Sabtu, 24 Mei 2014

PENGARUH REVOLUSI AMERIKA BAGI BANGSA INDONESIA

PENGARUH REVOLUSI AMERIKA BAGI BANGSA INDONESIA 
(Disusun guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sejarah Amerika kelas B)




                                                      Oleh :
                          TINI HENDRAYATI        110210302024

   


                         PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
             JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
                FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
                                  UNIVERSITAS  JEMBER
                                                   2014

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Revolusi Amerika bermula dengan adanya kemerdekaan Amerika akan imperium Inggris.Puncak dari latar belakang revolusi Amerika adalah peristiwa Pembantaian Boston tahun1770 yang memakan lima orang korban sipil. Peristiwa tersebut menggambarkan betapa pemerintah kolonial Inggris telah memaksakan kehendaknya terhadap rakyat Amerika. Dicabutnya Townshend Act pada tahun 1770 dapat meredakan ketegangan. Namun demikian,kehadiran pasukan Inggris di daerah koloni yang mengawasi kegiatan perdagangan danmencegah terjadinya penyelundupan menimbulkan rasa tidak senang kaum kolonis. Kapal patroli Inggris Gaspee yang melakukan pengawasan di sekitar Rhode Island dibakar oleh kaum patriotdan membuat takut pejabat Inggris yang harta miliknya ikut hancur. Para juri koloni menolak bekerjasama dengan para pejabat kerajaan dalam mengakhiri perdagangan ilegal. Inggris mengeluarkan Undang-undang Teh yang memberikan hak monopoli kepadaEast India Companyuntuk melakukaneksport ke suluruh daerah koloni. Tindakan ini dibuat oleh kaum kolonis dengan cara memboikotseluruh produksi teh Inggris yang dikirim ke daerah koloni dan menganjurkan para agen untuk tidak menjual tehnya ke pasar Amerika serta mengirim kembali teh yang diterimanya ke Inggrisatau ditimbun di gudang. Banyak agen-agen dagang Inggris, yang mendapat dukungangubernur, yang menolak tuntutan kaum kolonis. Mereka memaksakan diri untuk menurunkan muatan kapal the Inggris di Pelabuhan Boston. Pada tanggal 16Desember 1773 kaum kolonis yang menyamar sebagai Indian Mohawk menaiki tiga kapalInggris yang akan berlabuh di Pelabuhan Boston dan segera menceburkan muatan teh ke laut.Peristiwa yang dalam bahasa kaum kolonis sebagai "Boston Tea Party" tersebut  sangat menjengkelkan Inggris.
Pada tahun 1774, diselenggarakan Kongres Kontinental yang dihadiri oleh delegasi-delegasi dari semua daerah koloni, kecuali Georgia. Kongres yang diselenggarakan di kotaPhiladeplhia dimaksudkan untuk merundingkan keadaan daerah koloni yang semakin memburuk.Akhirnya semua delegasi sepakat untuk mengeluarkan "Deklarasi Hak dan Keluhan"(Declaration of Right and Grievances) berupa pernyataan akan tetap setia kepada Raja dan tetapmenentang hak Parlemen Inggris untuk mengenakan pajak terhadap darah koloni Amerika.Kongres KontinentalKedua diselenggarakan tanggai 10 Mei 1775 menyepakatiperlunya dikirim pasukan ke Massachusetts untuk membantu kaum kolonis di sana danmenugaskan George Washington sebagai pemimpin pasukan Kontinental untuk memimpinpasukan ke Boston untuk melindungi kota yang sedang dikepung pasukan Inggris.Pada tanggal 7 Juni Richard henry Lee dari Virginia mengajukan resolusi yangmenyatakan persetujuan atas kemerdekaan dari Inggris. Kongres ini menghendaki adanya dukungan dan konsensus yang lebih luas, membentuk sebuah komite yang dipimpin olehThomas Jefferson untuk menyiapkan langkah-langkah rasional menuju pernyatan kmerdekaan.Kongres juga menyepakati usulan Richard Henry Lee tanggal 2 Juli 1776 dan mengesahkanpembacaan Deklarasi Kemerdekaan dua hari kemudian. Deklarasi kemerdekaan yang dibacakanoleh Thomas Jefferson tersebut berisi dua bagian. Pada pembukaannya, Jefferson menyatakanbahwa pada dasarnya pemberontakan atau gerakan merupakan hak alamiah umat manusia untuk mendirikan pemerintahan baru yang didasarkan atas keinginan warganya.  Bagian kedua yanglebih panjang berisi tuduhan terhadap Raja Inggris yang mengabaikan hak-hak khusus kaumkolonis, dan memprotes ikut campurnya pemerintahan raja dalam pemerintahan kolonial diAmerika.

1.2    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis menetapkan beberapa rumusan  masalah di antaranya adalah sebagai berikut.
1.    Bagaimana Awal MulaRevolusi Amerika?
2.    Apa Latar belakang Revolusi Amerika?
3.    apa Penyebab pecahnya perang kemerdekaan Amerika?
4.    bagaimana Proses Perang Kemerdekaan Amerika Serikat?
5.    bagaimana Penyusunan Konstitusi Amerika?
6.    bagaimana Pengaruh Revolusi Amerika bagi Dunia?
7.    bagaimana Pengaruh Revolusi Amerika bagi Indonesia?







1.3 Tujuan
Berdasarkan latar belakang di atas, maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1.    Untuk mengetahuiAwal Mula Revolusi Amerika;
2.    Untuk mengetahuiLatar belakang Revolusi Amerika;
3.    Untuk mengetahuiPenyebab pecahnya perang kemerdekaan Amerika;
4.    Untuk mengetahuiProses Perang Kemerdekaan Amerika Serikat;
5.    Untuk mengetahuiPenyusunan Konstitusi Amerika;
6.    Untuk mengetahuiPengaruh Revolusi Amerika bagi Dunia;
7.    Untuk mengetahuiPengaruh Revolusi Amerika bagi Indonesia.

















BAB 2. PEMBAHASAN
2.1Awal Mula Revolusi Amerika
Perang Revolusi Amerika (1775–1783) dikenal sebagai Perang Kemerdekaan Amerika. Revolusi Amerika adalah sebuah perang yang terjadi antara Britania Raya dan para pendukung revolusi dari 13 koloni Britania di Amerika Utara. Ke-13 koloni itu adalah koloni New Hampshire, koloni Massachusetts, koloni Rhode Island, koloni Connecticut, koloni New York, koloni New Jersey, koloni Pennsylvania, koloni Delaware, koloni Maryland, koloni Virginia, koloni North Carolina, koloni South Carolina, dan koloni Georgia. Perang yang kemudian meluas ke luar Amerika Utara Britania (British North America) ini berakhir dengan dihapuskannya kekuasaan Britania terhadap ketiga belas koloni tersebut dan dibentuknya negara Amerika Serikat.
Istilah Perang Revolusi atau Revolusi Amerika juga sering digunakan untuk merujuk pada peristiwa ini, meski yang terakhir juga termasuk perkembangan politik dan sosial sebelum dan sesudah perang tersebut. Latar Belakang terjadinya disebabkan karena Perang Tujuh Tahun antara Britania Raya dan Perancis (1756-1763) memperebutkan Quebec yang dimenangkan oleh Britania.
2.1.1    Pembentukan Koloni di Amerika
Sebenarnya pembentukan koloni telah dimulai oleh Columbus pada pelayaran kedua tahun 1493, yaitu dengan mendirikan perkampungan di Hispaniola (Haiti). Namun, perkampulan itu terbengkalai akibat terjadinya pembangkangan para awak kapal.Selanjutnya pembentukan koloni di Amerika Utara dirintis oleh Jaques Cartier. Ia mendirikan perkampungan di Quebec tahun 1541, dekat perkemahan suku Ironquis. Koloni berikutnya adalah koloni Roanoke yang didirikan Sir Walter Raleigh tahun1587. Kedua koloni tersebut tidak dapat dipertahankan, akibat terjadi perselisihan dengan suku Ironquis.
Sejak kegagalan pendirian koloni di Amerika Utara itu, bangsa Eropa meragukan apakah Benua Amerika layak untuk dihuni. Dalam kondisi keraguan itu, di Inggris bermunculan kongsi dagang yang berniat mendirikan koloni di Amerika. Mereka tertarik oleh kekayaan alam di Amerika Utara, yang menurut mereka sangat menguntungkan bagi investasi (penanaman modal). Melihat hal itu, Parlemen Inggris memberikan hak penuh kepada kongsi dagang yang ingin menanamkan modal dan membentuk koloni. Koloni Perancis meliputi daerah dari aliran sungai Missisipi di sebelah selatan dan anak sungainya sampai dengan Kanada. Sementara Inggris menguasai daerah yang berbatasan dengan lautan Atlantik di sebelah timur dan pegunungan Alleghary di sebelah barat. Koloni Inggris di utara berbatasan dengan koloni Perancis dan sebelah selatan berbatasan dengan koloni Spanyol (di Florida).
Koloni di Amerika yang dirintis oleh para kongsi dagang dimulai dari sebelah timur. Adapun koloni-koloni yang berdiri sebelum Revolusi Amerika adalah sebagai berikut.
    Virginia
Koloni ini didirikan pada tahun 1607 oleh kongsi dagang Inggris bernama Virginia Bay Company. Nama Virginia diambil sebagai penghormatan kepada Ratu Elizabeth I, yang berjulukan Virgin Queen. Gubernur pertama Virginia adalah Sir Thomas Dale. Ia memerintah seperti militer. Gubernur berikutnya adalah Sir Goerge Yeardley. Pada masa pemerintahannya didirikan dewan perwakilan dengan nama House of Burgesses. Tahun 1624, pemerintah Inggris mengambil alih Virginia, setelah koloni itu dilanda berbagai masalah dari tahun 1619 sampai dengan 1624. Masalah itu diantaranya adalah bangkrutnya Virginia Company, epidemi, serangan suku Indian, dan masalah sosial akibat aksi protes atas pemberlakuan pajak.
    Maryland
Tahun 1632 di sebelah utara Virginia, Lord Baltimore, mendirikan koloni bernama Maryland. Nama tersebut diambil dari nama Ratu Perancis bernama Henrietta Maria. Sejak awal berdirinya koloni ini berkembang pesat. Keluarga Baltimore menduduki posisi penting dalam pemerintahan, karena koloni ini dikelola oleh perusahaan pereseorangan. Posisi penting tersebut berakhir sampai tahun 1715, setelah terjadi perubahan kekuasaan di Kerajaan Inggris. Sejak tahun itu pula, Maryland diambil alih oleh pemerintah Inggris. Meskipun demikian, keluarga Baltimore tetap memiliki hak istimewa.
    New England
Koloni ini dirintis oleh William Bradford sebagai pemimpin kelompok pelarian gereja Anglican Inggris. Nama koloni pada awalnya Plymouth. Dalam perkembangannya koloni ini secara bertahap mengalami perkembangan dalam bidang ekonomi. Sedangkan keadaan politik cenderung stabil setelah terjadi perjanjian damai antara sesama kaum kolonis ataupun antara kaum kolonis dan suku Indian. Nama koloni Plymouth berubah setelah diambil alih oleh Massachusets Bay Company. Nama koloni baru itu adalah New England yang diusulkan oleh Kapten John Smith sebagai penghormatan terhadap dewan New England di Inggris yang telah memberikan izin pada kongsi tersebut untuk menanampkan usaha di Amerika Utara.
    New York
Pada awalnya koloni ini bernama Nieuw Amsterdam, sesuai dengan perintisnya, yaitu kongsi dagang Belanda 1624. Pada tahun 1664 diambil alih oleh Inggris dan namanya diganti dengan mana New York. Nama itu diambil sesuai dengan nama Duke of York yang berkuasa di Inggris dengan gelar James II.
    Pennsylvania
Koloni ini merupakan pengembangan dari koloni New York. William Penn merupakan perintis terbentuknya koloni ini. Penn mengembangkan semangat liberal di koloni in. Hal itu disebabkan karena ia penganut Quaker (salah satu sekte Kristen Protestan). Kebijakan yang bersifat liberal itu membuat Pennsylvania berkembang pesat.




Sepanjang tahun 1600 sampai dengan 1750 di Amerika Utara berdiri 13 koloni. Ketiga belas koloni itu:
1.    New Hampshire
New Hampshire merupakan sebuah negara bagian Amerika Serikat.Negara bagian ini terletak di bagian timurlaut.Pada tahun 2008, negara bagian ini memiliki jumlah penduduk sebesar 1.315.809 jiwa dan memiliki luas wilayah 24.217 km².Ibu kotanya adalah Concord.
2.    Massachusets
Koloni ini dinamakan atas nama populasi lokal, disebut Massachusett, yang berarti "sebuah tempat bukit besar". Para Pilgrim, yang tiba dengan kapal Mayflower, membangun tempat tinggal mereka di Plymouth tahun 1620. Mereka kemudian disusul oleh kaum Puritan, yang mendirikan Koloni Teluk Massachusetts. Meskipun kaum Puritan datang ke Massachusetts dengan tujuan kebebasan beragama, mereka tidak mempunyai toleransi terhadap agama yang lain dari mereka. Orang seperti Anne Hutchinson, Roger Williams, dan Thomas Hooker meninggalkan Massachusetts dan pergi ke Selatan karena kaum Puritan kurang memiliki toleransi beragama. Williams berakhir membangun koloni Rhode Island, sedangkan Hooker membangun Connecticut. Massachusetts adalah salah satu dari 13 koloni yang melaksanakan revolusi terhadap pemerintahan Inggris dalam Revolusi Amerika. Pada 9 Februari 1775 Parlemen Inggris menyatakan Massachusetts sebagai pemberontak dan mengirim pasukan tambahan untuk menjaga ketertiban. Seorang Afrika-Amerika bernama Crispus Attucks adalah salah seorang pertama terbunuh dalam revolusi Amerika, di Boston pada tanggal 5 Maret 1770, pada kejadian yang disebut Pembantaian Boston. Pada 6 Februari 1788 Massachusetts menjadi negara bagian keenam yang menentukan Konstitusi Amerika. Pada 15 Maret 1820 wilayah Maine dipisahkan dengan Massachusetts, dan menjadi negara bagian dengan hak sendiri.

3.    Rhode Island
Negara bagian Rhode Island dan Perkebunan Providence, adalah sebuah negara bagian Amerika Serikat.Negara bagian ini memiliki luas wilayah terkecil di antara negara-negara bagian yang ada di seluruh Amerika Serikat selain itu, Rhode Island berbatasan langsung dengan Connecticut dan Massachusetts.
4.    Connecticut
Connecticut merupakan sebuah negara bagian Amerika Serikat. Negara bagian ini terletak di bagian timurlaut. Pada tahun 2000, negara bagian ini memiliki jumlah penduduk sebesar 3.405.585 jiwa dan memiliki luas wilayah 14.356 km². Ibu kotanya adalah Hartford. Negara bagian ini memiliki angka kepadatan penduduk sebesar 702.9 jiwa/km². Lagu kebangsaan daerah ini adalah Yankee Doodle.
5.    New York
New York adalah sebuah negara bagian Amerika Serikat yang terletak di wilayah (region) antara Atlantik Tengah dan Timur Laut dari Amerika Serikat. Dengan 62 kelurahan (counties) menjadikan New York negara bagian yang berpenduduk nomor tiga terbesar di Amerika Serikat. New York berbatasan degan negara bagian Vermont, Massachusetts, Connecticut, New Jersey, dan Pennsylvania, dan berbagi perbatasan air dengan with Rhode Island seperti juga dengan perbatasan internasional dengan provinsi-provinsi Kanada, yaitu Quebec dan Ontario. New York memiliki lima kota besar, yaitu : New York City (kota terbesar di Amerika Serikat), Buffalo, Rochester, Yonkers, dan Syracuse. New York City dikenal dengan sejarahnya sebagai pintu gerbang para imigran untuk masuk ke Amerika Serikat dan statusnya sebagai pusat keuangan, budaya, transportasi, dan manufaktur. New York pada awal abad ke-17 didiami oleh Penduduk Asli Amerika, yaitu suku-suku Indian Algonquian, Iroquois, dan Lenape yang di saat bersamaan bangsa Belanda dan Perancis mulai memasuki wilayah ini. Pengakuan pertama dibuat oleh Henry Hudson pada tahun 1609, wilayah ini menjadi milik Belanda yang bergerak maju mendiami Fort Orange, dekat lokasi yang sekarang adalah ibukota New York, Albany, New York pada tahun 1614 dan pada tahun 1624 dijajah oleh Belanda, baik di Albany dan Manhattan; belakangan jatuh ke Inggris sewaktu direbut pada tahun 1664. Sekitar sepertiga pertempuran Perang Revolusi terjadi di New York. New York menjadi negara bagian independen pada tanggal 9 Juli1776 dan membuat Undang-Undang New York pada tahun 1777. Negara bagian New York disahkan dalam Undang-Undang Amerika Serikat pada tahun 1788, dan menjadi negara bagian ke-11.
6.    New Jersey
New Jersey adalah sebuah negara bagian yang terletak di wilayah Atlantik Tengah dan timur laut Amerika Serikat. Namanya diambil dari nama pulau Jersey di Selat Inggris. Negara bagian ini berbatasan di sebelah utara dengan New York, di sebelah timur dengan Samudera Atlantik, di barat daya dengan Delaware, dan di barat dengan Pennsylvania. Bagian-bagian dari New Jersey terletak di dalam wilayah metropolitanNew York dan Philadelphia. New Jersey dihuni oleh orang-orang Indian selama lebih dari 2.800 tahun. Pemukiman Eropa pertama di wilayah ini didirikan oleh orang-orang Swedia dan Belanda pada awal 1600-an.[4] Orang-orang Britania kemudian merebut wilayah ini, yang diberikan kepada Sir George Carteret dan John Berkeley, Baron Berkeley ke-1 dari Stratton sebagai koloni New Jersey. New Jersey adalah sebuah tempat penting selama Perang Kemerdekaan Amerika; beberapa pertempuran yang menentukan terjadi di sini. George Washington dua kali mendirikan markas musim dingin untuk tentara revolusinya di Morristown, yang disebut sebagai ibukota militer revolusi. New Jersey Journal, sebuah surat kabar yang diterbitkan oleh Shepard Kollock, yang mendirikan usaha penerbitannya di Chatham selama 1779, menjadi katalis dalam revolusi ini. Berita-berita tentang berbagai kejadian dikirim langsung ke Kollock dari markas besar Washington di Morristown yang tak jauh dari situ. Kollock menerbitkan semua itu untuk meningkatkan semangat para anggota pasukan dan keluarga mereka. Ia juga melakukan perdebatan yang hangat tentang upaya-upaya perjuangan kemerdekaan dengan mereka yang menentang dan mendukung perjuangan yang didukungnya. Belakangan, kota-kota kelas pekerja seperti Paterson dan Trenton membantu untuk mendorong Revolusi Industri pada abad ke-19. Posisi New Jersey di pusat megalopolisBosWash, antara Boston, New York City, Philadelphia, Baltimore dan Washington, D.C., mendorong perkembangannya yang cepat melalui ledakan suburbia paad 1950-an dan sesudahnya.
7.    Pennsylvania
Pennsylvania adalah sebuah negara bagian Amerika Serikat. Negara bagian ini terletak di bagian timur. Pada tahun 2008, negara bagian ini memiliki jumlah penduduk sebesar 3.642.361 jiwa dan memiliki luas wilayah 116.024 km². Ibu kotanya adalah Harrisurg. Negara bagian ini memiliki angka kepadatan penduduk sebesar 105,80 jiwa/km².
8.    Delaware
Delaware merupakan sebuah negara bagian Amerika Serikat. Negara bagian ini terletak di bagian timur. Pada tahun 2000, negara bagian ini memiliki jumlah penduduk sebesar 783.600 jiwa dan memiliki luas wilayah 6.452 km². Ibu kotanya adalah Dover. Negara bagian ini memiliki angka kepadatan penduduk sebesar 442.6 jiwa/km².
9.    Maryland
Maryland, adalah sebuah negara bagianAmerika Serikat. Singkatan pos ASnya adalah MD. Maryland adalah salah satu dari 13 koloni yang melakukan revolusi terhadap pemerintahan Britania dalam Revolusi Amerika. Negara bagian ini berbatasan dengan Pennsylvania di utara (Garis Mason-Dixon), di barat dengan West Virginia, di utara dan timur dengan Delaware dan Samudera Atlantik, dan di selatan dengan Virginia.

10.    Virginia
Persemakmuran Virginia adalah sebuah negara bagian Amerika Serikat.Virginia adalah salah satu dari 13 jajahan Inggris yang memberontak dan menjadi pelopor Amerika Serikat. Daerah ini dinamakan menurut Ratu Elizabeth I yang ketika jajahan atau koloni ini didirikan belum menikah atau masih merupakan "Ratu Perawan" (Inggris: Virgin Queen). Pada masa-masa Perang Kemerdekaan sampai masa 50 tahun awal berdirinya Amerika Serikat, Virginia merupakan negara bagian paling penting.Pada masa Perang Kemerdekaan, Pemimpin besar Pasukan Kontinental Amerika adalah George Washington, seorang dari Virginia.Selain itu tokoh-tokoh lain dari pada masa itu Virginia adalah Patrick Henry di Legislatif.
11.    North Carolina
Carolina Utara (Inggris: North Carolina) adalah sebuah negara bagian Amerika Serikat yang terletak di pesisir Samudra Atlantik di bagian tenggaraAmerika Serikat. Negara bagian ini berbatasan dengan South Carolina dan Georgia di selatan, Tennessee di sebelah barat dan Virginia di utara. Carolina Utara mempunyai 100 kabupaten dan beribukota di Raleigh. Carolina Utara adalah salah satu dari Ketigabelas Koloni pertama, dahulunya dikenal sebagai Carolina. Joara, sebuah desa berpenduduk asli Amerika dekat Morganton sekarang. Pada 1567 negara bagian ini menjadi lokasi Fort San Juan, pemukiman kolonial Spanyol yang pertama di pedalaman dari apa yang kemudian menjadi Amerika Serikat.[2] Negara bagian ini juga merupakan lokasi koloni Inggris pertama di benua Amerika. Pada 20 Mei1861, Carolina Utara menjadi yang terakhir dari negara-negara Konfederasi yang memisahkan diri dari Uni. Ia diterima kembali pada 4 Juli1868. Negara bagian ini adalah lokasi dari penerbangan yang berhasil dari pesawat pertama yang ditumpangi manusia, oleh Wright bersaudara, di Kill Devil Hills dekat Kitty Hawk pada 1903. Kini, Carolina Utara menjadi negara bagian yang berkembang cepat dengan ekonomi dan populasi yang kian beragam.[4] Pada 1 Juli2007, populasinya diperkirakan berjumla 9.061.032 (meningkat 12% sejak 1 April2000).[5] Carolina Utara mengakui delapan suku Amerika Asli, sehingga memiliki populasi Indian terbesar jumlahnya dibandingkan dengan negara bagian manapun di timur Mississippi. Carolina Utara mempunyai ketinggian yang sangat berbeda-beda, dari permukaan laut di pesisir hingga hampir 2.042 m di daerah pegunungan. Iklimnya merentang dari Tidewater di pantai dan Piedmont hingga pegunungan barat. Dataran pantai sangat dipengaruhi oleh Samudra Atlantik. Kebanyakan wilayah negara bagian ini berada dalam wilayah subtropis yang lembap. Lebih dari 500 km dari pantai, bagian pegunungan di sebelah barat negara bagian ini mempunyai iklim benua lembap.
12.    South Carolina
Carolina Selatan (bahasa Inggris: South Carolina) merupakan sebuah negara bagian Amerika Serikat. Negara bagian ini terletak di bagian timur. Pada tahun 2008, negara bagian ini memiliki jumlah penduduk sebesar 4.479.800 jiwa dan memiliki luas wilayah 77.982 km². Ibu kotanya adalah Columbia. Negara bagian ini memiliki angka kepadatan penduduk sebesar 55,37 jiwa/km².
13.    Georgia
Georgia merupakan sebuah negara bagian Amerika Serikat. Negara bagian ini terletak di bagian tenggara. Pada tahun 2000, negara bagian ini memiliki jumlah penduduk sebesar 8.186.453 jiwa dan memiliki luas wilayah 153.909 km². Ibu kotanya adalah Atlanta. Negara bagian ini memiliki angka kepadatan penduduk sebesar 54,59 jiwa/km².
Koloni-koloni tersebut dalam pembentukan negara Amerika Serikat nanti sangat menentukan dan menjadi inti negara.
Pada awal abad ke-17, pembentukan koloni di Amerika Utara dirintis oleh Inggris. Sementara pada akhir abad ke-17, negara Eropa lainnya mulai melakukan perpindahan ke Amerika. Migrasi secara besar-besaran terjadi di wilayah Eropa daratan, Skotlandia, dan Irlandia. Di Amerika mereka bergabung dengan bangsa Inggris yang telah mendahuluinya. Pertemuan dan perpaduan budaya antara mereka melahirkan satu ciri khas bangsa Amerika yang berbeda dengan Inggris. Selain itu tiap koloni berhak untuk membuat hukum sendiri, melakukan perjanjian dengan penduduk setempat, dan menunjuk gubernur sendiri sebagai pemimpin pemerintahan. Sebagai sumbangannya, tiap koloni harus membayar pajak penghasilan pada pemerintah Kerajaan Inggris. Koloni-kolini di Amerika berkembang menurut kekhasannya masing-masing dan otonom. keadaan itu pada akhirnya menjadi penyebab bangsa Amerika melakukan revolusi.
Terjadinya Revolusi di Amerika berawal dari terjadinya imigrasi orang-orang Inggris ke Amerika Utara. Imigrasi orang-orang Inggris ini disebabkan karena pada abad ke 17, di Inggris terjadi penindasan terhadap golongan yang tidak mau menganut agama "Anglican" yang merupakan agama resmi dari kerajaan inggris ajaran agama Anglican ini menyatakan bahwa "Raja Inggris sebagai Tuhan di bumi", golongan yang tidak mau menganut agama Anglican ini banyak yang keluar dari agama tersebut dan ingin kembali kepada agama Kristen Murni, golongan ini disebut golongan "Puritan".
Revolusi Amerika merupakan perang kemerdekaan Amerika untuk lepas dari Inggris. Di mana di Eropa tahun 1618-1648 berkecamuk perang agama 30 tahun yang meluas menjadi pertentangan antara negara-negara yang menganut agama Kristen Protestan dengan negara-negara yang menganut agama Katolik.
Di Perancis perang agama antara golongan protestan yang disebut kaum "Hugenot" melawan pemerintah Raja Perancis yang beragama Katolik, dan Raja menyatakan bahwa agama Katolik merupakan agama resmi negara.Hal-hal inilah yang menyebabkan timbulnya perpindahan penduduk-penduduk Eropa ke Amerika Utara, mereka ingin bebas menentukan agamanya sendiri dan ingin melepaskan diri dari penindasan golongan Raja dan Bangsawan. hal inilah para Imigran di Amerika membangun sebuah monumen yaitu patung kebebasan di pintu gerbang masuk Pelabuhan New York.
Setelah bangsa Eropa menetap di Amerika Utara, mereka kemudian mendirikan koloni-koloni disana, yang paling banyak mendirikan koloni adalah inggris. kata kolonil sendiri berasal dari bahasa latin "colonia" yang artinya tanah, tanah pemukiman atau jajahan. Menurut catatan sejarah, sistem koloni sudah muncul pada zaman Yunani Kuno. dalam sejarah perkembangan koloni, politik kolonial modern mulai tumbuh semarak sejak abad ke-16. Cikal bakal politik kolonial modern adalah berbagai penemuan besar yang dilakukan oleh pedagang bangsa Barat (Eropa). Mereka haus dengan nama Besar, Kejayaan dan Kekayaan. bangsa yang dapat disebut sebagai Kolonisator pertama adalah bangsa Portugis dan Spanyol. Pada abad ke-17 muncul bangsa Inggris, Perancis dan Belanda yang menguasai sebagian Amerika Utara, Hindia Barat, Hindia Muka (Daerah Asia Selatan) dan Hindia Timur (Hindia Belanda).
Pada tahun 1756-1763 Inggris berperang melawan Perancis yang terkenal dengan perang 7 tahun, berakhir dengan kemenangan Inggris atas Perancis sehingga sehingga berakibat untuk mengembangkan koloni-koloni di Amerika. Sikap koloni-koloni terhadap Inggris saat perang berlaangsung ialah mendukung Inggris sepenuhnya, baik secara ekonomi maupun militer.Sedangkan Imigran Perancis menjelajah daerah Canada dan Misisipi. Koloni yang pertama adalah Virginia (Jamestown) terkenal dengan produk pertanian dan perkebunan tembakau. Tiap-tiap koloni menyusun peraturan sendiri-sendiri untuk kepentingan mereka, juga memilih pemimpin-pemimpin mereka dan dewan-dewan rakyat.
Dengan demikian asas-asas kebebasan kemerdekaan, persamaan dan sendi-sendi demokrasi berkembang dengan subur di Amereika Utara. Kaum koloni di Amerika Utara sangat memperhatikan pendidikan, Lembaga pendidikan yang telah tua adalah Harvard Collage dan Yale Collage. Setelah daerah koloni di Amerika Utara berkembang, Raja Inggris menghendaki agar hubungan jangan sampai terputus, untuk itu Raja Inggris mengangkat dan menempatkan seorang Gubernur ditiap-tiap daerah koloni dan mulai membuat peraturan-peraturan untuk kepentingan Kerajaan Inggris. Perusahan dagang besar Inggris EIC mulai menguasai seluruh daerah koloni Inggris di Indian, sedangkan Hudson by Company didaerah Kanada dan Amerika Utara.
Banyaknya pertentangan yang terjadi di Amerika tidak terlepas dari pertentangan politik yang terjadi di Eropa antara kedua negara tersebut. Pertentangan politik berubah menjadi peperangan yang dikenal dengan Perang Tujuh Tahun (1756-1763). Peperangan di Eropa terjadi pula di daerah koloni, antara koloni Inggris dan koloni Perancis. Perang selama tujuh tahun tersebut dimenangkan oleh Inggris pada tahun1763.

2.1.2     Pertentangan Antarkoloni
Perang tujuh tahun antara Inggis dan Perancis, walaupun dimenangkan Inggris, tetapi harus dibayar dengan biaya yang tinggi. Untuk mengisi kekosongan kas negara dalam rangka pembangunan Inggris, pemerintahan Inggris membebankan biaya-biaya tersebut kepada daerah-daerah koloni di Amerika Utara. Mereka dipungut berbagai macam pajak tanpa melalui perundingan. Pajak tersebut terhinpun dalam berbagai aturan, seperti Sugar Act (1764) atau Undang-Undang Gula, Stamp Act (1765) atau akta materai yang berisi segala bentuk dokumen, surat kabar, dan barang-barang lainnya yang dikenai bea materai. Beberapa tahun kemudian muncul aturan Townshend Acts yang merupakan pajak impor untuk timah, cat, kertas, gelas, dan teh. Tahun 1774 dikeluarkan Tea Act atau akta teh. Dengan aturan itu kas pemerintah Inggris semakin cepat terisi dan beban negara itu semakin ringan karena pajak dibebankan kepada koloni-koloni.
Namun, hal itu dianggap sewenang-wenang dan melanggar hak kebebasan rakyat koloni di Amerika. Maka muncul reaksi terhadap pemerintah Inggris di daerah koloni. Para kolonis mendengungkan semboyan "No Tax Without Representation" (tidak ada pajak tanpa perwakilan). Tuntuan kaum kolonis tidak didengar oleh pemerintah Inggris yang bersifat kolot. Hal itu jelas menggores hati nurani kebebasan individu yang selama ini dipegang oleh rakyat koloni. Kelompok yang paling keras menentang adalah "Sons of Liberty" (Putra-Putra Kebebasan) yang dipimpin oleh Samuel Adams.
Hal lain yang menjadi ketegangan pemerintah Inggris dengan kaum koloni di Amerika adalah adanya aturan pemerintah Inggris yang mengharuskan rakyat kolonis membeli teh dari pemerintah Inggris dengan harga tinggi. Aturan itu menurut kaum kolonis, bertentangan dengan kebebasan ekonomi yang mereka anut. Reaksi keras dipimpin Samuel Adams terhadap aturan pemerintah Inggris tersebut terjadi di pelabuhan Boston, kaum kolonis menyamar sebagai pekerja Indian untuk membongakar peti-peti yang berisi teh. Akan tetapi para pekerja itu membuang teh kelaut bagaikan sebuah pesta. Peristiwa itu dikenal sebagai "The Boston Tea Party" atau peristiwa Boston 1773.
Pada tahun 1787, konstitusi AS disahkan diseluruh Negeri. Sejak pernyataan kemerdekaan 4 Juli 1776, peperangan semakin meluas hampir diseluruh daerah koloni yang meliputi 13 negeri itu. George Washington brhasil mematahkan pasukan kolonial Inggris, sementara Benyamin Franklin meminta dukungan negara-negara Eropa terhadap perjuangan Kemerdekaan Amerika. Pada tanggal 19 Oktober 1781 satu brigade tentara Inggris sebanyak 8000 orang yang dipimpin oleh Jendral Cornwallis menyerah kepada pasukan Washington di Yorktown.
Berita kemenangan ini tersiar ke Eropa dan akhirnya parlemen Kerajaan Inggris memutuskan untuk menghentikan peperangan. Pada tahun 1783 pemerintah Kerajaan Inggris akhirnya mengakui kemerdekaan Amerika yang meliputi ke 13 daerah koloni. Dengan selesainya masa Revolusi bersenjata tahun 1776-1783 maka negara baru Amerika mulai menyusun Konstitusi dan Pemerintahan Nasional Amerika yang merdeka dan berdaulat.
Pada tahun 1876 Perancis memberikan sebuah Patung Kebebasan kepada Amerika yang diberi nama Patung Liberty. Patung ini di desain oleh pemahat Perancis yaitu Frederic-Auguste Bartholdi. Patung Dewi Kemerdekaan tersebut dipersembahkan oleh rakyat Prancis kepada rakyat Amerika, sebagai hadiah ulang tahun kemerdekaan Amerika yang ke-100. Bagian dalam patung ini diisi oleh rangka baja, sementara bagian luarnya dibuat dari plat tembaga. Rangka baja patung Liberty, dibuat dan dirancang oleh Gustave Eiffel, orang yang juga merancang dan membangun Menara Eiffel.
Patung Liberty adalah sebuah karya monumental seni pahat yang melambangkan kebebasan bagi seluruh dunia. Nama patung ini sebenarnya adalah “Liberty Enlightening the World” atau Liberty yang menyinari dunia. Patung ini di gambarkan sebagai seorang wanita yang sedang membebaskan diri dari belenggu tirani dengan tangan kanan yang memegang sebuah obor dengan api yang menyala, ini melambangkan kebebasan. Sementara tangan kirinya memegang sebuah buku dengan tulisan “July 4, 1776” (dengan angka Romawi), hari kemerdekaan Amerika. Dia mengenakan jubah yang menjuntai dan 7 bayangan dari paku besar pada mahkotanya melambangkan 7 samudra dan benua.
Awalnya, patung Liberty di buat sebagai monumen untuk mengingatkan adanya aliansi yang pernah terjadi antara Perancis dan Amerika selama terjadinya Revolusi Amerika (1775-1783). Patung ini di deasin oleh pemahat Perancis, Frédéric-Auguste Bartholdi dan selesai pada bulan Juli 1884. Rakyat Perancis menyumbangkan uangnya untuk membangun patung ini. Pemerintah Amerika sendiri membangun landasan untuk patung ini dari dana yang di himpun oleh pengusaha surat kabar yang bernama Joseph Pulitzer.

Tokoh perintis kolonialisme ke Amerika:
a. Pilgrim Fathers [dgn kapal May Flower, untuk mencari kebebasan]
b. Viking [Eropa Utara: Norwegia, Swedia, Denmark]
- Eric Ericson-->Greenland
-Thorfin Karlsefni-->Novia Scotia
c. Spanyol: Christopher Columbus
d. Perancis:a. Samuel de Champlain : Kanada b. Ibervillw : Missisipi
e. Inggris a. Raligh :Virginia b. Calvert :Marylan c. Hudson+Minuit: New york

2.2 Latar belakang Revolusi Amerika
1.Adanya pertentangan penduduk koloni dengan penduduk negeri induk yang menginginkan kebebasan
2. Kurang rasa patriotisme terhadap tanah kelahirannya di Eropa
Koloni-koloni Amerika dibebani berbagai macam pajak oleh pemerintah Inggris, tetapi mereka tidak mempunyai perwakilan dalam parlemen Inggris sehingga mereka merasa diperlakukan sebagai tempat jajahan. Para koloni itu protes bahwa mereka tidak akan membayar pajak apabila mereka tidak mempunyai wakil dalam parlemen.


Adapun beban-beban tersebut yaitu :
1. UU Gula tahun 1764 => Pajak gula yang tinggi yang diimpor dari Kuba, Puerto Rico, Bahama.
2. UU Materai tahun 1765 => Rakyat membayar pajak surat kabar, almanak, dokumen
3. UU Keuangan tahun 1751 => Melarang mencetak dan mengeluarkan mata uang sendiri.
4. UU Perumahan Militer tahun 1765 => Daerah-daerah koloni harus menyiapkan tempat tinggal bagi pasukan Kerajaan Inggris.
Akibat dari beban ini, seluruh lapisan penduduk yang meliputi 13 negeri menentang segala bentuk Undang-Undang, dan pada tahun 1772 Samuel Adamsdi kota Boston berhasil membentuk komite yang bertujuan untuk menggelorakan dan menyatukan perjuangan koloni-koloni di Amerika dalam Menghadapi Inggris.
Pada suatu malam bulan Desember tahun 1773, sekelompok pejuang menyamar sebagai pekerja-pekerja suku Indian, kemudian mereka memasuki ketiga buah kapal Inggris yang sedang berlabuh di Boston dan membuang karung-karung teh muatan kapal itu kedalam laut dan sebagiannya di bakar dan memusnahkannya. Peristiwa ini menimbulkan kemarahan yang hebat bagi pemerintah dan parlemen Kerajaan Inggris dan segera mengeluarkan Undang-Undang parlemen yaitu :
1. Menutup pelabuhan Boston dan melarang adanya rapat.
2. Menangkap Samuel Adams sebagai pemimpin patriotic.

Ketika pasukan Inggris datang ke Kota Boston tahun 1775, terjadilah peristiwa berdarah antara Pasukan Inggris dan Pasukan Milis (sukarelawan kota Boston) dan inilah yang membakar dan mengobarkan perlawanan bersenjata diseluruh Koloni di Amerika.
Sementara itu sebagai realisasi terhadap Undang-Undang paksaan, wakil-wakil daerah koalisi menyelenggarakan kongres Continental I di kota Philadelpia yang menentang Undang-undang paksaan tersebut. Pada tahun 1775 diadakan
kongres Continental ke II di Philadelpia yang dihadiri oleh Samuel Adams, Thomas Jefferson, Benyamin Franklin, Thomas Paine, George Washington.
Hasil keputusan kongres tersebut adalah :
1. Koloni-koloni akan mengankat senjata melawan Inggris.
2. Mengankat George Washington menjadi panglima besar pasukan Milisi.
3. Juli tahun 1776 wakil-wakil dari ke-13 Koloni di Amerika menandatangani Piagam Deklarasi Kemerdekaan Amerika, lepas dari segala ikatan kekuasaan kolonial Kerajaan Inggris.
Pada tanggal 4 Juli 1776 merupakn puncak gerakan politik Revolusi Amerika untuk merebut Kemerdekaan dan melepaskan diri dari belenggu kolonial, penindasan dan penghisapan Inggris terhadap daerah-daerah kolonial di Amerika Utara. dan pada tanggal ini pulalah di Deklarasikan Kemerdekaan Amerika Serikat yang terkenal dengan sebutan "Declaration of Independence" yang disusun oleh Thomas Jefferson. isi dari Deklarasi ini adalah "Kita memegang Kebenaran ini menjadi terang sendiri bahwa semua orang diciptakan setara bahwa mereka dikaruniai oleh penciptanya dengan hak tertentu yang tak dapat diambil, diantaranya adalah Kehidupan, Kebebasan, dan Pencarian Kebahagiaan".
Revolusi Amerika melahirkan kekuatan baru yaitu kekuatan demokrasi dan azas persamaan derajt yang secara mendalam telah merubah dan membentuk cara hidup baru di Amerika. Revolusi Amerika melahirkan sebuah konstitusi (UUD) dengan menjunjung tinggi hak-hak azasi manusia.

Faktor utama penyebab Revolusi Amerika:
1.    Timbul paham kebebasan dalam bidang politik
2.    Timbul paham kebebasan dalam bidang perdagangan
3.    Pemungutan pajak yang tinggi. Pajak yang dituangkan dalam Revenue Act and Billeting Act [1764] menyebabkan kehidupan rakyat Amerika Selatan sengsara. Pelaksanaannya ditentang oleh Samuel Adam. Semboyannya:"No taxation with out representation" (tak akan ada pajak tanpa ada perwakilan di parlemen).
4.    Peristiwa "Boston Tea Party". Pembongkaran teh yang ada pada kapal
milik Inggris di Pelabuhan Boston yang dilakukan oleh orang-orang koloni.
Perjuangan melalui diplomatik: [Amerika merubah sifat perjuangannya karena buku Common Sense yang ditulis oleh Thomas Paine. Isinya penggugah semangat bangsa Amerika untuk menentang kekuasaan Inggris]
1. Kongres Philadelphia yang dihadiri oleh 13 negara bagian.
a.    Penandatanganan "Declaration of Independence" 4 Juli 1776. Disusun Thomas Jefferson
b.    Kongres Philladelphia II, Bgs Amerika tdk mengakui parlemen Inggris
2. Menyetujui pembentukan USA melalui penandatanganan "Articles of Convederate"
3. Menyatakan kepada dunia internasional tentang kemerdekaan Amerika yang dipimpin oleh Benyamin Franklin. Spanyol dan Prancis mendukung Amerika
Prancis dan Spanyol memberi dukungan pada Amerika, untuk membalas dendam terhadap Inggris atas kekalahan yang diderita dalam perang 7 tahun, juga ingin membuka hubungan dagang dengan Amerika.

Tokoh penyusun naskan deklarasi kemerdekaan Amerika:
1.    Thomas Jefferson : Declaration of Independence
2.    Thomas Paine : Mengarang Buku berjudul Common Sense
3.    George Washington : Presiden pertama
Tokoh perjuangan fisik:
1. George Washington : panglima besar tentara koloni
2. Samuel Adam : pemimpin pasukan persatuan koloni
3. Jend. Lafayette : Pimpinan Perancis
4. Jend. Burgoyne : Komandan pasukan Inggris
5. Jend. Cornwallis
* Inggris mengakui kemerdekaan Amerika melalui perjanjian Versailes [1783].
* Doktrin Monroe dicetuskan tahun 1823-1829. Intinya menyatakan bahwa Amerika tidak turutcampur terhadap urusan bangsa lain tapi juga tak mau dicampuri urusannya oleh bangsa lain


2.3    Penyebab pecahnya perang kemerdekaan Amerika
a.    Berkembangnya faham liberalisme (kebebasan) politik, yang ditunjukkan oleh sikap menentang pembayaran pajak tanpa perwakilan,
b.    Berkembangnya liberalisme (kebebasan) ekonomi, yang ditunjukkan oleh penolakan membeli teh dari pemerintah Inggris.
c.    Peristiwa The Boston Tea Party dianggap sebagai sebab khusus pecahnya Revolusi Amerika.
Peristiwa The Boston Tea Party, membuat pemerintah Inggris marah, kemudian menuntut ganti rugi yang besar dan melontarkan ancaman yang keras. Pihak kolonis tidak memperhatikan tuntutan dan ancaman Inggris tersebut. Ketegangan terjadi antara kedua belah pihak. pihak Inggris mendatangkan tentaranya dengan maksud mengamankan koloninya di Amerika. Sementara pihak koloni mempersiapkan diri dengan menggerakkan kaum pria. Mereka dikumpulkan untuk membela hak-hak asasi mereka sebagai orang yang merdeka.
Pada awal ketegangan dengan Inggris, permasalahan tersebut masih menjadi urusan koloni masing-masing. Belum terpikir untuk membicarakan masalah persatuan, apalagi kemerdekaan Amerika Serikat. Hal ini bisa kita mengerti, sebab seperti yang telah dijelaskan pada pembentukkan koloni, kaum koloni di Amerika terdiri dari berbagai karakter. Namun, pada saat nasib mereka sama diperlakukan tiidak adil oleh Inggris, maka mereka bersatu membuat sebuah kongres.
Dari ketiga belas koloni, ada empat tokoh yang sangat gigih mempersatukan kaum koloni untuk merdeka. Mereka adalah Thomas Jefferson, John Adams, James Wilson, dan Alexander Hamilton. Berkat mereka Kongres I berhasil diadakan di kota Philadelpia tahun 1775. Dalam kongres itu dinyatakan kesepakatan kemerdekaan. Kemudian Kongres II tanggal 2 Juli 1776, secara tegas mengambil sikap tidak akan mengakui kuasa Parlemen Inggris di Amerika dalam bentuk apapun.
Selanjutnya dalam Kongres III di Philadelpia tanggal 4 Juli 1776, kaum kolonis memproklamasikan kemerdekaan. Ini berarti 13 koloni Amerika lepas dari kekuasaan Inggris. Pernyataan kemerdekaan itu diwujudkan dalam sebuah Declaration of Independence. Rumusan isi naskah proklamasi kemerdekaan tersebut disusun oleh Thomas Jefferson. Naskah deklarasi kemerdekaan ditandatangani oleh 56 orang wakil dari 13 koloni. Tanda tangan pertama dari John Hancock. Saat itu menjabat sebagai ketua Kongres.
Kemudian pada bagian akhir deklarasi, mereka dinyatakan pertama kalinya secara resmi nama negara yang disebut United States of America (USA). Penamaan negara itu pun sebagai hasil dari pemikiran Thomas Jefferson.

Sebagian isi dari Declaration of Independence yang berkaitan dengan hak-hak asasi manusia tidak hanya berlaku di Amerika Serikat tetapi juga berpengaruh bagi negara lain di luar Amerika Serikat. Isi pernyataan kemerdekaan itu diantaranya adalah:
"We hold these truth to be selvident, that all men are created equal, that they are endowed by their Creator with certain an alienable right, that among these are life, liberty, and persuit of happiness ..."
(Bahwasanya kami berpegang kepada kebenaran ini dengan suatu keyakinan bahwa semua orang diciptakan dalam keadaan sama derajat, mereka diberkati oleh Pencipta-nya beberapa hak asasi yang tidak dapat diganggu gugat, bahwa diantara hak-hak asasi itu ialah hak untuk hidup, hak untuk merdeka, dan hak mencari kebahagiaan).
2.4    Proses Perang Kemerdekaan Amerika Serikat
Pertempuran pertama terjadi pada tanggal 19 April 1775. Dalam sejarah Amerika, peristiwa tersebut dikenal dengan sebutan Lexington Concord Raid. Pihak koloni dipimpin oleh seorang tuan tanah besar yang juga pernah menjadi panglima laskar koloni Inggris dalam perang tujuh tahun melawan Perancis, yaitu George Washington. Tokoh ini kemudian memimpin kaum kolonis menentang pemerintah Inggris. Perjuangan kaum kolonis tidak hanya dilakukan secara fisik akan tetapi dilakukan pula secara diplomasi. Salah seorang tokoh diplomasi adalah Benjamin Franklin.
Selama perang berlangsung, Benjamin Franklin menjadi duta keliling se Eropa untuk mendapat dukungan moril ataupun material. Pada saat datang ke Perancis, ia disambut rakyat Paris sebagai pahlawan kemerdekaan. Rakyat Perancis sangat simpati terhadap perjuangan rakyat koloni Amerika yang ditindas oleh Inggris. Disamping itu, pihak Perancis mempunyai perasaan dendam atas kekalahan dalam perang tujuh tahun.
Berkat perjuangan diplomasi Benjamin Franklin, perjuangan rakyat koloni Amerika mendapat bantuan dari Perancis dan Belanda. Bahkan Perancis mengirimkan pasukan dan senjata dibawah pimpinan Jendral Laffayette tahun 1778. Selain Perancis dan Belanda, yang mendukung perang kemerdekaan Amerika Serikat adalah Spanyol. Spanyol membantu kaum kolonis dengan maksud ingin merebut kembali Selat Gibraltar yang diduduki oleh Inggris tahun 1709.
Gabungan antara pasukan Perancis dan pasukan kaum koloni Amerika mengubah situasi perang. Pasukan Inggris semakin terdesak dan cenderung banyak bertahan. Akhirnya perang berakhir dengan kemenangan berada di pihak kaum koloni. Berakhirnya perang ditandai dengan menyerahnya pasukan Inggris tahun 1781, yang dipimpin Jendral Cornwallis kepada Jendral George Washington. Selanjutnya pihak Inggris menghentikan pertempuran,kemudian diadakan perjanjian damai di Versailles tahun 1783 yang isinya:
•    Inggris mengakui kemrdekaan 13 koloni di Amerika,
•    Inggris harus menyerahkan daerah jajahannya di Amerika kepada Amerika Serikat, kecuali Kanada,
•    Inggris harus membayar rampasan perang

2.5    Penyusunan Konstitusi Amerika
Setelah perjanjian Versailles ditandatangani, rakyat koloni Amerika mulai merasakan hidup di negara merdeka.Pada awal kehidupannya itu, kembali terjadi perbedaan.Setelah perang usai, terjadi perebutan bagian kekuasaan sebesar-besarnya.Ada 9 negara bagian yang menuntut kekuasaan sebesar-besarnya atau adanya pemerintahan negara bagiansyang sering disebut kelompok republikan.Kelompok ini dipimpin oleh Thomas Jefferson.Sementara yang menginginkan adanya pemerintahan pusat, 4 negara bagian dan sering disebut kelompok federalis.Kelompok ini dipimpin oleh Alexander Hamilton.
Pertentangan yang ada menyadarkan mereka tentang lemahnya aturan yang ada, yaitu Articles of Confederation. Undang-Undang tersebut belum mengatur cara-cara mengatur negara. Karena itu dilakukan perbaikan-perbaikan lewat sebuah pertemuan bernama Federal Convention. Pertemuan ini bertujuan untuk menyusun konstitusi negara Amerika Serikat. Dalam pertemuan ini bertujuan menyusun konstitusi negara Amerika Serikat. Dalam pertemuan ini kedua kelompok yang bertikai menyatakan sepakat. Akhirnya, tahun 1788 sidahkan Constitution of United States of America. Perancang isi konstitusi adalah James Madison. Konstitusi berisi 12 amandemen. Sepuluh amandemen berisi tentang pernyataan hak-hak pribadi (warga negara) dan negara bagian. Kesepuluh Amandemen itu disebut Bill of Right.
Hal penting lainnya dalam konstistusi itu adalah adanya pernyataan pemerintahan yang demokratis. Ini diperlihatkan dengan adanya wakil-wakil negara bagian dalam pemerintahan pusat. Kongres tersiri dari dua lembaga Senate (Dewan Legislatif) dan House of Representative (Dewan Yudikatif). Anggota Senate sebanyak 2 orang dan anggota House of Representative tergantung jumlah penduduk setiap negara bagian. Pemerintah pusat dipimpin oleh seorang presiden. Pada saat itu, semua wakil dengara bagian sepakat memilih George Washington sebagai presiden. Pahlawan perang kemerdekaan Amerika Serikat itu disumpah menjadi presiden tanggal 30 April 1789 di New York.
2.6Pengaruh Revolusi Amerika bagi Dunia
Revolusi Amerika Serikat memberikan dampak yang sangat berpengaruh terhadap dunia.Seperti yang kita ketahui, Amerika adalah negara adikuasa setelah mereka melakukan perang dingin dengan Rusia dan memenangi perang tersebut. Hal yang paling terlihat  adalah perekenomian dunia yang berpusat dan diunggui oleh Amerika. Terlihat dari terjadinya krisi ekonomi yang melanda  Amerika pada tahun 2010 yang akhirnya menyebabkan krisis dunia.
Dalam sosial-politik Amerika juga turut berperan penting terutama dalam perang yang terjadi pada Israel dan Palestina.Hal ini pun mendukung terjadinya aksi terorisme yang terjadi digedung WTC pada tanggal 11 September 2003.Selain hal tersebut, revolusi Amerika juga berpengaruh terhadap semangat juang meraih kemerdekaan terutama di negara-negara AsiaTenggara termasuk Indonesia.
Berkembangnya humanitarian, aliran yang menjujung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan demokratisasi, berpengaruh terhadap timbulnya gerakan anti-perbudakan atau abolisionist. Pada awalnya gerakan ini hanya didukung oleh kelompok Protestan yang tergabung dalam American Colonization Society  (1817) dan berusaha mengirimkan orang-orang kulit hitam kembali ke Afrika. Kelompok ini akhirnya mendapat dukungan dari golongan Gereka Avctngefis (Pencil) yang memandang perbudakan sebagai Iembaga yang merusak tatanan masyarakat Amerika.Kelompok ini berhasil mengirimkan sekitar 12.000 budak ke Republik Liberia, Afrika, tahun 1822.Program pengiriman budak tersebut tidak berjalan lancar yang disebabkan oleh timbulnya kecaman dari negara-negara bagian di Selatan yang menerapkan sistem tersebut. Pemimpin abolisionis baru,William Lloyd Garrison, yang menerbitkan koran anti-perbudakan, The Garrison (1831) berusaha meneruskan program pengiriman tersebut ke Afrika sambil terus mengecam system rasialis tersebut yang masih tetap dipertahankan di negara-negara bagian selatan. Usaha trsebut tidak banyak membawa hasil sampai meletusnya perang sipil tahun 1861-1867.
Dampak Revolusi Amerika  juga memberikan pengaruh besar pada pergerakan kebangsaan dan sistem politik di dunia.  Pertama, Revolusi Amerika memberi contoh bagi koloni-koloni lain bahwa mereka juga bisa memerdekakan diri dari negara penjajahnya.Nasionalisme yang terbentuk dari masyarakat yang terjajah menjadi kekuatan besar untuk berusaha berdiri menjadi negara sendiri dan menentukan nasib sendiri.Kedua, negara yang berbentuk republik dan demokratis menjadi alternative baru yang popular.pemerintahan yang legitimasinya berasal dari rakyat dan memberikan suaranya lewat badan perwakilan merupakan pilihan rasional yang disukai rakyat yang tertindas.  Banyak negara-negara baru yang bebas dari kolonialisme di kemudian hari menerapkan  bentuk ini.  Kini bentuk republic dianut oleh sebagian besar negara di dunia. Ketiga, frase “ all men are created equal” (semua mansusia diciptakan setara) yang tercantum dalam deklarasi kemerdekaan menjadi frase yang kuat dan terkenal di seluruh dunia.  Frase ini digunakan oleh berbagai pergerakan prsamaan hak di kemudian hari, sampai sekarang.Penghapusan kolonialisme, penghapusan perbudakan, gerakan feminisme yang menyuarakan kesetaraan laki-laki dan perempuan, serta gerakan hak asasi manusia berakar dari pernyataan ini.
jadi, dampak revolusi Amerika bagi dunia adalah :
1. Tersebarnya paham kebebasan dan kemerdekaan baik di Eropa maupun di seluruh Dunia.

2. Menjadi pendorong meletusnya Revolusi Perancis.

3. Memberi inspirasi timbulnya perang kemerdekaan Negara-negara Amerika Latin untuk menentang penjajahan Spanyol dan Portugis.

5.    “Declaration of Independence” (1776) yang di dalamnya berisi “human right” menjadi dasar tentang pernyataan hak asasi manusia dalam Piagam Perserikatan Bangsa-bangsa.

2.7Pengaruh Revolusi Amerika Bagi Indonesia
        Bagi Indonesia: Declaration of Independece 1776 yang berisi pengakuan tentang hak-hak asasi manusia ditambah pernyataan Presiden Wodrow Wilson tentang penentuan nasib sendiri nantinya:
a) Mempengaruhi perjuangan organisasi pergerakan kebangsaan di Indonesia. Terbukti, perhimpunan Indonesia mencantumkan asasnya: mengusahakan suatu pemerintahan Indonesia yang bertanggung jawab hanya kepada rakyat Indonesia.

b) Mempengaruhi penyususnan Teks Proklamasi Indonesia dan penyusunan Undang-undang Dasar 1945 terutama pembukaan alinea pertama: Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.

c) Langkah-langkah untuk mempertahankan kemerdekaan Amerika yang dilakukan melalui perjuangan fisik dan diplomasi nantinya untuk mempertahankan kemerdekaan. Misalnya melalui konfrontasi fisik (perang kemerdekaan) dan diplomasi ke Negara-negara Timur Tengah yang dipimpin H. Agus Salim.




BAB 3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Perang Kemerdekaan Amerika Serikat atau disebut juga Revolusi Amerika dilatar belakangi oleh beberapa faktor.Dari segi ekonomi dan politik, kekalahan Perancis dari Inggris pada Perang Perancis-Indian bukan hanya menyebabkan Perancis meninggalkan Amerika melainkan meninggalkan beban hutang nasional yang tinggi bagi kedua negara. Kondisi ini menyebabkan Inggris menetapkan beban pajak yang tinggi kepada Koloni Amerika untuk menambah pemasukan kas negara dan membiayai pasukan Inggris di Koloni Amerika dengan mengeluarkan kebijakan yang merugikan Koloni seperti Stamp Act,Declaratory Act, Townsend Act dan  Intolerable Act . Hukum perdagangan Inggris -Koloni juga tidak adil karena Koloni sering dirugikan. Dari segi politik, berbagai kebijakan yang dipaksakan Inggris tanpa persetujuan Koloni dianggap sebagai kebijakan inskontitusional karena Koloni tidak memiliki perwakilan di parlemen Inggris oleh karena itu memicu penentangan dan protes terjadi hampir di seluruh wilayah Koloni..Dari segi sosial, ditemukan bahwa aspirasi, protes dan penentangan rakyat Koloni tidak ditanggapi oleh George III sehingga mereka ingin melepaskan diri dari Inggris. Masyarakat Koloni sebenarnya merasa bahwa mereka adalah sama yaitu Englishmennamun diperlakukan berbeda dandianggap orang-orang taklukan. Dari segi politik, keluarnya Perancis dari Amerika membuat rakyat Koloni tidak lagi  bergantung kepada Inggris. Sedangkan sebab khusus Revolusi Amerika adalah peristiwa Boston Massacredan Boston Tea Party.Revolusi Amerika memberikan dampak yang penting bagi Amerika Serikat yaitu kemerdekaan dan kebebasan akhirnya yang diraihnya sehingga Amerika Serikat menjadi negara independen yang lepas dari kekuasaan penjajah yaitu Inggris.Revolusi Amerika untuk melepaskan diri dari Inggris telah menginspirasi beberapa bangsa di dunia untuk melakukan revolusi dan perlawanan terhadap penjajahan dan ketidakadilan.Berkat kemenangan Amerika Serikat pada Perang Kemerdekaan, nilai-nilai demokrasi dan republikan dapat terwujud dalam pemerintahan negara Amerika Serikat.





























DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku:
Sundoro, Hadi, Mohamad. 2012. Sejarah Amerika Serikat. Jember University Press: Perpustakaan Nasional.
Morris. B. Richard. 1960. Revolusi Amerika. Jakarta: PT Pustaka Rakjat
Sumber Internet:
http://ranggambojoarea.blogspot.com/2011/06/revolusi-amerika-serikat-cikal-bakal.html (24mei 2014)
http://perpustakaancyber.blogspot.com/2013/03/sejarah-revolusi-amerika-serikat-latar-belakang-dampak-akibat-tujuan-tokoh-peristiwa.html( 24 Mei 2014)
http://ithinkeducation.blogspot.com/2012/05/pengaruh-revolusi-amerika-serikat.html


AMERIKA LATIN SEBELUM PERANG DUNIA

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Amerika Latin mempunyai latar belakang sejarah yang tidak hanya banyak memperoleh pengaruh sistem politik dan kebudayaan Spanyol dan Portugal saja, namun juga oleh sistemBelanda, Inggris, dan Amerika Serikat. Amerika Latin merupa negara di belahan bumi baratsebelah selatan dan tenggara dari Amerika Serikat ang pernah dijajah oleh negara-negara Eropaterutama Spanyol dan portugal.
Secara geografis Amerika Latin memang merupakan sebuah benua sendiri karenaluasnya adalah sekitar 8 juta mil persegi atau dua kali luas Eropa. Dalam tahun 1973 penduduk Amerika Latin tercatat sekitar 305 juta jiwa dengan kenaikan rata-rata setiap tahunnya 4 %.Bahasa Spanyol tidak hanya digunakan untuk sebagian besar wilayah ini, tetapi merupakansuatu keharusan, karena umumnya bangsa-bangsa Amerika Latin kurang bergairah untuk  belajar bahasa Inggris.
Suku bangsa asli yang menghuni Amerika Latin adalah suku Indian. Diantara suku-suku bangsa Indian ini yang terkenal adalah suku Azteca, yang menghuni Meksiko Utara danTengah, suku Maya menghuni Meksiko Tenggara dan Amerika Tengah, dan suku Inca yang bermukim di Peru. Suku-suku bangsa lainnya yang terbesar di Amerika Latin, diantaranyaadalah suku Chibchas di daerah Bogota. Mereka telah pandai bercocok tanam, menggalitambang emas dan zambrud sera membuat garam dari batu tambang. Telah mengenal pulasistem tenun untuk pakaian, membuat alat-alat rumah tangga dari tembikar dan sistem perdagangan yang baik
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana masa Amerika Latin?
2. Bagaimana politik dan ekonomi Amerika Latin?
3. Bagaimana revolusi Amerika Latin?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana masa Amerika Latin.
2. Untuk mengetahui bagaimana politik dan ekonomi Amerika Latin.
3. Untuk mengetahui bagaimana revolusi Amerika Latin.















BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Masa Amerika Latin
Benua Amerika Latin pertama kali ditemukan oleh Columbus pada tanggal 12 Oktober 1492. Namun tidaklah seperti sebelum tahun 1517, dimana terjadi pendaratan yang pertamakali dari Francisco Hermandes de Cordoba di daerah Yucatan (4 Maret 1517).
Ekspedisi kedua dari Spanyol dipimpin oleh Juan de Grijalva pada tahun 1518,menyusuri pantai timur Meksiko sampai dekat Veracruz. Tetapi ekpedisi ini tidak membawa banyak pengaruh terhadap nasib Meksiko selanjutnya. Ekspedisi-ekspedisi yang terkenal dankemudian sama sekali mengubah peta politik Amerika Latin, sebenarnya dilakukan oleh empatorang, yakni Hernando Cortes, Francisco Pizarro, Jimenez de Quesada dan Pedro de Valdivia.
1.Hernando Cortes (Penjajahan atas Meksiko)
Cortes dilahirkan di Medellin di Spanyol 1485 yang dibesarkan oleh keluarganingrat, namun ia lebih suka mengembara daripada belajar di Universitas Salamanca yanghanya dikunjunginya selama dua tahun. Karena jiwa pengembaraannya, kemudian ia disuruholeh Velasquez mempimpin ekspedisi ke Meksiko. Pada usia 38 tahun, 18 November 1518Cortes berangkat menuju pantai timur Meksiko dengan selusin kapal, lebih dari 500 pelaut, persenjataan beberapa meriam, dan budak-budak belian. Di Cozumel pantai Yucatan, iamenemukan seorang pelaut Spanyol yang terdampar karena kapalnya pecah. Pada Maret1519 ekspedisi menuju pantai Tabasco. Disinlah Cortes kemudian bertemu dengan DonaMarina de Jaramillo yang dijadikan sebagai gundiknya.
2.Jimenez de Quesada (Penjajahan atas Colombia)
Ia lahir pada tahun 1499 di Cordoba Spanyol dari golongan bangsawan. Ia sangatingin belajar ilmu hukum, tetapi sama seperti halnya Cortes dan Pizzaro, ia lebih tertarik  pada ilmu petualangan. Tahun 1535 ia brlayar ke benua Amerika, datang di Santa Marta.Gubernur Fernando de Lugo membantunya dengan menugaskan mempimpin suatu ekpedisike selatan, yang dimulainya pada tanggal 6 April 1536.Ia memperoleh 6 buah kapal, 600 pasukan infanteri, 200 pelaut, 100 ekor kuda dan perlengkapan lainnya. Kapalnya menjelajah sungai Magdalena, sedang pasukan daratnya berusaha mendaki gunung-gunung di Colombia Tengah. Melalui perjalanan di hutan belantara yang sangat sulit ditempuh, angin dan hawa dingin mencekam, serbuan panah beracun dari suku Indian Chibcha, akhirnya hanya 166 orang yang selamat sampai datarandekat Bogota. Suku Chibcha yang sedang bertempur satu sama lain mudah dikuasainya.
Pada 6 Agustus 1538 ia membangun kota Santa Fe de Bogota. Dari sinilah selanjutnyadiperluas kekuasaan Spanyol. Kemudian ia kembali ke Santa Marta, lalu melaporkan hasilekspedisinya ke raja Spanyol. Seperti lazimnya, Raja memberikan hadiah sebidang tanah.Tetapi kawan-kawannya yang cemburu melaporkan hal-hal yang menjatuhkan namanya,antara lain ia di laporkan perlakuannya yang terlalu kejam terhadap suku Chibcha.Kemudian Quesada dijatuhi hukuman pengasingan, tetapi dalam tahun 1549direhabilitasikan dan menjadi seorang pejabat di Bogota. Sekitar tahun 1569, ia memimpinlagi suatu ekspedisi ke selatan dan terlibat dalam pertempuran-pertempuran melawan suku-suku Indian. Quesada meninggal dunia pada 16 Februari 1579.
3.Pedro De Valdivia (Penjajahan atas Chili)
Pedro dilahirkan dari kalangan bangsawan Spanyol sekitar tahun 1500. Ia bertugasdipasukan Raja Charles V di Italia, dan dalam tahun 1530 pergi ke Amerika Selatan. Iadatang di Peru, memperoleh kepercayaan dari Pizarro dan diberi kekuasaan menggalitambang-tambang, dimana kemudian ia kaya karenanya. Tahun 1535 Almargo inginmenguasai Chili dari pangkalannya di Peru, tetapi gagal. Tahun 1539 ia menugaskan Pedrountuk mengambil oper tugas-tugasnya untuk menaklukkan daerah sebelah selatan. Padatahun 1540, Pedro berangkat memimpin ekspedisi disertai 200 orang Spanyol dan 1000orang penduduk asli. Ia berhasil mendirikan kota-kota di Santiago (12 Februari 1541),Concepcion (Januari 1550), Imperial (1551) dan Valdivia (1552).
Namun kemudian, perlawanan dari suku-suku Indian menghebat hingga Pedromeninggal dalam pertempuran tanggal 31 Desember 1553. Lima puluh tahun perlawanansuku-suku Indian ini berlangsung, tetapi akhirnya dapat didesak mundur oleh pasukan- pasukan Spanyol hingga ke arah seletan dari Sungai Bio-Bio.
Dari riwayat awal penjajahan Spanyol atas Amerika Latin, yang dirintis oleh ke empatorang petualang diatas, dapat kita ketahui bahwa penjajahan itu sifat mulanya adalah petualangan belaka dari segelintir orang yang mempunyai motivasi petualangan, hasrat akankeharuman nama pribadi, hasrat untuk memperoleh kekayaan, atau dapat dikenal dengan 3 Gyaitu, Gold, Glory dan Gospel .
Politik penjajahan Spanyol di Amerika Latin pada umumnya didasarkan atas alasn,tujuan, dan cara sebagai berikut:
    Mengeksploitasikan kekayaan setempat, terutama bahan tambang emas, perak, dan batu permata, baik unuk medukung industri maupun untuk memupuk kekayaan Spanyol,
    Negara jajahan sbagai media untuk memperkuat perdagangan dunia dan atau berfungsisebagai “market forces” yang baru,
    Mencari tenaga murah bagi kepentingan ekonominya, antara lain dengan sistem perbudakan  dan pemerasan,
    Menyebarkan political image Spanyol sebagai kekuatan dunia yang perlu diperhitungkan, baik oleh kawan atau lawan, antara lain dengan memperkenalkan sistem politik dan sistem pemerintahan Spanyol di negara-negara jajahan,
     Negara-negara jajahan sebagai salah satu faktor dalam perimbangan politik dunia,
    Politik kebudayaannya didasarkan pada penanaman kesadaran akan tingginya nilaikebudayaan Spanyol dan kebanggaan dalam penggunaan bahasa Castellano sebagai bahasadunia yang kuat fungsinya.
Pada dasarnya, cara penjajahan bangsa-bangsa lain di Amerika Latin mempunyai pola yangsama seperti yang digunakan oleh Spanyol. Mula-mula melalui daerah-daerah baru, kemudianmenguasainya sebagai daerah koloni. Bahkan, sebenarnya Portugal lebih dahulu daripada Spanyoldalam eksplorasi daerah-daerah baru.
2.2 Politik dan Ekonomi Amerika Latin
Kawasan Amerika Latin memiliki sumber-sumber alam yang melimpah. Hal ini tidak lepas dari keadaan geografis di kawasan tersebut yang bervariasi, dari dataran-dataran tinggi, hutan, hingga pantai. Selain itu, Amerika Latin juga memiliki wilayah yang luas. Dengan luas wilayah yang sangat besar, ditambah dengan adanya kondisi geografis yang bervariasi seperti demikian, negara-negara di kawasan selatan negara Amerika Serikat ini memiliki potensi alam yang sangat tinggi. Secara normatif, melimpahnya sumber-sumber alam berbanding lurus dengan pertumbuhan perekonomian negara-negara yang memilikinya. Namun, apa yang terjadi tidaklah demikian.
            Mayoritas negara di kawasan Amerika Latin memiliki tingkat perekonomian yang buruk. Bahkan, negara-negara di kawasan ini digolongkan sebagai kelompok negara-negara periphery. Hal ini jelas menimbulkan tanda tanya besar, terkait dengan kontradiksi yang terjadi antara kondisi alam di kawasan tersebut dengan tingkat perekonomian di kawasan tersebut. Padahal, sejak tahun 1970-an, negara-negara di kawasan ini telah mulai menerapkan resep kapitalisme, yang telah diberlakukan, dan relatif berhasil, di negara-negara barat (Teichman, 2001). Usaha-usaha yang dilakukan adalah melakukan restrukturisasi sistem ekonomi, dari sistem yang terpusat pada State, menjadi yang terpusat pada kapital dan market. Dengan kata lain, sejak era tersebut, liberalisasi ekonomi telah diterapkan demi mencapai kemajuan tingkat ekonomi, seperti yang terjadi di negara-negara barat. Jelas, dalam hal ini, terdapat perbedaan antara das sollen dan das sein, yang memunculkan permasalahan di kawasan tersebut, yang pada akhirnya memerlukan adanya suatu analisis yang komprehensif demi terpecahkannya permasalahan tersebut.
Cardoso (1997), melalui penelitian yang dilakukannya, berusaha untuk menjelaskan mengenai fenomena ini. Ia, dalam artikel yang berjudul Current Theses on Latin American Development and Dependency : A Critique, mencoba melakukan dekonstruksi terhadap tesis-tesis yang membawa ide tentang kapitalisme. Ia berpendapat bahwa tesis-tesis tersebut kurang dapat dalam menyajikan informasi, yang mana kekurangan tersebut akan dapat membawa dampak kehancuran bagi suatu kehidupan sosial.
            Tesis pertama yang dicoba untuk didekonstruksi adalah “Di negara periphery, Kapitalisme tidak akan dapat untuk hidup”. Tesis ini berangkat dua hal, yaitu pertama adanya keberadaan borjuis lokal. Keberadaan borjuis lokal dapat menghalangi terciptanya suatu pasar yang memiliki tingkat kompetitif yang tinggi, sehingga kemajuan ekonomi tidak akan dapat diraih[1]. Keberadaan borjuis lokal, dianggap, akan dapat mencegah terjadinya pasar kompetitif. Dan yang kedua adalah mengenai industrialisasi yang akan berdampak pada keadaan labor-saving. Industrialisasi dianggap akan membawa pada keadaan dimana labor tidak akan lagi dibutuhkan, karena peranannya digantikan oleh teknologi, padahal di negara-negara periphery, labor adalah sumber daya utama.
            Cardoso menolak tesis tersebut. Ia beranggapan bahwa kapitalisme dapat diterapkan di mana saja. Faktor dominan yang akan menentukan apakah ia akan berhasil atau tidak adalah prinsip dinamisme yang dimiliki oleh kapital itu sendiri. Artinya, prinsip dinamis dari kapital masih terjaga, maka kapitalisme akan mampu untuk “menjalankan tugasnya” dalam upaya peningkatan ekonomi suatu negara. Yang terjadi di kawasan Amerika Latin dari penerapan resep kapitalisme adalah terfokusnya kapital pada satu kawasan tertentu saja. Kapital, baik dari nasional maupun dari investasi asing, hanya terpusat di tempat tertentu, yang mengakibatkan ia berkembang dalam satu spriral yang statis. Konstelasi ini mengakibatkan penyebaran kapital tidak setara, sehingga kemajuan ekonomi yang dijanjikan pun tidak menyeluruh, hanya meliputi kawasan dan kalangan tertentu saja. Ketimpangan inilah yang kemudian mengakibatkan tetap kerdilnya tingkat ekonomi di kawasan ini meski telah menerapkan resep yang telah berhasil di negara-negara barat.
            Tesis kedua adalah “Esensi dari kapitalisme adalah eksploitasi buruh dan pemberian upah yang minimum”. Tesis ini berangkat dari prinsip efisiensi di dalam teori ekonomi, yang mengatakan bahwa setiap kegiatan ekonomi ditujukan untuk memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan cost. Untuk memaksimalkan keuntungan, buruh sebagai salah satu faktor penting dalam kegiatan produksi, dituntut untuk menampilkan kinerja yang optimal, sehingga produktivitas dari suatu perusahaan akan meningkat dan pada akhirnya keuntungan yang didapat oleh perusahaan tersebut akan meningkat pula. Sedangkan untuk meminimalkan cost, perusahaan-perusahaan melakukan kebijakan pemberian upah minimal.
            Tesis ini memiliki dua kelemahan. Pertama adalah ia menegasikan pentingnya peranan saving. Di sini, tesis ini hanya melihat aspek ekonomi dari kacamata perusahaan, tidak pada buruh atau masyarakat di wilayah tersebut. Sehingga, bagi perusahaan, hal tersebut dinilai menguntungkan. Namun, bagi pihak masyarakat, tentu tidak. Masyarakat hanya akan mendapatkan upah minimal, yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan primernya saja, tanpa memiliki kemampuan untuk melakukan saving. Padahal, dengan saving, suatu negara dapat mengembangkan kapitalnya sendiri, sehingga tidak perlu mengandalkan investasi atau utang dari luar negeri untuk mengembangkan ekonominya.

Kelemahan kedua adalah mengenai kemampuan pasar dalam menyerap hasil produksi. Dengan meminimalkan upah, maka mayarakat hanya akan memenuhi kebutuhan primernya saja. Kemudian, apa yang terjadi pada perusahaan-perusahaan yang memproduksi barang-barang tersier, seperti perusahaan mobil atau perhiasan misalnya. Perusahaan-perusahaan ini akan kesulitan untuk memasarkan produknya, karena pada dasarnya kemampuan masyarakat untuk membelinya sangat kurang dikarenakan upah yang minimal. Akibatnya adalah perekonomian akan bersifat statis, dan oleh karenanya ia tidak akan berkembang ke arah yang diinginkan.
Pemberian upah buruh yang minimal hanya dibutuhkan dalam proses awal dari restrukturisasi ekonomi ke arah kapitalisme saja[2]. Hal ini dikarenakan perusahaan memang diharapkan untuk berkembang. Namun, setelah sistem ekonomi ini diimplementasikan, hal ini harus dihapuskan, demi terciptanya suatu pasar yang kondusif bagi sistem perekonomian tersebut.
Tesis ketiga adala “Hilangnya peranan tokoh borjuis lokal di dalam kehidupan sosial”. Tesis ini beranggapan bahwa di era kapitalisme, peranan dari tokoh-tokoh borjuis lokal, yang sebelumnya merupakan tokoh pemimpin dari masyarakat, akan tergantikan oleh borjuis-borjuis baru, yaitu para korporasi atau perusahaan besar. Bahkan di dalam struktur politik, perusahaan-perusahaan besar lah yang memiliki suara terbesar dalam penentuan kebijakan di dalam suatu negara.
Dalam hal ini, perlu dipahami mengenai konsep borjuis lokal. Borjuis lokal merupakan kelompok-kelompok yang mendominasi elit-elit politik di negara-negara di kawasan Amerika Latin. Mereka adalah kelompok yang memiliki perkebunan (hacienda) yang juga kemudian mengatur kehidupan sosial di wilayahnya masing-masing. Cardoso menolak asumsi tesis tersebut. Terlebih, Cardoso beranggapan bahwa kelompok borjuis lokal telah bertransformasi menjadi sebuah birokrasi yang masih cukup dominan dalam bidang politik dan kontrol sosial. Sehingga, peranannya di kehidupan tidak akan hilang, walaupun terdapat suatu indikasi bahwa kelompok-kelompok ini, secara praktis, tidak menolak adanya perubahan struktur ekonomi. Sebaliknya, kelompok ini bertransformasi menjadi kelompok Internationalized Bourgeoisies.
Tesis keempat adalah “penetrasi dari perusahaan multinasional akan membuat State berorientasi pada kegiatan ekspansi pasar”. Masuknya investasi asing sebagai akibat dari globalisasi ekonomi akan membuat suatu negara, di manapun negara tersebut berada, akan terinvasi secara ekonomi oleh perusahaan-perusahaan besar multinasional. Di sini, perusahaan-perusahaan asing yang mengekspor barangnya ke suatu negara, akan bersaing dengan perusahaan-perusahaan lokal. Trend yang terjadi di sini adalah perusahaan-perusahaan asing akan memiliki kesempatan yang lebih besar dalam meraih keuntungan dan keberhasilan dalam persaingan tersebut daripada perusahaan lokal, karena mereka pada dasarnya memiliki kapital yang jauh lebih besar daripada perusahaan-perusahaan lokal. Dengan kapital yang besar, perusahaan-perusahaan asing membuka cabang di berbagai negara, sehingga keuntungan yang diraih akan semakin besar pula.
Cardoso menyangkal tesis tersebut. Dalam pendapatnya, Cordoso menjelaskan bahwa untuk masuk ke tahap ekspansionis, suatu negara harus mengkonsentrasikan keunggulan komparatifnya, sehingga ia akan meraih keuntungan ekonomis yang sangat signifikan[3]. Sementara, apa yang terjadi di Brasil, sesuai dengan penelitian yang dilakukan olehnya, menunjukkan hal yang sebaliknya. Di Brasil, penyumbang angka tertinggi dari hasil kegiatan ekonomi yang paling banyak datang dari produk-produk yang tidak terkonsentrasi untuk ekspor. Artinya adalah suatu negara tidak selalu perlu untuk melakukan konsentrasi suatu produk untuk kemudian dikembangkan ke arah ekspansionis ke pasar internasional demi mengejar keuntungan ekonomi. Keuntungan ekonomis dapat diperoleh melalui cara lain, seperti dengan menciptakan suatu keadaan yang “sehat” bagi seluruh pihak yang berperan di dalamnya, terutama bagi pihak lokal. Sehingga, perekonomian lokal akan ikut terangkat, tanpa perlu melakukan ekspansi pasar.
Amerika Latin hanya ada dua ideologi, Fasisme atau Sosialisme”. Pada dasarnya, kedua ideologi tersebut berseberangan dengan ideologi liberalisme, yang mendukung adanya revolusi ekonomi ke arah yang lebih bebas berdasarkan pada asas kapitalisme. Oleh karenanya, sering kali sistem politik yang demikian dianggap tidak demokratis dan sering kali ditentang oleh pihak negara-negara barat. Sistem politik di negara-negara di kawasan Amerika Latin, oleh beberapa kalangan, dianggap terjebak diantara dua pilihan, Fasisme atau Sosialisme. Fasisme merupakan suatu bentuk pemerintahan diktator oleh satu orang tokoh, sedangkan Sosialisme merupakan suatu sistem pemerintahan komunisme, yang mendasarkan tindakannya berdasarkan pada asas sama rata dan sama rasa.
Cardoso beranggapan bahwa munculnya trend tersebut dikarenakan adanya arus balik dari liberalisasi ekonomi yang diterapkan, yang mana arus balik tersebut tidak membawa dampak yang positif melainkan malah mebawa dampak yang negatif. Liberalisasi ekonomi yang pada dasarnya ditujukan pada perkembangan dan pencapaian kemakmuran malah membawa dampak yang sebaliknya, yaitu adanya kemiskinan dan ketimpangan di mana-mana. Oleh karenanya, di saat yang krisis seperti itu, muncul kaum-kaum revolusioner yang ingin mendobrak dan mendekonstruksi sistem yang ada. Namun pada saat tidak terjadi krisis, gelombang arus balik tersebut hampir tidak tampak dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, terminologi “fasisme” dan “sosialisme” yang muncul di sini tidak serta merta menyebabkan suatu negara di Amerika Latin menerapkan prinsip tersebut di setiap kehidupan yang ada. Yang terjadi adalah otoritas lokal memegang kontrol pada suatu aspek tertentu yang produktif untuk kemudian dikelola secara maksimal oleh negara, tanpa mengganggu aspek-aspek ekonomi yang lain. Hal ini dikarenakan oleh banyak hal, seperti otoritas asing tetap diberikan ruang gerak pada sektor-sektor tertentu, dan sektor yang diambil alih oleh otoritas lokal adalah yang dianggap paling produktif dan strategis saja. Dengan demikian, adanya kebijakan tersebut tidak serta merta menjadikan negara-negara di kawasan ini sebagai negara yang anti demokrasi.
2.3Revolusi Amerika Latin
Amerika Latin tetap merupakan sektor kunci dalam revolusi dunia. Apapun yang dikatakan oleh politisi-politisi borjuis dan reformis, jauh dari imun terhadap resesi dunia, Amerika Latin telah terpukul terutama secara besar. Di satu pihak, jatuhnya harga-harga bahan mentah dan minyak telah mempengaruhi negara-negara di wilayah tersebut, yang kebanyakan bergantung padanya. Ekspor tambang dan minyak di seluruh wilayah tersebut anjlok 50,7% di semester pertama 2009.
Resesi di AS dan Eropa juga telah mempengaruhi kiriman uang (remitan) oleh pekerja migran Amerika Latin yang di beberapa negara (Honduras, Nikaragua, Meksiko, Ekuador, Bolivia, Peru, dsb.) merupakan porsi besar di dalam PDB. Di 10 bulan pertama tahun 2009, jumlah remitan ke Meksiko jatuh 16,5% dan di Kolombia 17,5%, dengan El Salvador dan Guatemala jatuh sebesar 10%. Akhirnya, krisis kredit sedunia telah menyebabkan anjloknya Investasi Asing Langsung, dimana badan ekonomi regional CEPAL memperkirakan ini sebesar 45% dibandingkan tahun 2008.
Meksiko dan Amerika Tengah juga telah membayar harga yang mahal untuk integrasi ekonomi mereka dengan ekonomi AS, menderita lebih banyak daripada negara-negara yang memiliki lebih banyak hubungan dagang dengan Uni Eropa dan Tiongkok. Ekonomi dari benua ini secara keseluruhan jatuh sebesar 2,1% pada tahun 2009, dangan negara-negara seperti Meksiko (-7%) dan Venezuela (-2,9%) di antara yang paling parah. Tetapi bahkan setelah negara-negara ini pulih dari resesi pada tahun 2010, jumlah orang miskin akan terus tumbuh sebesar 39 juta. Ini adalah latar belakang eksplosif untuk revolusi di Amerika Latin yang sedang berkembang.
Venezuela
Selama dekade terakhir, lebih dari satu kali kaum buruh sudah bisa merebut kekuasaan di Venezuela. Masalahnya adalah kepemimpinan. Chavez adalah seorang yang pemberani dan jujur, tetapi dia bergerak secara empirikal, berimprovisasi dan membuat program sembari jalan. Dia mencoba menyeimbangkan kelas pekerja dan kaum borjuasi. Dan ini tidak bisa berlangsung selamanya.
Lenin menjelaskan bahwa politik adalah ekonomi yang terkonsentrasi. Chavez mampu memberikan konsesi, reforma-reforma, misi-misi sosial, dsb. untuk waktu yang cukup lama karena situasi ekonomi. Harga minyak yang tinggi memungkinkan dia untuk melakukan ini. Tetapi sekarang ini sudah berakhir. Harga minyak telah jatuh secara dramatik, walaupun ini telah pulih sedikit. Inflasi adalah sekitar 30%. Oleh karenanya ada penurunan upah riil. Banyak skema-skema jaminan sosial yang harus dipangkas dan pengangguran meningkat.
Tidak diragukan kalau kaum buruh Venezuela masih setia pada Chavez, tetapi juga tidak diragukan kalau banyak buruh, walaupun setia, semakin menjadi tidak sabar. Mereka bertanya: revolusi macam apa ini? Sosialisme macam apa ini? Apakah kita akan menyelesaikan masalah-masalah ini atau tidak? Ancaman konter-revolusi belumlah menghilang. Oposisi konter-revolusi sedang mempersiapkan sebuah ofensif baru untuk memenangkan mayoritas di Majelis Nasional pada tahun 2010. Bila mereka berhasil, atau bila mereka memenangkan sejumlah besar kursi, jalan akan terbuka untuk sebuah ofensif konter-revolusioner yang baru.
Fakta yang paling menonjol mengenai Revolusi Venezuela adalah ketidakmampuan para imperialis untuk mengintervensi secara langsung. Di masa lalu, mereka sudah pasti akan mengirim pasukan angkatan laut untuk menumbangkan Chavez. Tetapi mereka belum mampu mengintervensi secara langsung. Dengan cara yang sama, imperialisme Inggris terpaksa melepaskan kendali militer-birokratiknya dari koloni-koloninya karena biaya yang tinggi, secara finansial dan politis. Sebagaimana hal biaya okupasi Iraq dan Afghanista telah menyedot sumber daya AS. Sebuah aksi militer langsung melawan Venezuela oleh karenanya tampak mustahil sampai AS menarik mundur tentaranya dari negara-negara ini. Akan tetapi, ini tidak menihilkan intervensi proxi dari Kolombia yang disponsor oleh AS, yang telah meluncurkan kampanye terus-menerus untuk melemahkan, mengisolasi, dan menghancurkan Revolusi Bolivarian. Kekalahan kudeta 2002 disebabkan oleh intervensi massa.
Washington sedang bermanuver dengan Uribe untuk mengancam Venezuela. Perjanjian dimana Kolombia memberikan kepada AS akses ke tujuh pangkalan militer adalah sebuah aksi agresi terhadap Revolusi Venezuela. Ancaman eksternal dari Kolombia adalah nyata. Tetapi yang lebih serius adalah ancaman dari dalam. Kaum borjuasi masih memegang di tangannya titik-titik kunci ekonomi. Sepuluh bank masih mengendalikan 70% aktivitas finansial. Kebanyakan tanah masih ada di tangan tuan tanah besar, sedangkan 70% bahan makanan masih diimpor (dengan inflasi). Terutama, pemerintah masih ada di tangan birokrasi konter-revolusioner. Setelah lebih dari satu dekade, ada tanda-tanda keletihan dan kekecewaan di antara massa. Ini adalah elemen yang paling berbahaya.
Di Kongres Luar Biasa Pertama PSUV (Partai Persatuan Sosialis Venezuela), Chavez mengakui hal-hal ini dan menyatakan bahwa “sosialisme belumlah tercapai”. Dia menyerukan penghapusan kapitalisme secara total, penyenjataan rakyat dan milisi buruh. Semua ini diperlukan, tetapi bila ini hanya tinggal pidato saja, ini tidak akan menuju kemana-mana. Kenyataannya adalah bahwa birokrasi sedang secara sistematik melemahkan Revolusi dari dalam. Gerakan menuju kontrol buruh sedang secara sistematis disabotase, dan buruh-buruh yang berusaha berjuang melawan birokrasi sedang diserang, seperti yang kita lihat dalam kasus Mitsubishi. Situasi ini menghasilkan sebuah gejolak ketidakpuasan dan kekecewaan yang merupakan bahaya terbesar dari semuanya. Bila suasana hati ini terekspresikan dalam apati dan abstensi di pemilu-pemilu, ini akan menyiapkan sebuah konter-ofensif ke kanan.
Di Venezuela kelas buruh memisahkan diri mereka dari partai-partai borjuis dan melempar dirinya, di atas basis seruan Chavez, ke dalam usaha untum membangun partainya sendiri, sebuah partai kelas, PSUV. Partai ini, yang masa depannya belum ditentukan, dilahirkan di tengah sebuah revolusi, dan massa rakyat mengambilnya sebagai sebuah usaha untuk membangun apa yang kita sebuah partai buruh yang independen.
PSUV dilahirkan, dengan cara yang penuh kebingungan, dengan impuls kelas, dan di tengahnya ada perjuangan antara mereka yang ingin membangun sebuah partai kelas dan mereka yang ingin melihat PSUV hanya sebagai partai yang menjaga ketertiban, yang mewakilkan keinginan mereka sebagai sebuah klik dan orde kapitalis. Tugas utama dari kaum Marxis di revolusi Venezuela adalah untuk membantu mencapai hasil yang paling positif dari perjuangan ini, menjadi sebuah faksi Marxis dari partai ini dan membangunnya dengan penuh semangat, membantu elemen-elemen yang paling serius di dalamnya untuk meraih mayoritas di partai, menendang keluar para birokrat dan memperdalam revolusi proletar yang sedang terjadi.
Kita harus memberikan perhatian lebih banyak pada kerja kita di dalam PSUV, yang saat ini adalah ada di pusat masalah Revolusi. Kita harus mengakui secara jujur bahwa kepemimpinan dari seksi Venezuela belum memberikan perhatian yang cukup pada kerja ini, dan sebagai akibatnya kita kehilangan banyak kesempatan. Ini adalah satu kesalahan yang sangat serius, yang harus diperbaiki segera. Kerja serikat buruh sangat penting, tetapi ini harus diberikan ekspresi politik. Kerja kita di pabrik-pabrik yang diokupasi tetap adalah masalah yang kunci, tetapi ini akan menjadi sia-sia bila tidak dihubungkan dengan perjuangan untuk mentransformasi PSUV.
Kaum Marxis Venezuela harus menggabungkan keteguhan teoritis dengan fleksibilitas taktik yang dibutuhkan, selalu menekankan peran gerakan Bolivarian dan PSUV. Bila kita bekerja dengan tepat di tahun-tahun ke depan, pondasi untuk oposisi kiri massa akan terbentuk di dalam PSUV, dimana kita akan berpartisipasi dan memupukinya dengan ide-ide Marxisme. Ini adalah satu-satunya cara untuk membangun sebuah tendensi Marxis massa di Venezuela, sebagai langkah pertama menuju sebuah partai Marxis massa revolusioner di hari depan.
Meksiko, Kuba, dan Amerika Tengah
Ada sebuah krisis ekonomi yang serius di Meksiko. Seluruh Meksiko bergantung pada para imigran yang bekerja di Amerika Serikat, yang remitannya telah anjlok karena krisis. Kaum borjuasi tidak bisa mentolerir keberadaan reforma-reforma dan konsensi-konsesi yang mereka berikan di masa lalu. Tetapi tidak ada alternatif bagi massa selain mengambil jalan perjuangan
Serangan terhadap serikat buruh listrik adalah satu indikasi bagaimana kelas penguasa Meksiko berpikir. Mereka terdorong untuk menyerang taraf hidup, dan guna mencapai ini, mereka harus menghancurkan serikat-serikat buruh yang kuat di Meksiko. Ini ditunjukkan oleh penutupan Luz y Fuerza dan usaha untuk menghancurkan Serikat Buruh Listrik Meksiko yang kuat, yang menyebabkan ledakan gerakan massa dan Pemogokan Nasional pada bulan Oktober 2009.
Serangan dari pemerintahan PAN akan memprovokasi sebuah reaksi yang dapat membawa sebuah ledakan sosial seperti tahun 2006, atau bahkan dalam tingkatan yang lebih tinggi. Kita harus siap! PRD akan pulih kembali karena ketidakpopuleran pemerintahan Calderon. Partai ini ada di tangan sayap kanan, dan akan tergoncang oleh krisis-krisis internal dan perpecahan. Adalah mungkin kalau Lopez Obrador akan memutuskan untuk pecah dari PRD dan bergabung dengan PT (Partai Buruh). Kita harus fleksibel dalam taktik kita dan mengikuti peristiwa-peristiwa dengan seksama supaya bisa menjangkau kaum buruh termaju dengan ide-ide kita.
Nasib Revolusi Kuba terhubung secara langsung dengan perspektif revolusi sosialis di Amerika Latin. Setelah jatuhnya Uni Soviet, Kuba terisolasi dan ada di bawah tekanan, yang sekarang semakin besar. Selama Castro masih memimpin, mereka bisa menahan elemen-elemen pro-kapitalis dalam kendali dan mempertahankan situasi. Tetapi sekarang Kuba ada di dalam kesulitan-kesulitan yang serius. Krisis kapitalisme global telah memukul ekonomi Kuba, yang setelah jatuhnya Uni Soviet bergantung pada pasar dunia.
Ada bahaya jelas dalam mengambil kebijakan-kebijakan ekonomi, yang atas nama “efisiensi” dapat membuka jalan ke restorasi kapitalisme. Di persimpangan ini, revolusi Kuba harus diperkuat dengan membebaskan kekuatan kreativitas rakyat pekerja Kuba melalui keterlibatan penuh mereka dalam menjalankan masyarakat dan ekonomi.
Ini menunjukkan keterbatasan dari “sosialisme di satu negara”. Isolasi revolusi adalah sumber birokratisasi dan juga tendensi-tendensi pro-kapitalis. Revolusi Kuba dihadapi oleh pilihan yang pahit: kapitalise ditumbangkan di Amerika Latin, atau tendensi menuju restorasi kapitalisme di Kuba akan menjadi lebih kuat.
Bila Revolusi Venezuela berhasil diselesaikan, maka situasi ini akan berubah. Situasi objektif untuk revolusi semakin cepat matang di Amerika Latin. Yang ada di Meksiko sekarang adalah bahkan lebih benar di Amerika Tengah, seperti yang telah kita saksikan di Honduras. Yang dibutuhkan adalah sebuah kepemimpinan revolusioner yang paham akan tujuannya dan bagaimana meraihnya.
Teori dua-tahap Stalinis telah gagal dimana-mana. Supaya bisa berhasil, revolusi tidak bisa berhenti di batas kepemilikan pribadi. Dimulai dari tugas-tugas nasional-demokratik (perjuangan melawan imperialisme dan oligarki, revolusi agraria), revolusi harus melaksanakan ekspropriasi bank-bank dan industri besar, yang merupakan agen-agen lokal dari imperialisme dan pusat konter revolusi. Terakhir namun juga penting, revolusi ini tidak boleh berhenti di perbatasan nasional, yang sebenarnya hanyalah artifisial, terutama di Amerika Tengah.
Di El Salvador, dimana revolusi sosialis dapat dilaksanakan dengan sehat di masa lalu, tetapi dikhianati oleh kebijakan-kebijakan keliru dari kepemimpinan, gerakan revolusioner sekarang sedang memasuki tahapan yang baru. Suara untuk FMLN adalah ekspresi dari kemarahan rakyat. Pemilihan untuk pertama kalinya pemerintahan FMLN di dalam sejarah El Salvador menunjukkan sebuah hasrat mendalam dari rakyat untuk perubahan radikal. Tetapi para pemimpin reformis tidak memiliki solusi untuk krisis ini, yang hanya bisa diselesaikan dengan cara revolusioner, melalui penyitaan tanah, bank, dan titik-titik kunci di dalam ekonomi.
Di Nikaragua, Guatemala atau El Salvador, krisis kapitalisme adalah sebuah bencana. Ketika buruh imigran di AS dipecat, mereka tidak dapat mengirim uang kembali ke keluarga mereka. Ini adalah sebuah bencana sosial untuk seluruh wilayah ini. Ini menjelaskan gejolak-gejolak di Honduras di mana permasalahan kekuasaan terpampang. Ada gejolak-gejolak serupa yang terjadi di semua negara di Amerika Tengah. Negara-negara ini terlalu lemah dan kecil untuk bersaing dengan ekonomi-ekonomi kapitalis yang kuat, terutama Amerika Utara yang mencekik mereka.
Krisis di AS telah menyebabkan anjloknya permintaan barang-barang dari wilayah ini, dan para buruh migran dari Amerika Tengah yang menyediakan tenaga kerja murah untuk ekonomi AS selama boom ekonomi adalah yang pertama dipecat dalam resesi. Anjloknya remitan dari buruh-buruh imigran ini merupakan bencana untuk Amerika Tengah.
Gerakan massa Honduras yang luar biasa, yang berlangsung selama lima bulan, tidak dapat dihentikan oleh represi, jam malam, dan pembunuhan. Situasi di Honduras adalah produk langsung dari situasi dunia yang menggabungkan revolusi dan konter-revolusi di sebuah ekonomi terbelakang yang didominasi oleh imperialisme. Tidak mampu mengembangkan ekonomi Honduras karena ketertundukan mereka pada imperialisme, kaum kapitalis lokal juga tidak mampu mengijinkan demokrasi sekecil apapun di negara tersebut. Tuntutan Majelis Konstituante, di mata rakyat, tampak sebagai sebuah cara untuk mengekspresikan diri mereka dan sebagai satu cara untuk menyelesaikan kebutuhan-kebutuhan mereka yang urgen. Perkembangan situasi di Honduras adalah sebuah demonstrasi dari kebenaran teori Revolusi Permanen dan program transisional. Ini menunjukkan potensi revolusioner besar yang ada di semua negara di Amerika Latin. Di hari-hari sebelum dan menyusul kembalinya Zelaya secara rahasia ke Honduras pada bulan September, rakyat dapat merebut kekuasaan dan menumbangkan kediktaturan dengan cara revolusioner. Akan tetapi, kebimbangan dari kepemimpinan Front Perlawanan dan Zelaya sendiri pada momen-momen yang penting berarti hilangnya kesempatan ini. Sekali lagi, masalah kepemimpinan adalah kunci. Namun, situasi ini belumlah terselesaikan, walaupun sekarang ini terkendali, dimana perlawanan rakyat mendorong situasi internasional yang dilalui oleh Amerika Latin.
Semua seksi kelas penguasa – termasuk Obama – tersatukan dalam ketakutan mereka akan penumbangan revolusioner rejim Honduras. Pada akhirnya, melalui trik, diplomasi dan penipuan, mereka semua mendapatkan apa yang mereka inginkan: kaum oligarki dan teman-teman mereka di Washington berhasil mendapatkan “legitimasi” untuk kudeta mereka melalui pemilu yang palsu. Secara tipikal, Obama mundur di bawah tekanan dari sayap kanan, menjatuhkan keberatan dia terhadap kudeta dan mengatakan bahwa pemilu ini mewakilkan “restorasi demokrasi”. Detil kecil ini mengungkapkan karakter Obama yang sesungguhnya dan kebijakan-kebijakan “progresifnya”, di dalam dan di luar negeri.
Apa yang terjadi di Honduras dapat terjadi setiap negara di Amerika Tengah. Peristiwa di Honduras menunjukkan bahwa Revolusi Amerika Tengah adalah sebuah proses tunggal yang tidak dapat terpisahkan. Akan tetapi, bahkan di atas basis yang sehat, negara-negara Amerika Tengah tidak dapat menyelesaikan masalah-masalah mereka dalam isolasi. Bila revolusi ini ingin berhasil, Revolusi Amerika Tengah setidaknya harus terhubungkan dengan perspektif Revolusi Amerika Latin. Sebuah revolusi sosialis yang berhasil di salah satu negara ini akan memberikan sebuah dorongan yang kuat untuk revolusi sosialis, bukan hanya di Amerika Tengah dan Latin dan Karibia, tetapi juga di AS dan negara-negara kapitalis maju lainnya. Pada analisa terakhir, ini adalah satu-satunya jaminan untuk keberhasilannya.
Bolivia, Ekuador, dan Kolombia
Pemilihan kembali Evo Morales dengan suara yang meningkat menunjukkan dukungan yang besar dari massa untuk gerakan revolusioner. Pemerintah yang baru ini akan berada di bawah tekanan besar untuk menyelesaikan semua permasalahan krusial: pekerjaan, tanah, layanan kesehatan, dan pendidikan, yang kesemuanya tidak akan dapat diselesaikan secara serius dalam batasan kapitalisme.
Ini telah membuka sebuah periode perjuangan kelas yang tajam di Bolivia, yang belum terselesaikan, seperti yang telah ditunjukkan oleh konflik baru-bari ini antara pemerintah dengan gerakan buruh dan penduduk asli [Indian Amerika], dimana MAS telah memobilisasi gerakan petani dan borjuis kecil urban yang mengakibatkan dilontarkannya ancaman-ancaman terhadap markas dari serikat guru di La Paz. Meliha karakter unik dari MAS dan perkembangan revolusi Bolivia, hasil pertama dari mobilisasi terakhir ini bukanlah pergeseran pemerintahan ke arah kiri tetapi justru memperkuat tendensi bonapartisnya, yang mana kelompok-kelompok sektarian dalam cara mereka yang impresionis membingungkan ini dengan fasisme. Gerakan buruh pada gilirannya terus terjebak antara sektarianisme dan oportunisme, yang termanifestasikan dalam usaha-usaha dari setiap serikat buruh untuk meraih, dengan cara yang korporatis, bagian kekuasaan mereka di dalam kabinet pemerintah. Perspektif Bolivia tergantung dari kemampuan kaum buruh yang paling maju untuk menarik kesimpulan yang diperlukan, yang pada gilirannya bertautan dengan kemampuan kaum Marxis Bolivia untuk membangun hubungan yang kuat dengan kaum pelopor dan meyakinkan mereka akan perlunya sebuah alternatif revolusioner.
Bila kaum buruh Venezuela berhasil merebut kekuasaan, ini akan memberikan efek yang luar biasa pada revolusi di Bolivia dan terutama pada kelas buruh Bolivia. Berhadapan dengan gerakan massa revolusioner, kaum imperialis tidak akan bisa mengintervensi. Sebaliknya, mereka akan menghadapi gerakan massa oposisi di negaranya sendiri, yang akan membuat protes Perang Vietnam tampak jinak dalam perbandingannya. Akan tetapi, bila langkah-langkan menentukan tidak diambil, dan rakyat mulai letih akan perjuangan bertahun-tahun tanpa hasil yang jelas, perimbangan kekuatan akan berubah.
Revolusi Venezuela memiliki pengaruh yang kuat pada negara-negara tetangga seperti Bolivia dan Ekuador. Ekuador telah menutup pangkalan-pangkalan militer AS dan sekarang kaum imperialis sedang membangun militer mereka di Kolombia, yang telah memberikan mereka tujuh pangkalan militer. Ini merupakan ancaman bahaya bagi Revolusi Venezuela. Pada satu hari di masa depan, Washington akan mencoba merancang sebuah peperangan antara Kolombia dan Venezuela. Namun ini adalah sebuah strategi yang beresiko.
Rakyat Venezuela akan melawan seperti harimau untuk membela Revolusi, dan rejim Kolombia akan mendapati dirinya bertarung di dua front dengan pembaharuan permusuhan dari para gerilyawan, dan juga oposisi dari buruh Kolombia. Tidaklah jelas kalau imperialisme dapat memenangkan perang semacam ini, dan sebuah kekalahan militer dapat berarti akhir kapitalisme, bukan hanya di Venezuela, Bolivia, dan Ekuador, tetapi di Kolombia juga.
Brazil
Brazil adalah negara terbesar di Amerika Selatan, dengan populasi sekitar 190 juta. Ia telah mengalami pertumbuhan ekonomi yang signifikan semenjak Perang Dunia Kedua, dan terutama dalam 30 tahun belakangan ini. Dengan ini juga telah tumbuh proletariat Brazil, yang berakibat terbentuknya organisasi-organisasi buruh yang kuat, terutama federasi serikat buruh CUT yang beranggotakan 7 juta buruh, dan partai buruh PT dengan lebih dari satu juta anggota.
Ekonomi Brazil yang sebesar 1,75 trilyun dolar adalah lebih besar daripada India dan Rusia, dan pendapatan per kapitanya hampir dua kali lebih besar daripada Tiongkok. Penemuan cadangan-cadangan minyak yang baru juga diharapkan akan membuat negara ini menjadi salah satu produsen minyak mentah terbesar di dunia. Investasi asing (45 milyar dolar pada tahun 2008) adalah 3 kali lipat dibandingkan satu dekade lalu.
Tahun lalu Brazil terpukul oleh resesi dunia, menderita penurunan singkat pada kuartal ke dua (sebuah resesi -0,2% pada tahun 2009), tetapi sekarang diprediksikan akan tumbuh lebih dari 5 persen tahun ini, menurut sebuah survei dari institusi ekonomi ternama yang diterbitkan bulan Februari.
Lula meraih kemenangan besar pada pemilihan presiden 2002, dan terpilih lagi pada tahun 2006, memperpanjang jabatannya sebagai presiden hingga 1 Januari 2011. Pada akhir tahun ini, Brazil akan kembali ke bilik suara. Lula telah menjadi presiden yang paling populer di dalam sejarah Brazil baru-baru ini, tetapi ia tidak akan bisa ikut pemilihan lagi karena hukum Brazil melarang dia untuk menjadi presiden tiga kali.
Lula telah memerintah selama satu periode kenaikan ekonomi yang panjang (ledakan pertumbuhan ekonomi terbesar di Brazil dalam 30 tahun terakhir). Semenjak 2008, 8,5 juta pekerjaan telah tercipta dan program-program seperti bantuan sembako untuk keluarga miskin (Bolsa Familia) telah diimplementasikan. Ini telah menguntungkan sejumlah besar keluarga dan juga menjelaskan mengapa tingkat kepopuleran dia telah mencapai 82%.
Pada saat yang sama dimana kebijakan-kebijakan Bank Dunia telah dicanangkan, Lula belum membatalkan privatisasi yang dilakukan oleh pemerintahan sebelumnya dan juga serangan-serangan pada reforma-reforma sebelumnya. Dan pemerintahannya terus memprivatisasi jalan tol, dam listrik, hutan Amazon, jaminan sosial, dan layanan publik lainnya. Masih ada jurang yang besar antara orang kaya dan miskin. Kenyataannya, Brazil adalah sebuah negara dengan kontradiksi yang besar. Ia memiliki kota-kota moderen seperti Rio de Janeiro dan Sao Paulo, yang dapat dibandingkan dengan kota-kota di negara kapitalis maju, tetapi sepertiga populasinya tinggal di daerah kumuh (favela). Kontradiksi ini bahkan lebih besar ketika kita melihat kesenjangan antara daerah-daerah, dimana daerah Timur laut lebih mirip dengan kondisi kemiskinan “dunia ketiga”. Sebagian besar tanah dikontrol oleh latifundistas [tuan tanah besar] dan perusahaan kapitalis nasional dan multinasional. Ini telah menyebabkan lahirnya Gerakan Buruh Desa Tak Bertanah (MST) yang mengorganisir lima juta petani tak bertanah yang menuntut distribusi tanah.
Seperti yang dapat diharapkan, pemilihan Lula pada tahun 2002, dan pertumbuhan ekonomi dan reforma-reforma yang menyusul, telah memiliki efek sementara dalam mencapai sebuah perimbangan yang tidak stabil, semacam “perdamaian sosial”. Walaupun telah terjadi sejumlah pemogokan yang penting, secara umum tingkat konflik telah berkurang. Para buruh melihat pemerintah sekarang ini sebagai pemerintahan mereka. Ini adalah satu hal yang tidak dimengerti oleh kaum sektarian. Benar kalau partai ini telah terbirokratisasi, tetapi PT memiliki cadangan dukungan sosial yang besar. PT dibentuk oleh kelas pekerja Brazil dalam perjuangan buruh metal pada akhir 1970an dan awal 1980an. Ia memiliki akar yang dalam di kelas pekerja Brazil.
Kaum Marxis Brazil mendasarkan diri mereka dari fakta fundamental ini. Massa buruh masih melihat PT sebagai partai mereka. Popularitas besar Lula mengkonfirmasikan ini. Kenyataan bahwa kaum Marxis Brazil memenangkan lebih dari 3500 suara di dalam pemilihan internal PT dan memenangkan posisi di dewan nasional PT mengkonfirmasi bahwa di dalam partai ini ada lapisan buruh yang maju yang sedang mencari sebuah alternatif revolusioner. Di atas basis peristiwa-peristiwa, di atas basis pengalaman pemerintah PT dan gerakan kelas pekerja, pada satu tahapan tertentu sayap kiri di dalam partai akan menjadi kuat dan kaum Marxis akan dapat tumbuh dari proses ini. Mereka sudah mendapat posisi-posisi penting di serikat buruh kereta, kimia, dan buruh gelas. Mereka juga punya posisi sebagai anggota dewan PT di Sao Paulo dan Santa Caterina yang memberikan mereka gaung yang lebih luas di dalam gerakan buruh. Mereka juga dikenal luas di dalam gerakan buruh Brazil sebagai pemimpin Gerakan Pendudukan Pabrik, yang memberikan mereka otoritas di antara massa buruh. Semua ini menempatkan mereka dengan baik sebagai sebuah tendensi yang disegani  oleh banyak buruh dan membuka kesempatan-kesempatan yang besar di hari depan.
Dalam situasi ini, Kaum Marxis dari kelompok Esquerda Marxista yang merupakan sebuah tendensi di dalam PT sedang berjuang dalam basis Front Persatuan, dengan tuntutan bahwa Lula dan PT harus pecah dari kelas penguasan (pecahkan pemerintah koalisi dengan partai-partai borjuis), mendorong terbentuknya Pemerintahan Buruh, yang mendasarkan dirinya pada CUT dan MST dan organisasi-organisasi rakyat, yang harus menjalankan program anti-imperialis dan anti-kapitalis, mengimplementasikan aspirasi kelas buruh yang paling urgen di kota-kota dan pedesaan.
Argentina
Kendati pertumbuhan ekonomi yang signifikan pada 2003-2008, dengan rata-rata pertahun 8%, taraf kehidupan massa tidaklah meningkat secara substansial, dan walaupun kelas pekerja secara insting menolak politisi-politisi sayap kanan, pemerintahan Cristina Fernandez tidaklah membangkitkan antusiasme.
Aspek yang paling penting dari situasi ini adalah benturan frontal antara pemerintahan Cristina Fernandez de Kirchner dan kaum borjuasi. “Kirchnerisme” adalah sebuah varian politik dari Peronisme (populisme borjuis) – sebuah fakta yang membedakannya dari pemerintah-pemerintah serupa di Venezuela, Bolivia, dan Ekuador. Namun, kaum borjuasi tidak dapat mentolerir usaha pemerintah untuk mempertahankan semacam independensi. “Kirchnerisme” berusaha untuk membatasi tendesi predatoris dari modal-modal besar nasional dan imperialis, dan memberikan beberapa konsesi kepada rakyat pekerja, guna memenuhi kepentingan umum dari kapitalisme Argentina. Pada akhirnya, ini tidak membahagiakan kedua pihak.
Namun, untuk sekarang ini ketiadaan partai politik kelas buruh memberikan “Kirchnerisme” peluang untuk menggunakan demagogi kiri dan oleh karenanya tampak sebagai satu-satunya kekuatan yang dapat berdiri melawan kaum Kanan. Ini memberikannya dukungan dari cukup besar kelas pekerja yang melihat “Kirchnerisme” sebagai sesuatu yang lebih tidak buruk ketika dihadapi dengan bahaya kaum Kanan yang diwakilkan oleh kaum oposisi dan kebijakan mereka yang reaksioner.
Satu-satunya alternatif adalah untuk membentuk sebuah Partai Buruh, dan membawa perjuangan politik ke lapisan luas kelas pekerja, dimana sebuah tendensi Marxis dapat menyatukan sektor-sektor yang paling sadar dan maju. Ada elemen-elemen objektif dalam situasi iniyang dapat membentuk perspektif tersebut, seperti Proyecto Sur dan Constituyente Social. Proyecto Sur adalah sebuah gerakan politik yang didukung oleh kaum Peronis kiri, para pemimpin serikat buruh CTA, dan aktivis-aktivis kiri, dan mendapatkan 25% suara di pemilu-pemilu lokal di ibu kota Bueons Aires, dan mempresentasikan dirinya sebagai sebuah alternatif kiri dari Kirchnerisme. Constituyente Social adalah sebuah platform politik luas yang diajukan oleh serikat buruh CTA untuk menciptakan gerakan politiknya sendiri. Tetapi kemungkinan akan sebuah front antara Constituyente Social dan Proyecto Sur yang dapat mendorong terbentuknya sebuah gerakan politik atau partai rakyat pekerja, secara praktis telah menjadi mustahil karena pergeseran ke kanan oleh para pemimpin Proyecto Sur yang mencari basis dukungan dari kaum borjuis kecil dan bukan dari kelas buruh dan sedang membentuk persetujuan dengan pengejar karir politik dan kelompok-kelompok yang mayoritas ada di sebelah kanan dari Kirchnerisme. Ini mengasingkan ribuan militan, simpatisan, dan pendukung dari gerakan tersebut.
Masalah politik yang utama adalah komposisi borjuis kecil dari kepemimpinan Proyecto Sura dan ketidakteguhan dari para pemimpin seksi CTA yang merupakan bagian dari gerakan politik ini dan yang memimpin Constituyente Social.
Namun, CTA tetap merupakan satu front yang penting untuk kerja agitasi di seputar isu membangun sebuah partai buruh massa. Selain Constituyento Social, yang menyatukan para pemimpin serikat buruh reformis kiri dan ribuan kaum buruh yang maju di seluruh negeri, ada juga di sekitar CTA sebuah lapisan penting aktivis-akvitis serikat buruh yang anti-birokrasi yang akan memandang perspektif ini dengan antusiasme dan ketertarikan. Tekanan perjuangan kelas dan kelas pekerja pada satu saat akan mendobrak bendungan Peronis, karena perjuangan kelas adalah motor dari sejarah dan lebih kuat daripada aparatus-aparatus konter-revolusi.
Sekarang, inilah lapangan dimana tugas dari kaum Marxis adalah untuk berpartisipasi di setiap front massa yang mencoba menyalurkan aktivitas politik rakyat pekerja, dan disana untuk menjelaskan dengan sabar program sosialis, untuk menyediakan sebuah perspektif kelas, apapun kebimbangan, inkonsistensi, dan kebingungan dari para pemimpin insidental dari gerakan-gerakan ini.

















BAB 3. PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Faktor-faktor sejarah sangat mempengaruhi perkembangan negara-negara AmerikaLatin. Diantara sekian banyak faktor-faktor sejarah, yang terpenting adalah: penindasan asingselama tiga abad, adanya intervensi asing pada masa-masa sebelumnya, sewaktu, dan setelahtercapai kemerdekaan. Perjuangan merebut kemerdekaan dilakukan secara serta merta olehmasing-masing rakyat daerah jajahan, tanpa adanya koordinasi perjuangan antara satu daerahdengan daerah lainnya.
Nasionalisme mulai timbul pada masa-masa perjuangan kemerdekaan, dan lebih berkembang pada masa setelah kemerdekaan. Hal ini mempersulit adanya usaha-usaha ke arah pembinaan persatuan dan kerjasama regional.
Karena lamanya penjajahan Spanyol dan Portugal, pengaruh kebudayaan kedua negaraitu masih sulit untuk dihilangkan. Pada umumnya, Amerika Latin belum mengalami revolusikebudayaan, dalam arti secara revolusioner mengganti pola-pola dan sendi-sendi kebudayaanIberia dengan pola-pola dan sendi-sendi kebudayaan nasional.
Kecuali di Meksiko, Kuba, dan beberapa negara lain, revolusi sosial belum mengarah pada modernisasi. Elite pemerintah dan angkatan bersenjata umumnya masih dikuasai olehgolongan menengah, yang masih terlalu sering tidak mencerminkan kehendak sesungguhnyadari rakyat. Masalah tanah merupakan masalah permanen yang belum terselesaikan dengan baik



DAFTAR PUSTAKA

http://indira-a--fisip10.web.unair.ac.id/artikel_detail 48242MBP%20Amerika%20LatinPolitik%20dan%20Ekonomi%20Amerika%20Latin.html
http://id.scribd.com/doc/78921823/Makalah-Negara-Bangsa-Amerika-Latin