumbuhan ekonomi yang signifikan pada 2003-2008, dengan rata-rata pertahun 8%, taraf kehidupan massa tidaklah meningkat secara substansial, dan walaupun kelas pekerja secara insting menolak politisi-politisi sayap kanan, pemerintahan Cristina Fernandez tidaklah membangkitkan antusiasme.
Aspek yang paling penting dari situasi ini adalah benturan frontal antara pemerintahan Cristina Fernandez de Kirchner dan kaum borjuasi. “Kirchnerisme” adalah sebuah varian politik dari Peronisme (populisme borjuis) – sebuah fakta yang membedakannya dari pemerintah-pemerintah serupa di Venezuela, Bolivia, dan Ekuador. Namun, kaum borjuasi tidak dapat mentolerir usaha pemerintah untuk mempertahankan semacam independensi. “Kirchnerisme” berusaha untuk membatasi tendesi predatoris dari modal-modal besar nasional dan imperialis, dan memberikan beberapa konsesi kepada rakyat pekerja, guna memenuhi kepentingan umum dari kapitalisme Argentina. Pada akhirnya, ini tidak membahagiakan kedua pihak.
Namun, untuk sekarang ini ketiadaan partai politik kelas buruh memberikan “Kirchnerisme” peluang untuk menggunakan demagogi kiri dan oleh karenanya tampak sebagai satu-satunya kekuatan yang dapat berdiri melawan kaum Kanan. Ini memberikannya dukungan dari cukup besar kelas pekerja yang melihat “Kirchnerisme” sebagai sesuatu yang lebih tidak buruk ketika dihadapi dengan bahaya kaum Kanan yang diwakilkan oleh kaum oposisi dan kebijakan mereka yang reaksioner.
Satu-satunya alternatif adalah untuk membentuk sebuah Partai Buruh, dan membawa perjuangan politik ke lapisan luas kelas pekerja, dimana sebuah tendensi Marxis dapat menyatukan sektor-sektor yang paling sadar dan maju. Ada elemen-elemen objektif dalam situasi iniyang dapat membentuk perspektif tersebut, seperti Proyecto Sur dan Constituyente Social. Proyecto Sur adalah sebuah gerakan politik yang didukung oleh kaum Peronis kiri, para pemimpin serikat buruh CTA, dan aktivis-aktivis kiri, dan mendapatkan 25% suara di pemilu-pemilu lokal di ibu kota Bueons Aires, dan mempresentasikan dirinya sebagai sebuah alternatif kiri dari Kirchnerisme. Constituyente Social adalah sebuah platform politik luas yang diajukan oleh serikat buruh CTA untuk menciptakan gerakan politiknya sendiri. Tetapi kemungkinan akan sebuah front antara Constituyente Social dan Proyecto Sur yang dapat mendorong terbentuknya sebuah gerakan politik atau partai rakyat pekerja, secara praktis telah menjadi mustahil karena pergeseran ke kanan oleh para pemimpin Proyecto Sur yang mencari basis dukungan dari kaum borjuis kecil dan bukan dari kelas buruh dan sedang membentuk persetujuan dengan pengejar karir politik dan kelompok-kelompok yang mayoritas ada di sebelah kanan dari Kirchnerisme. Ini mengasingkan ribuan militan, simpatisan, dan pendukung dari gerakan tersebut.
Masalah politik yang utama adalah komposisi borjuis kecil dari kepemimpinan Proyecto Sura dan ketidakteguhan dari para pemimpin seksi CTA yang merupakan bagian dari gerakan politik ini dan yang memimpin Constituyente Social.
Namun, CTA tetap merupakan satu front yang penting untuk kerja agitasi di seputar isu membangun sebuah partai buruh massa. Selain Constituyento Social, yang menyatukan para pemimpin serikat buruh reformis kiri dan ribuan kaum buruh yang maju di seluruh negeri, ada juga di sekitar CTA sebuah lapisan penting aktivis-akvitis serikat buruh yang anti-birokrasi yang akan memandang perspektif ini dengan antusiasme dan ketertarikan. Tekanan perjuangan kelas dan kelas pekerja pada satu saat akan mendobrak bendungan Peronis, karena perjuangan kelas adalah motor dari sejarah dan lebih kuat daripada aparatus-aparatus konter-revolusi.
Sekarang, inilah lapangan dimana tugas dari kaum Marxis adalah untuk berpartisipasi di setiap front massa yang mencoba menyalurkan aktivitas politik rakyat pekerja, dan disana untuk menjelaskan dengan sabar program sosialis, untuk menyediakan sebuah perspektif kelas, apapun kebimbangan, inkonsistensi, dan kebingungan dari para pemimpin insidental dari gerakan-gerakan ini.

















BAB 3. PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Faktor-faktor sejarah sangat mempengaruhi perkembangan negara-negara AmerikaLatin. Diantara sekian banyak faktor-faktor sejarah, yang terpenting adalah: penindasan asingselama tiga abad, adanya intervensi asing pada masa-masa sebelumnya, sewaktu, dan setelahtercapai kemerdekaan. Perjuangan merebut kemerdekaan dilakukan secara serta merta olehmasing-masing rakyat daerah jajahan, tanpa adanya koordinasi perjuangan antara satu daerahdengan daerah lainnya.
Nasionalisme mulai timbul pada masa-masa perjuangan kemerdekaan, dan lebih berkembang pada masa setelah kemerdekaan. Hal ini mempersulit adanya usaha-usaha ke arah pembinaan persatuan dan kerjasama regional.
Karena lamanya penjajahan Spanyol dan Portugal, pengaruh kebudayaan kedua negaraitu masih sulit untuk dihilangkan. Pada umumnya, Amerika Latin belum mengalami revolusikebudayaan, dalam arti secara revolusioner mengganti pola-pola dan sendi-sendi kebudayaanIberia dengan pola-pola dan sendi-sendi kebudayaan nasional.
Kecuali di Meksiko, Kuba, dan beberapa negara lain, revolusi sosial belum mengarah pada modernisasi. Elite pemerintah dan angkatan bersenjata umumnya masih dikuasai olehgolongan menengah, yang masih terlalu sering tidak mencerminkan kehendak sesungguhnyadari rakyat. Masalah tanah merupakan masalah permanen yang belum terselesaikan dengan baik



DAFTAR PUSTAKA

http://indira-a--fisip10.web.unair.ac.id/artikel_detail 48242MBP%20Amerika%20LatinPolitik%20dan%20Ekonomi%20Amerika%20Latin.html
http://id.scribd.com/doc/78921823/Makalah-Negara-Bangsa-Amerika-Latin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar