Sabtu, 24 Mei 2014

KETERLIBATAN AMERIKA DALAM PERANG DUNIA

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Perang merupakan suatu hal yang penting dalam sejarah umat manusia.Di dunia ini perang besar pernah terjadi beberapa kali dan ada dua yang termasuk tingkat perang dunia.Perang Dunia I terjadi tahun 1914-1918, sementara yang kedua terjadi pada 1939-1945.Kedua perang tersebut melibatkan sebuah negara yang kini merupakan satu-satunya negara superpower setelah runtuhnya Uni Sovyet, yaitu Amerika Serikat.Amerika Serikat pada perang dunia I merupakan negara yang netral.Dimana Amerika Serikat tidak memihak pihak-pihak yang berperang, khususnya pihak yang berasal dari Eropa.Namun dalam kenyataan Amerika Serikat kurang bisa menjaga sifat netralnya, hal ini terbukti dengan adanya kegiatan jual beli senjata yang melibatkan Amerika Serikat, Italia dan Ethoupia.Sehingga hal ini sedikit banyak mendorong Amerika Serikat ikut terjun dalam perang Dunia yang tengah berkecambuk.Yang pada akhirnya, Amerika serikat dengan terang-terangan mendeklamasikan diri sebagai salah satu pihak yang ikut berperang dalam Perang Dunia II dan bergabung dengan pihak Sekutu.
Pasca-Perang Dunia II, tidak dapat dipungkiri bahwa Amerika Serikat berdiri sebagai  pemimpin dunia yang hampir tak dapat tersaingi. Kondisi itu didukung oleh posisi Eropa yang sedang berada dalam lingkungan pascaperang, kemudian Jepang yang sedang mengalami kehancuran, dan Inggris yang dapat dikatakan sedang mengalami kelelahan pascaperang. Sehingga secara otomatis dapat dikatakan bahwa tidak ada kekuatan lain yang dapat menjalankan peran global pada saat itu. Dan secara otomatis Amerika Serikat sebagai negara pemenang perang harus mengambil peran, dalam  artian bertanggung jawab dalam menciptakan kondisi prekonomian dunia yang stabil.
Dalam kondisi tersebutlah Amerika Serikat kemudian diuntungkan, dan dapat dengan mudah mengambil pimpinan dalam menentukan institusi dan peraturan –peraturan baru yang mendasari perekonomian dunia. Dan sistem yang kemudian ditelurkan Amerika Serikat pada saat itu biasa kita kenal dengan sebutan “Bretton Woods System” yang diambil berdasarkan nama kota kecil di Amerika Serikat yang merupakan tempat persetujuan Bratton Woods itu dibuat. Dan pada tahun 1947 Bratton Woods menjadi titik awal sejarah kejayaan Amerika Serikat dengan membentuk lembaga–lembaga perekonomian dunia pascaperang. Diantaranya yaitu: IMF, Bank Dunia, GATT (yang sekarang diganti WTO), dan OECD. Yang kemudian dalam kiprahnya, sistem tersebut berhasil membawa Amerika Serikat pada puncak kejayaannya.

1.2    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis menetapkan beberapa rumusan  masalah di antaranya adalah sebagai berikut.
1.    Bagaimana peran amerika serikat dalam Perang Dunia I?
2.    Bagaimana isi dari Perjanjian Versailles?
3.    Bagaimana Korelasi Kebijakan Amerika di Perang Dunia I Dengan Doktrin Monroe?
4.    Bagaimana dampak keterlibatan Amerika dalam Perang Dunia I?
5.    Bagaimana latar belakang keterlibatan Amerika Serikat dalam Perang Dunia II?
6.    Bagaimanaketerlibatan Amerika Serikat dalam Perang Dunia II?
7.    Bagaimanadampak terlibatnya Amerika Serikat ke Dalam Perang II?

1.3    Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah untuk membahas secara mendalam tentang:
1.    Untuk mengkaji peran Amerika Serikat dalam Perang Dunia I
2.    Untuk mengkaji Isi dari Perjanjian Versailles
3.    Untuk mengkaji korelasi kebijakan Amerika di Perang Dunia I dengan Doktrin Monroe
4.    Untuk mengkuji dampak  keterlibatan Amerika dalam Perang Dunia I
5.    Untuk mengkaji latar belakang keterlibatan Amerika Serikat dalam Perang Dunia II
6.    Untuk mengkaji keterlibatan Amerika Serikat dalam Perang Dunia II
7.    Untuk mengkaji dampak terlibatnya Amerika Serikat ke Dalam Perang II

BAB 2. PEMBAHASAN

2.1. Peran Amerika Serikat dalam Perang Dunia I
Perang Dunia I bermula di Eropa pada tahun1914.Amerika sendiri pada awalnya tidak ikut serta dalam perang dunia itu.Mereka merasa bahwa mereka mempunyai hak netraluntuk tidak berpihak pada sisi manapun. Meskipun demikian, kedua blok dalam perangtersebut, yakni sekutu dan As, berusaha untuk mempengaruhi Amerika supaya masuk kedalam blok mereka. Namun karena keduanya yang diwakili Inggris (sekutu) dan Jerman (As) dirasaoleh Amerika melakukan kegiatan-kegiatan yang provokatif seperti memesan senjata dariAmerika dan mengganggu kapal-kapal Amerika yang berlayar di perairan bebas, maka pemerintahan Presiden Woodrow Wilson memprotes kedua pihak itu.
Pada tahun 1914, perhatian publik Amerika terutama ditujukan pada masalahdalam negeri.Sementara itu kepresidenan dikuasai oleh partai demokrat yang menyuarakantentang “kebebasan dan emansipasi negara-negara terjajah juga Amerika sebagai negarakapitalis dan produsen.Sejak 1899, partai ini memang berjuang melawan imperalisme didunia.Saat itu Department of State dipimpin Oleh William Jennings Bryan yang memadukanantara advokasi perdamaian dunia dengan piagam-piagam yang menentang perang danimperalisme.
Meskipun lebih mempedulikan urusan dalam negeri, namun pertikaian antara duakekuatan imperalis di Asia dan Eropa tidak pula diabaikan. Dua blok, aliansi Jerman, Austria,dan Turki di satu pihak dan Inggris, Prancis dan Rusia di lain pihak, mendorong pihak merekasendiri untuk meningkatkan kekuatan bersenjata mereka dengan membebankan pajak sertaharga barang-berang yang tinggi kepada warga negara mereka masing-masing. Presiden Wlsonyakin bahwa bila pertikaian ini berlarut-larut, maka akan terjadi peang besar.
Pada 4 Agustus 1914, ketika perang benar-benar berkobar, Presiden Wilsonmengumumkan netralitas Amerika dalam perang itu. Dua minggu kemudian, dia menyerukanrakyat Amerika agar menyebar semangat itu.“Dampak dari peperangan bagi Amerika bergantug dari apa yang dikatakan atau yang dilakukan oleh warga negaranya.Setiap orangyang mencintai Amerika akan berbuat dan berbicara sesuai dengan semangat yang benar darinetralitas.”
Meskipun presiden telah memberikan pernyataannya, namun rakyat Amerikasebenarnya banyak yang menginginkan Amerika berada di salah satu blok. Orang-orangketurunan Inggris banyak yang condong pada Triple Etente (sekutu), sementara keturunanJerman ingin berada dalam pihak Triple Alliance (As).Namun demikian, tidak ada yang benar- benar mengharapkan Amerika langsung ikut terjun dalam peperangan.
Sebagai negara netral, Amerika mempunyai hak untuk itu yang secara historis danmeyakinkan berada dibawah hukum internasional, antara lain:
1.Negara netral bisa menjual barang-barangnya dan berdagang persenjataan maupun barang-barang lainnya dengan negara yang sedang berperang.
2.Negara yang sedang berperang dapat menekan perdagangan ini dengansaling blokade untuk menghentikan iriingan kapal yang membawa barang-barang tersebut,namun blokade harus efektif yakni dengan sejumlah kapal perang untuk patroli.
3.Jika kapal dagang dari negara netral atau musuh berlayar dantertangkap, maka boleh dimiliki dan diambilalih dalam keadaan tertentu namun tidak bolehditenggelamkan atau dirusak sehingga membahayakan keamanan awak dan penumpangnya.
Dibawah hukum itu dan kebijakan Amerika Serikat, hal ini menjadi tugas bagi Presiden Wilson dalam perdagangan sebagai negara netral.Ia juga harus menghadapi keluhantentang kekerasan terhadap negara netral dari negara-negara yang berperang.
Pemerintah Inggris membuat dua keputusan setelah Amerika menyatakan  netralitasnya. Inggris menyatakan blokade baja di pelabuhan Central Powers dan mengawasi barang dari negara netral yang masuk darinya.Namun gangguan dari kapal-kapal selam Jerman membuat blokade ini tidak efektif namun Inggris menyatakan bahwa blokadenya telah efektif.
Aksi-aksi Inggris tersebut telah mengganggu hak Amerika sebagai negara yang netral.Inggris terus menangkapi dan menahan kapal-kapal Amerika yang berada disekitar wilayah perairan negara-negara netral seperti Belanda Denmark dan Swedia saat menuju keJerman.Inggris menuduh bawa Jerman telah menebar ranjau di lautan Utara yang diklaim olehInggris.Atas keputusan itu State Department di Washington memprotes bahwa KebijakanInggris tersebut bertentangan dengan hukum.
Sementara itu, pemerintah Jerman juga membuat aksi-aksi menentang hukum danmembahayakan warganegara dan properti Amerika di wilayah lautan tersebut. Jerman berpendapat bahwa wilayah yang diklaim Inggris merupakan zone perang dan akanmenenggelamkan setiap kapal yang berlayar disana. Amerika memprotes kebijakan itu lewatPresiden Wilson pada 1915. Jerman pada saat itu mengancam akan menembak setiap kapalyang berlayar di sekitar perairan Britania. Namun Presiden Wilson menyatakan bahwaAmerika akan melindungi setiap kapal dan warga negaranya yang berlayar di lautan tersebutdan mengancam bahwa Amerika tidak akan menolerir tindakan Jerman tersebut bila berhubungan dengan hal tersebut. Saat itu 128 warga negara Amerika tewas ketika kapalLusitania berbendera Inggris ditenggelamkan oleh Jerman. Pemerintah Jerman saat itukhawatir akan adanya pernyataan perang dari Amerika. Kemudian mereka membuat kebijakanuntuk melakukan peringatan kepada tiap kapal yang masuk ke daerah itu sebelummenembaknya bila melanggar, meskipun itu adalah kapal berbendera musuh. Amerika sempatmengultimatium akan memutuskan hubungan deangan Jerman atas kasus sebelumnya.Meskipun demikian, Wilson masih tetap mempertahankan kebijakan netral negaranya menghadapi persoalan perang Dunia I tersebut.
Kebijakan itu membuat Woodrow Wilson semakin populer di kalangan rakyat dan pada tahun 1917, dia terpilih lagi menjadi presiden. Partainya sendiri mempunyai slogan untuk kampanye dirinya, yaitu “He kept us out of war.” Dalam pidato kenegaraanyapun diamenyebut-nyebut tentang “peace without victory.”
Setelah memulai masa jabatan keduanya, Presiden Wilson terus melannjutkankebijakan netralitasnya.Namun seruan-seruan damainya untuk negara-negara yang berperangitu tidak membuahkan hasil. Dalam pidatonya di Senat ,Presiden Wilson menekankan pentingnya Amerika dalam perdamaian dunia dalam prinsip “peace without victory”; hak-hak tiap negara untuk bebas dan memiliki pemerintahan sendiri: kemerdekaan Polandia; dan penolakan terhadap persekutuan untuk perang.
Pada tahun 1917, Jerman melakukan perang kapal selam tak terbatas yang turutmemakan korban kapal-kapal Amerika.Tanpa basa-basi lagi, Presiden Wilson langsungmengusir duta besar Jerman untuk Amerika, Count von Bernstoff, dan memutuskan hubungandengan negara itu.Lalu dalam dua bulan, enam kapal Amerika ditenggelamkan.
Melihat bahwa Jerman mulai menantang Amerika, Presiden Wilson mendesak konggres untuk menyatakan peran. Segeralah Amerika melakukan mobilisasi massa untuk  berperang di Eropa. Setelah mengadopsi resolusi perang, Kongres mulai membentuk danmembuat perencanaan untuk memenangkan perang.Lalu dengan cepat diputuskan bahwa pasukan sukarelawan tidak diperlukan dan angkatan perang diperbesar dengan perekrutanlelaki-lelaki yang mampu.Untuk mendukung hal tersebut, Kongres meningkatkan anggaranmiliter mereka sampai angka milliaran.Pajak dinaikkan disemua sisi.Kongres memberikekuatan lebih luas pada presiden untuk mengontrol, mengatur, dan memberi komando padahal-hal seperti sumber daya alam, industri, perburuhan, penjualan dan distribusi suplaimakanan untuk resimen pasukan, semua propfesi dialihkan untuk tujuan kemenangan dalam perang.Kebebasan untuk berbicara dan bertindak saat itu sangat dibatasi dalam Espionage andSedition Act, Undang-undang paling ketat sepanjang sejarah Amerika.Tidak pernah terjadisebelumnya bahwa seluruh aspek kehidupan di Amerika diatur sedemikian ketatnya.
Presiden Wilson sendiri cukup piawai dalam membawakan tujuan perangnya padarakyat Amerika sendiri atau dunia.Pada diplomasi awalnya dengan Inggris dan Jerman, dimenekankan hak Amerika dalam perdagangan dan perjalanan sebagai negara yang netral.Dalam pesannya pada April 1917, dia mengatakan bahwa Amerika berperang karena beberapa pertimbangan.“Dunia harus aman untuk berdemokrasi.Kedamaian harus ditanamkan padafondaso politik yang bebas.Kami tidak mempunyai tujuan pribadi.Kami tidak menginginkanuntuk menguasai suatu negara.Kami tidak meminta ganti rugi atau kompensasi materi untuk itu.Namun kami adalah satu dari pemenang hak asasi manusia.”Katanya.
Lalu sang presiden juga menjelaskan slogan tentang ”war for democracy” sebagai“war to end war” untuk menetapkan perdamaian yang permanen di seluruh dunia, membuat perubahan dalam penetapan batas teritori yang dirasa selalu dipaksakan, dan menegaskanukuran baru dalam hubungan internasional. Tujuan-tujuan spesifik yang terangkum dalamempatbelas poin dalam pidatonya di Kongres pada Januari 1918. Pokok-pokoknya yaitu: perjanjian terbuka untuk perdamaian; hubungan terbuka untuk menggantikan perjanjianrahasia, intrik, dan persekutuan; kebebasan navigasi di lautan; penghilangan hambatan dalam perdagangan antar negara;penyusutan angkatan bersenjata; kebebasan yang lebih untuk Austro-Hongaria; dan asosiasi negara-negara untuk menjamin hak-hak dan perdamaian antar negara.
Pada saat itu pihak sekutu yang sudah diambang kekalahan mulai bangkit lagi semangatnya dengan kedatangan tentara Amerika.Sebaliknya pasukan Blok As yang terdiri dari Jerman, Austro-Hongaria, Bulgaria dan Turki mulai kelelahan setelah empat tahun berperang dan hampir meraih kemenangan. Pasukan Amerika yang masih segar bugar  bergabung dengan sekutu untuk menyerang blok As. Dibawah Jenderal John J. Pershing,mereka memukul pasukan Jerman dari garis Hindenburg dan menduduki wilayah luas Meusse-Argonne. Di laut, marinir Amerika membantu Inggris menghancurkan blokade dari pihak As.
Pada musim panas 1918 ketika pasukan Jerman mulai terdesak, mereka memohonkepada Amerika untuk berunding atas dasar empatbelas pasal. Setelah mendapat kepastianakan permintaan Jerman ini dari wakil rakyat, Presiden Wilson datang dan bermusyawarah dengan pihak sekutu, lalu menyetujui usulan dari Jerman itu. Atas dasar itu, dicapailah gencatan senjata pada 11 November 1918.
2.2. Perjanjian Versailles
Dalam perundingan ini Presiden Wilson berharap bahwa persetujuan terakhir akanmenjadi suatu perdamaian yang telah dirundingkan. Namun karena piha sekutu telah merasamereka harus mendapatkan kompensasi dari perang, maka mereka berusaha memaksakantuntutan yang sangat keras.. Wilson berpendapat bahwa liga Bangsa-Bangsa sebagai harapanterbesa pedamaian dunia tak akan terwujud bila tidak knsensus diantara negara-negara sekututentang perdamaian. Wilson berhasil mencapai pasal-pasal yang penting seperti: Italia ditolak untuk mendapatkan Fiume, tuntutan Clemenceau (Prancis) untuk melepaskan Rein dari Jermanditentangmya, dan usuk untuk mengganti rugi atas seluruh beaya perang kepada Jermandihalanginya.
Namun pada akhirnya pasal-pasal itu tidak berarti banyak dan pada akhirnya hanyausulan tentang Liga yang tersisa.Bahkan Wilson secara ironis harus menerima kenyataan bahwaSenat menolak baik perjanjian Versailles maupun piagam Liga.Selain itu Wilson jugatelah membuat suatu kesalahan keika menghadiri perjanjian itu dengan tidak membawaseorang anggota terkemuka dari partai oposisi yaitu partai Republik.Selain itu dia juga tidak memberikan konsesi lunak kepada Senat untuk mendapatkan ratifikasi dari Senat yang dikuasaioleh Partai Republik.Dengan demikian tujuan-tujuan perdamaian yang telah dihembuskan oleh Woodrow Wilson sebelumya dapat dikatakan gagal baik di dalam negeri maupun di tingkatinternasional.
2.3. Korelasi Kebijakan Amerika di Perang Dunia I Dengan Doktrin Monroe
Doktrin Monroe (1823) presiden James Monroe menggariskan kebijakan luarnegeriAmerika berkaitan dengan isu tentang Amerika Latin yang ketika itu menjadi perebutan antaraaliansi Holy Alliance (Rusia, Prusia dan Austria)-Prancis dan Inggris ynag berusahamempertahankannya sebagai sebuah koloni. Isi dari doktrin itu antara lain: “the Americancontinents are not henceforth to be considered as sunject for future colonization by anyEuropean power. We should consider any attempt on their part to extend their political systemto any portion of this hemisphere as dangerous to our peace and safety. With the existingcolonies or dependencies of European power we have not interfered and shall not interfere. Butwith the government who have declared their independence and maintained it, and whoseindependence we have…acknowledged, we could not view any interposition for the purposeof oppressing them, or controlling in any other manner their destiny, by any European power inany other light than as the manifestation of an unfriendly disposition towards the UnitedStates.”
Intinya, Amerika menolak segala intervensi pihak Eropa di Amerika. Namundemikian, Amerika akan berperang hanya bila terlebih dahulu diserang dan tidak akan memulaisuatu pertempuran.
Dalam kaitannya dengan doktrin Monroe diatas, kebijakan presiden WoodrowWilson pada awal perang dunia 1 dirasakan sesuai dengan semangat perdamaian yangditerapkan Amerika sebelumnya.Wilson bahkan ketika itu tidak langsung menyerang Jermanketika banyak rakyatnya mati pada insiden kapal Lusitania.Baru ketika Jerman semakinmerajalela, Amerika mendeklarasikan perang. Presiden wilson dalam suatu pidatonya berpendapat bahwa warga negara dan properti Amerika adalah sepenuhnya tanggung jawab pemerintah Amerika. Perusakan atasnya adalah “pertanda permusuhan”.Namun diupayakansuatu cara-cara damai pertama kali. Dalam kasus Jerman ini, memang bukan teritori yangdiserang akan tetapi Wilson menganggap bahwa penyerangan atas perdagangan, dalam hal inikapal-kapal dagang Amerika, adalah pelanggaran terhadap hak asasi manusia mengenai hak hidup. Maka hal itu merupakan alasan kuat bagi Amerika untuk ikut serta dalam perang.
Setelah memenangkan perang bersama sekutu, Wilson tidak lantas membuat klaimatas wilayah-wilayah Amerika.Bahkan dia berusaha mencegah pihak sekutu untuk melalukannya.Namun demikian sejumlah usahanya telah gagal termasuk meyakinkannegerinya sendiri atas piagam Liga Bangsa-Bangsa.Usaha-usaha Presiden Wilson untuk mengakhiri “perang dengan perang untuk demokrasi” telah membawa dilema bagi perdamaiandunia. Disatu sisi imperialisme Jerman bisa diatasi namun disisi lain kemenangan pihak sekututelah membuat pihak tersebut merasa layak untuk berkuasa di dunia sehingga wajar bila perdamaian yang dicita-citakan Presiden Wilson menjadi kabur pada akhirnya meskipun iatelah berusaha keras. Mungkin kesalahnnya karena ia “melanggar” doktrin Monroe tentang politik menarik diri dari konflik diluar Amerika. Namun iapun harus membuat keputusanketika ada hal-hal yang mengganggu kepentingan Amerika dan keputusan peranglah yangakhirnya harus dipilih.Dengan demikian Doktrin Monroe tidaklah menjadi suatu ikatan yangsangat ketat lagi dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat mengingat semakin bertambahnya kepentingan negara.
2.4Dampak  Keterlibatan Amerika dalam Perang Dunia I
2.4.1 Politik
a.     Pendirian Liga Bangsa-Bangsa
Wilson berharap agar perjanjian perdamaian, yang akan disusun oleh pihak pemenang, dirumuskan dengan adil, namun kemarahan dan pengorbanan materi akibat perang selama lebih empat tahun membuat Sekutu Eropa mengajukan tuntutan yang berat. Karena yakin harapan terbesar bagi perdamaian, yaitu Liga Bangsa-Bangsa, takkan dapat terwujud kecuali ia membuat pengecualian, Wilson agak berkompromi dalam hal kebebasan menentukan bentuk pemerintahan sendiri, diplomasi terbuka, dan hal khusus lainnya. Ia berhasil menolak permintaan Perancis akan seluruh Rhineland, dan lumayan mengurangi desakan negeri itu untuk membebani Jerman dengan seluruh biaya perang. Namun, perjanjian akhirnya (Traktat Versailles) menetapkan pendudukan Perancis atas lembah sungai Saar yang kaya akan batu bara dan besi, dan membebankan tanggungan pampasan perang yang sangat berat terhadap Jerman. Pada akhirnya, hampir semua rumusan proposal perdamaian Wilson bagi perdamaian mulia dan langgeng kecuali Liga Bangsa-Bangsa itu sendiri, yang sengaja ia jadikan bagian terpenting dalam perjanjian perdamaian. Akan tetapi, akibat salah langkah, presiden Wilson gagal melibatkan tokoh terkemuka partai Republik dalam negosiasi perjanjian perdamaian.Ia kembali dengan dokumentasi setengah jadi, dan menolak mengadakan konsesi yang diperlukan guna melenyapkan kekhawatiran partai Republik tentang perlindungan terhadap kedaulatan Amerika.  

Ketika perjanjian perdamaian itu belum disetujui oleh komite Senat, Wilson mulai melakukan perjalanan ke seluruh negeri untuk menghimpun dukungan rakyat. Pada 25 September 1919, dengan kesehatan yang memburuk akibat keletihan dalam mewujudkan perdamaian dan tekanan kepresidenan dalam keadaan perang, ia terkena stroke berat. Setelah berminggu-minggu dalam keadaan kritis, ia tidak pernah sembuh sepenuhnya. Dalam dua kali pengambilan suara pada November 1919 dan Maret 1920 Senat kembali menolak Traktat Versailles dan dengan demikian juga menolak Liga Bangsa-bangsa. Liga Bangsa-bangsa takkan pernah mampu menjaga ketertiban dunia.Kekalahan Wilson menunjukkan rakyat Amerika belum siap berperan sebagai pemimpin di tingkat dunia.

Visi Wilson yang terlampau muluk sempat menginspirasi bangsa Amerika dalam waktu singkat, namun ketika terbentur dengan kenyataan, visi tersebut dengan cepat menimbulkan kekecewaan secara luas terhadap masalah dunia.Secara naluriah Amerika kembali menganut isolasionisme.

b.    Diplomasi Amerika Serikat Masa Perang Dunia I
1. Misi House dan Drue ke Eropa
    Ketika krisis mengenai hubungan diplomatik antara AS dengan Jerman berlangsung karena kasus ditenggelamkannya Lusitania, di dalam negeri AS terjadi silang pendapat di antara para politisi. Saran menlu Lansing, selama berlangsungnya krisis mengenai Lusitania, bahwa Wilson mampu mempengaruhi penyelesaian damai hanya melalui perang dengan Jerman sebenarnya diarahkan untuk melawan Kolonel House yang meneruskan sampai  presiden.

House, sebaliknya, nampak mengikuti gagasan teman pendahulunya, Philip Dru, yang pernah berhasil memecahkan masalah dalam negeri AS dan meredakan gerakan revolusi di Amerika Latin, kembali pada masalah hubungan antar negara-negara besar. Ketika Drue melihat hal itu, masalah berpusat pada perlunya menjalin hubungan antara Inggris, Jerman dan AS sehingga persaingan di negara-negara koloni dan negara-negara baru tidak menciptakan peperangan di antara bangsa-bangsa yang 'paling bertanggungjawab' dalam menegakkan peradaban Barat.
Drue telah membayangkan bahwa ambisi Jerman, mungkin dianggap sebagai masalah yang paling sulit bagi kedua negara, dapat diatasi dengan mendorong negara tersebut untuk melibatkan diri dalam urusan Amerika Latin.Di atas kertas pendapat tersebut dapat mencegah perang, namun demikian, dalam kenyataannya, Colonel House gagal untuk mengatasinya.
House telah mengunjungi Eropa pada musim panas tahun 1914 untuk mendesak Inggris dan bangsa-bangsa Eropa untuk mempertimbangkan alternatif tersebut. Setelah perang meletus, dia berusaha percaya bahwa misinya akan berhasil jika para penasehat Kaisar Jerman tidak panik dalam memutuskan peperangan. Dia mencoba memahami para dutabesar Jerman, Perancis dan Inggris mengenai kesempatan untuk mengadakan perundingan serius untuk mengakhiri perang Count von Bernstorff mengundang House untuk datang ke Berlin untuk membicarakan proposal tersebut.Akan tetapi dengan persetujuan presiden, House memulai misinya dengan mengunjungi London terlebih dahulu pada Januari 1915. Di sana dia tinggal sampai Presiden Wilson akhirnya bertanya apakah dia tidak merusak kesempatan untuk berunding dengan Jerman atau tidak.
House menjawab bahwa Jerman belum sepakat memulai pembicaraan damai yang didasarkan atas penarikan pasukan di Belgia dan ganti rugi terhadap negara itu, seperti apa yang ada dalam pikirannya, Dengan kata lain, dunia ini hams direstorasi seperti sebelum perang berlangsung; kemudian AS akan dapat membantu membangun masyarakat intemasional yang lebih baik. Dia menempatkan posisinya dengan pernyataan bahwa Sir Edward Grey tertarik dengan jalan tengah yang ditempuh negara-negara yang berperang yang dikemukakan oleh presiden. House mengusulkan bahwa ketika negara-negara yang bertikai telah berada dalam panggung perundingan dan Presiden Wilson akan mengeluarkan sikap bagi "konvensi damai kedua, untuk mengatasi isu itu, sementara bangsa-bangsa yang sedang bertikai akan menyelesaikan isu-isu lokal dalam berbagai konferensi. Jika isu-isu lokal tersebut dapat diatasi maka kehancuran dan kematian yang mungkin muncul dari peperangan dapat dihindari. "Dia telah memperkirakan kejadian itu", tulis House kepada Perdana Menteri Inggris, "sebagai salah satu harapan bagi masa depan, dan jika kita tidak dapat menyelesaikan apapun, Anda akan mampu melakukan sesuatu pekerjaan yang penting bagi dunia".
Ketika House akhrirnya sampai di Berlin, tanpa mencapai tujuan pertamanya, dia mendiskusikan kemungkinan kerjasama Jerman-AS yang lebih besar di Amerika Selatan setelah perang berakhir, sebuah pikiran yang tentu saja mengejutkan para pejabat kementrian hiar negeri. AS yang mempertanyakan apakah Doktrin Monroe telah berubah.Kolonel House kembali ke Inggris sebelum kapal Lusitania ditenggelamkan. Dia menyarankan Presiden Wilson bahwa pemimpin-pemimpin Inggris sedang menyaksikan perilaku orang-orang Amerika yang melihat apakah AS akan mengambil sikap terhadap perang kapal selam: "Tindakan kita dalam krisis ini akan menentukan bajgian yang akan kita mainkan ketika perdamaian tercipta, dan seberapa jauh kita mcmpengaruhi penyelesaian damai yang baik bagi umat manusia" Apa yang mempengamhi daya tank Houise atas keputusan Presiden untuk menekan isu tersebut tak dapat diukur dengan tepat. Menlu Lansing percaya bahwa hal itu berpengaruh terhadap janji Presiden Wilson, dalam catatan Lusitania, bahwa dia juga akan menekan Luggers untuk menjamin kebebasan yang susungguhnya di lautan Dia juga berpikir bahwa undangan ke Jerman untuk bekerjasama dalam usaha tersebut telah dimasukkan untuk memenuhi beberapa rencana rahasia seperti yang jug'a direncanakan oleh Kolonel House. Namun demikian, nyatanya bahwa House tidak begitu netral bila dibandingkan dengan kekhawatiran Lansing.Dia telah mengambil alih misi damainya dengan meyakini bahwa posisi AS berhadapan dengan Sekutu berbeda dengan posisinya menghadapi Jerman.
Pada tanggal 30 Juli 1915, wartawan beraliran liberal, Oswald Garrison Villiard menyurati menlu Lansing, "mengapa AS mengatakan pada Inggris bahwa hukum blokade dapat diubah selama perang, dan menghendaki Jerman bahwa hukum mengenai serangan terhadap kapal tak dapat diubah?" Pemerintah selalu memberi jawaban sama terhadap pertanyaan tersebut, bahwa perang kapal selam mengorbankan nyawa bangsa Amerika, sedangkan, blokade Inggris hanya mengganggu kelancaran arus barang-barang Amerika ke tempat pemasaran.

Yakin bahwa kemenangan Jerman berarti kemenangan "militerisme" jika bukan merupakan ancaman bagi AS, Wilson menyatakan kepada House bahwa pada bulan September 1915 bahwa dia tidak begitu yakin bahwa AS telah mengambil sikap yang benar ketika AS menyatiikan tetap netral walaupun Jerman telah memulai perang. Sikap ini dibaca oleh Kolonel House sebagai "kebijaksanaan yang positif' untuk menghindari AS dari sebuah dilema, serta memenangkan perdamaian dan mencegah berlanjutnya militerisme di darat dan laut. Usaha itu mungkin akan dilaksanakan dengan cara meminta Sekutu menyetujui rencana damai yang diawali dengan mengutus diplomat-diplomat AS ke London, Paris dan Berlin. Negara-negara Sentral diharapkan juga menyetujui rencana tersebut.
Presiden Wilson sepakat dengan rencana tersebut sambil menambahkan kata"kemungkinan" terjadinya perang dengan Jerman jika Jennan menolak rencana damai.Wilson berpendapat bahwa AS harus ambil bagian dalam menekan Jennan untuk berunding.Ketika Kolonel House mengirimkan memorandum ke London dan Paris dia memperoleh respons yang dingin dari pemimpin negara-negara tersebut.Ketika mendiskusikan masalah tersebut pada awal tahun 1916, House mulai menyadari bahwa betapa perjanjian-perjanjian rahasia yang dilakukan Sekutu telah mengurangi kesempatan berhasilnya misi damai di Eropa dan penyelesaian damai yang dapat diterima oleh AS. Sir Edwar Grey, pemimpin Inggris, menolak menghadiri konferensi yang bertujuan mengakhiri perang. Bahkan memorandum House dan Grey bulan Pebruari 1916 yang menyatakan bahwa terdapat kesempatan bagi Sekutu bersama AS untuk mengakhiri perang tidak dapat dilaksanakan. Dengan rasa frustrasi House menyatakan bahwa jika negara-negara Sekutu mengalahkan Jerman maka mereka bisa menjadi negara-negara diktator di seluruh dunia.
AS melihat bahwa tercapat ambisi di antara negara-negara Sekutu dan negara-negara Sentral untuk memperoleh supremasi ekonomi pasca perang. Kedua belah pihak akan terus bersaing untuk memperoleh supremasi ekonomi dan perdagangan. Dengan demikian, siklus akan terulang kembali dimana negara-negara Eropa jaman kolonial mengancam kepentingan AS. Dalam sebuah konferensi ekonomi bulan Juni 1916 negara-negara Sekuui sepakat untuk membentuk pakta perdagangan pasca perang dengan tujuan meningkatkan ekspor dan mendominasi perdagangan dunia.
Negera-negara Sekutu mendorong AS untuk bergabung dengan Sekutu jika tidak ingin ketinggalan dalam perdagangan internasional.Dengan kesepakatan tersebut nampak bahwa tidak ada pilihan bagi AS kecuali bergabung dengan Sekutu.Presiden Wilson juga menerima peringatan dari pemimpin Senat bagian politik luar negeri untuk melihat situasi yang berkembang terakhir dimana kepentingan dagang lebih mendesak dibandingkan dengan mempertahankan sikap netral.Keraguan sikap Presiden Wilson mengenai tujuan perang Sekutu mendorong dia untuk terlibat dalam perang melawan Jerman, bukan sebagai anggota negara-negara Sekutu melainkan sebagai negara peserta (associated nation) yang berperan dalam menentukan langkah-langkah damai melalui meja perundingan.
Sikap tidak tegas Wilson dalam bergabung dengan sekutu mengkhwatirkan Robert Lansing sebagai menlu.Lansing khawatir bahwa keraguan sikap tersebut dapat menjauhkan AS dari negara-negara Sekutu. Kekhawatiran dia memuncak ketika Wilson berbicara di depan Kongres tanggal 22 Januari 1917 menghendaki perdamaian tanpa kemenangan perang yang pasti. Ketika Jerman membuka kembali perang kapal selam tak terbatas tanggal 31 Januari 1917 sikap Presiden Wilson masih tetap bahkan dia masih menghendaki agar perang itu berakhir dengan draw (tidak ada yang menang dan kalah). Baru pada tanggal 19 Maret 1917 sikap presiden Wilson mulai jelas setelah dia di depan Kongres AS menyatakan perang terhadap Jerman.

2.     Diplomasi menghadapi kejadian di Rusia dan Jepang.
Keterlibatan AS dalam Perang Dunia I dikejutkan dengan kejadian Revolusi pada bulan Pebruari-Meret di Rusia yang menumbangkan rezim lama Nicolai II.Menghadapi kejadian di Rusia, Menlu Lansing bersama para pengambil keputusan politik luar negeri telah menyiapkan rencana diplomasi baru. Didasarkan atas anggapan bahwa pengiiasa Rusia yang baru akan menjadi kekuatan raksasa baru di bidang ekonomi di Eropa, Menlu Lansing mengutus David Francis, mantan gubernur di Missouri, sebagai dubes AS di Rusia. Francis ditugaskan untuk mengadakan perundingan dagang dengan Rusia sebelum negeri itu melaksanakan hasil kesepakatan Konferensi Ekonomi Perancis tahun 1916.
Dalam perundingan antara Prancis dan pemimpin Rusia tersebut disepakati bahwa AS bersedia memberikan pimjaman sebesar 50 juta dolar serta cadangan sebesar 100 juta dolar bagi Pemerintahan Sementara Kerenski. Pemerintah AS juga sepakat untuk memberikan bantuan teknik dan tenaga ahli keuangan. Di bawah  pimpinan Elihu Root, yang dikenal dengan sebutan "Root Commission", AS memberikan bantuan tambahan kepada Rusia sebesar 100 juta dolar.
Ternyata bantuan tersebut merupakan salah satu kegagalan diplomasi AS, yang disebabkan kesalahan dalam membaca situasi politik di negara yang sedang mengalami revolusi tersebut.Pemerintahan sementara yang dipimpin oleh Kerenski jatuh dan digantikan oleh Lenin yang didukung oleh golongan Bolsevik tanggal 7 November 1917.Lenin memproklamasikan negara sosialis yang mengeluarkan kebijaksanaan damainya serta berusaha mendistribusikan tanah untuk petani. Lenin menyatakan bahwa revolusi Rusia akan menyebar ke seluruh negara yang sedang bertikai dalam perang dunia. "Sejak sekarang", kata Lenin, "Rusia akan berhadapan dengan Wilson dan pemimpin negara-negara kapitalis dan imperialis".AS yang merasa terancam dengan politik luar negeri Rusia tersebut harus mengubah kebijaksanaan politik luar negerinya dengan melihat Rusia Baru sebagai ancaman kepentingan AS di Eropa.
    Gagal dalam mengikat Rusia, AS di bawah menlu Lansing berhasil mendekati Jepang mengenai China dan Manchuria.Pada tanggal 2 November 1917 Menlu Lansing dan dubes Jepang di AS, Kikujiro Ischii mengadakan perjanjian damai. Dalam politik luar negeri AS, perjanjian tersebut memiliki alasan, 1) untuk mencegah China jatuh ke tangan Jepang dan menjadi ancaman bagi kepentingan AS, dan 2) untuk memulai upaya plomatik baru dalam mencegah negara-negara Eropa dan Jepang menanamkan pengaruhnya di China.
Upaya untuk mengikat Jepang juga dilakukan oleh Inggris pada tanggal 18 Januari 1918 ketika Jepang diberi mandat untuk menggunakan jalan raya Trans-Siberia dan untuk membantu gerakan anti-Bolsevik serta mencegah upaya "menJermankan Rusia" oleh Jerman. Di mata para diplomat AS, pemberian mandat kepada Jepang tersebut akan menambah kekuatan baru bagi upaya mengepung Rusia dari arah timur.
Presiden Wilson mengutus Kolonel House untuk menemui para pemimpin negara-negara Sekutu dengan membawa persyaratan-persyaratan AS. Perdana Menteri Inggris, David Lloyd George, merasa keberatan dengan persyaratan-persyaratan yang dibawa AS. Namun demikian, setelah beberapa kali perundingan beberapa pemimpin sekutu sepakat agar perundingan antara Jerman dan AS dipisahkan antara perundingan antara Jerman dengan negara-negara Sekutu.Lloyd George mengharapkan adanya beberapa interpretasi dari poin dua mengenai t£Empat Belas Point Presiden Wilson" mengenai kebebasan di laut lepas. Dia hanya akan menyepakati hal itu berdasarkan hasil perundingan damai dalam sebuah konferensi khusus. Kolonel House merasi yakin bahwa keberatan dari Lloyd George dan Perdana Menteri Perancis, Georges Clemenceau, tidak akan mengganggu persyaratan-persyaratan yang diajukan oleh AS.
Gencatan senjata yang ditandatangani tanggal 11 November 1918 tersebut mengakhiri perang yang berlangsung selama empat tahun tersebut.Namun demikian, para pemimpin militer sekutu rnasih mengkhawatirkan situasi politik di perbatasan Jerman sebelah timur, yang berbatasan langsung dengan Rusia. Mereka sepakat untuk menambah persyaratan gencatan senjata dengan menyatakan bahwa Jerman dilarang mengevakuasi kawasai tersebut sampai Sekutu menyatakan bahwa evakuasi bisa dilaksanakan Dengan kata lain, evakuasi bisa dilakukan sampai ancaman dari kekuatan Bolsevik di Rusia mereda.
Dalam sebuah perjalanan ke Eropa yang menggunakan kapal USS Wahmington, Presiden Wilson menyatakan kepada para delegasi AS bahwa "racun Bolsevisme" telah diterima oleh semua orang sebab racun tersebut merupakan bentuk protes terhadap cara negara-ngara di dunia bekerja. Adalah merupakan urusan negara-negara yang ikut dahirn konferensi damai untuk menciptakan orde baru dalam masyarakat dunia. Dalam pertemuan pertama komisi yang ditunjuk untuk menyusun draf mengenai Liga bangsa-bangsa tanggal 25 Januari 1919 Presiden Wilson menyatakan bahwa tujuan AS terjun dalam perang adalah bukan untuk perang itu sendiri melainkan untuk menegakkan demokrasi.
Dalam "Empat belas point Presiden Wilson" poin lima dinyatakan bahwa "perlu adanya penyelesman yang adil, terbuka dan bebas terhadap semua klaim daerah koloni serta perlu mempertimbangkan kepentingan penduduk di daerah-daerah koloni". Namun demikian, dalam Konferensi di Versailes prinsip tersebut tidak bisa ditegakkan mengingat tnasing-masing anggota peserta memiliki kepentingan sendiri. Dalam Konferensi tersebut disepakati bahwa negara-negara peserta yang memenangkan perang seperti Inggris, Perancis dan Italia menerapkan konsep "mandat" bagi negara-negara bakas jajahan Jerman di Afrika dan Asia-pasifik serta bekas wilayah kekuasaan Turki Usmania sebagai sekutu Jerman yang dikalahkan.
Inggris sebagai negara yang memiliki mandat, menguasai bekas jajahan Jerman di Afrika; Perancis membagi-bagi bekas kekuasaan Turki di Asia barat daya dan Afrika Utara; dan Jepang menguasai beberapa wilayah jajahan Jerman di kawasan Pasifik.
Dalam Konferensi Versailes tersebut AS dengan terpaksa mengakui sistem mandat dengan menerima wilayah Armenia sebagai bagian dari tanggung jawabnya.Namun demikian, AS tetap menentang sistem tersebut dan Liga bangsa-bangsa yang didirikan serta yang memberikan mandat kepada negara-negara pemenang perang.Dalam pandangan diplomat AS, Konferensi Perdamaian di Versailes tidak banyak menguntungkan bagi kepentingan politik luar negeri AS dan lebih banyak menguntungkan negara-negara Eropa.
2.4.2 Ekonomi
    Presiden Wilson, sedikit terganggu oleh perang, lalu ditumbangkan oleh stroke, telah salah menangani hampir semua permasalahan pascaperang. Ekonomi yang melonjak dipertengahan 1920-an mulai meluncur turun. Kandidat presiden dan wakil dari partai Republik, Warren G. Harding dan Calvin Coolidge, dengan mudah mengalahkan lawan dari partai Demokrat, James M.Cox dan Franklin D. Roosevelt. Setelah meratifikasi amandemen ke-19 dalam Konstitusi, kaum wanita untuk pertama kalinya menggunakan hak suaranya dalam pemilihan presiden.
    Dua tahun pertama masa pemerintahan Harding merupakan perpanjangan resesi ekonomi yang sudah dimulai sejak masa presiden Wilson.Akan tetapi, selama 1923, kemakmuran hadir kembali. Selama enam tahun berikutnya Amerika menikmati ekonomi yang paling kokoh sepanjang sejarah, paling tidak
di daerah urban. Kebijakan ekonomi sepanjang 1920-an teramat konservatif.
Didasari keyakinan bahwa jika pemerintah menumbuhkan usaha swasta, keuntungan akan menyebar ke hampir seluruh penduduk. Bertalian dengan itu, partai Republik mencoba menciptakan kondisi paling menguntungkan bagi industri di Amerika.
Cukai Fordney-McCumber pada 1922 dan Cukai Hewley-Smoot pada 1930 menghasilkan hambatan perdagangan Amerika yang memprihatinkan,
menjamin pengusaha industri Amerika dalam berbagai bidang untuk memonopoli pasar dalam negeri, tapi memblokir perdagangan sehat dengan Eropa yang sebenarnya mampu memperkuat perekonomian internasional. Ini terjadi pada
awal masa Depresi Besar, sehingga Hawley-Smoot memicu aksi balasan dari negara industri lain yang meningkatkan penderitaan ekonomi dunia.
Pemerintah Amerika juga memulai program pemotongan pajak, mencerminkan keyakinan menteri keuangan Andrew Mellon bahwa pajak tinggi atas penghasilan pribadi dan perusahaan menghambat investasi terhadapindustri baru.
Dalam hukum yang diloloskan antara 1921 sampai 1929, Kongres mendukung proposal Mellon. “Bisnis pokok rakyat Amerika adalah berbisnis.” ujar Calvin Coolidge lantang, wakil presiden kelahiran Vermont yang menggantikan presiden pada 1923 setelah kematian Harding, dan terpilih pada
1924.
Coolidge memangkas kebijakan ekonomi konservatif partai Republik namun dirinya administrator yang lebih terampil daripada Harding yang malang, dengan pemerintahan yang dinodai tuntutan korupsi beberapa bulan sebelum
kematiannya. Sepanjang era 1920-an, swasta mendapat dukungan besar, termasuk kredit pembangunan, kontrak pos yang menguntungkan,
dan subsidi tak langsung lainnya.
Dalam UU Transportasi pada 1920 misalnya, mengembalikan pengelolaan kereta api dikembalikan kepada pihak swasta, yang selama perang dikelola pemerintah. Merchant Marine atau Pedagang Lautan, yang sebelumnya dimiliki dan sebagian besar dioperasikan oleh pemerintah, dijual kepada pengelola swasta.
Akan tetapi, kebijakan pertanian partai Republik menghadapi kritikan
keras, karena petani paling tidak merasakan kemakmuran era 1920-an. Periode sejak 1900 adalah periode kenaikan harga komoditas pertanian. Permintaan komoditas pertanian Amerika semasa perang yang tidak terduga merangsang perluasan industri.Tapi pada akhir era 1920-an, dengan berhentinya perang secara mendadak, komoditas utama pertanian seperti gandum dan jagung menurun tajam.
Banyak faktor penyebab pertanian Amerika mengalami depresi, namun faktor terbesar adalah menghilangnya pasar luar negeri.Sebagian akibat aksi balasan kebijakan tarif Amerika, tapi juga karena komoditas pertanian berlebihan yang menjadi fenomena global pada waktu itu. Ketika Depresi Besar pada era 1930-an menghantam, hal itu turut menghancurkan pertanian Amerika yang memang sudah rapuh.
Mengesampingkan penderitaan pertanian Amerika, pada era 1920-an ini hampir seluruh rakyat merasakan nikmatnya kehidupan.Dekade di mana keluarga biasa pertama kalinya membeli mobil, kulkas, mesin penyedot debu, mendengar radio untuk hiburan dan secara teratur pergi ke bioskop.Kemakmuran itu nyata dan terdistribusi secara merata.Oleh karenanya, partai Republik diuntungkan secara politik, dengan menuntut pengakuan atas keberhasilan tersebut.

2.4.3    Bidang Sosial
    Sepanjang era 1920-an, untuk pertama kalinya dalam sejarah, Amerikamembatasi secara ketat migrasi dari luar negeri. Besarnya arus warga asing yang datang telah menciptakan sejumlah ketegangan sosial, namun paling banyak merupakan keturunan Eropa Utara dan, kalau tidak cepat berasimilasi, setidaknyamereka memiliki sejumlah persamaan dengan kebanyakan rakyat Amerika. Akan tetapi, selama akhir abad ke-19, arus imigran hampir didominasi warga dari Eropa selatandan timur.
Menurut sensus tahun 1900, populasi Amerika lebih dari 76 juta orang.Lima belas tahun kemudian, lebih dari 15 juta imigran masuk Amerika.Sekitar dua pertiga dari arus imigran terdiri atas kewarganegaraan “baru” dan kelompok etnis baru-Yahudi Rusia, Polandia, Slavic, Yunani, Italia utara. Mereka semuaberagama non Protestan, non “Nordik”, dan yang ditakuti kebanyakan rakyat Amerika, tidak dapat berasimilasi. Mereka melakukan pekerjaan berat, kadang berbahaya, dengan upah rendah-tapi dituduh merendahkan standar upah wargakelahiran Amerika. Mereka menetap di perkampungan etnis dalam kota yang kumuh, imigran baru itu tampak memelihara kebiasaan “Dunia Lama”, hidup dengan kemampuan berbahasa Inggris yang sangat minim, dan menopang mesin politik menjijikkan yang mencukupi kebutuhan mereka. Kaum Pribumi inginmengirim mereka kembali ke Eropa; pekerja sosial ingin meng-Amerikakan mereka.Keduanya sepakat imigran ini merupakan ancaman bagi kepribadian Amerika.
Terhenti karena Perang Dunia I, imigrasi massal dimulai lagi pada 1919, namun segera terbentur pertentangan keras dari sejumlah kelompok seperti Federasi Buruh Amerika (American Federation of Labor) dan Ku Klux Klan yang licik.
Sekian juta rakyat Amerika lain yang tidak tergabung salah satu kelompok
menyetujui pandangan umum bahwa etnis non-Eropa Utara lebih rendah dibanding mereka dan mendukung pembatasan imigran. Tentu, ada juga argumen praktis yang mendukung pembatasan pendatang baru bagi negara yang beranjak dewasa.

2.5Latar Belakang Keterlibatan Amerika Serikat Dalam Perang Dunia II
    Pengeboman Pearl Harbour oleh Jepang, pada tanggal 8 desember 1941 telah membawa Amerika kepada perang dunia ke II di daerah pasifik. Pengeboman ini dilakukan.kala itu angkatan laut Jepang menyerang markas AL Amerika secara tiba-tiba di Hawai. Dampak serangan ini rusak dan tenggelamnya kurang lebih 20 buah kapal tempur Amerika, 188 pesawat terbang rusak dan 2.403 korban jiwa.Dipihak Jepang hanya kehilangan 55 buah pesawat tempur dari 441 pesawat yang dipakai.
Pada 26 November 1941 angkatan yang terdiri atas enam kapal induk diperintah oleh wakil laksamana Chaichi Naguma.Jepang meninggalkan Teluk Hitokappu di Kepulauan Kuril dan meuju Pearl Habour tanpa melakukan hubungan radio langsung.Pada tanggal 7 Desember 1941, kapal terbang angkatan tersebut mengebom semua pangkalan militer Amerika Serikat di Kepulauan Hawai.Hampir semua kapal terbang Amerika Serikat dimusnahkan di atas tanah, hanya beberapa pejuang berhasil lolos dan bertempur. 12 kapal perang dan kapal lain ditenggelamkan atau rusak, 188 kapal terbang dimusnahkan, 155 telah rusak dan 2.403 orang Amerika kehilangan nyawanya. Kapal perang SS Arizona diledakkan dan tenggelam menyebabkan 1.100 orang kehilangan nyawa.
Tembakan Amerika pertama dilepaskan pada perang dunia II dan korban pertama serangan Pearl Habor sebenarnya terjadi saat USS Ward menyerang dan meneggelamkan kapal selam kerdil Jepang. Kapal induk Jepang yang terlibat dalam serangan tersebut adalah : Akagi, Hiryu, Kaga, Shokaku, Shoryu, Zuikoku semuanya memiliki sejumlah 441 kapal terbang, termasuk pejuang, pengebom-torpedo, pengebom penyelam dan Fighter-bombers. Dari semuanya 29 musnah dalam pertempuran.Kapal terbang menyerang dalam dua gelombang dan Nagumo memutuskan untuk membatalkan serangan ketiga untuk mundur.
Strategi yang digunakan angkatan Jepang berlayar ke arah Pearl Harbour tanpa pemberitahuan sampai saat-saat terakhir.Tujuan serangan Pearl Habour adalah melumpuhkan Angkatan Laut Amerika di Pasifik, walaupun untuk sementara.Jepang telah terlibat dalam perperangan dengan Cina selama beberapa tahun dan telah merampas Manchuria beberapa tahun sebelumnya.Rancangan untuk serangan Pearl Harbor untuk menyokong kelanjuta ketentaraan lanjut bermulai pada januari 1941, dan latihan untuk misi berlangsung pada pertengahan tahun saat proyek ini dianggap layak.
Sebagian dari rancangan Jepang untuk serangan ini termasuk memutuskan perundingan dengan Amerika sebelum serangan tersebut.Duta dari kedutaan Jepang di Washington, termasuk wakil istimewa Kurusu Saburu telah mengadakan perbincangan lanjut dengan departemen negara mengenai reaksi Amerika terhadap pergerakan Jepang ke Indo-cina pada musim panas.Serangan ke atas Pearl Harbor merupakan malapetaka strategis bagi Jepang. Salah satu tujuan Jepang adalah untuk memusnahkan tiga kaapal induk Amerika yang diletakan di Pasifik, tetapi tiada ketika serangan terjadi Enterprise dalam perjalanan pulang, Lexington telah berlayar keluar beberapa hari sebelumnya,dan saratoga berada di San Diego selepas pengubah-suaian di Galangan angkatan laut Puget sound.
Presiden F.D Roosevelt menandatangani Deklarasi perang terhadap Jepang pada hari berikutnya selepas serangan. Kemungkinan yang paling penting, serangan Peearl Haarbor bertindak sebagai katalisator yang menggerakkan sebuah negara untuk bertindak serta merta yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh perkara lain. Dalam waktu semalam saja, ia menyatukan seluruh Amerika dengan tujuan berperang dan memenagkan peperangan dengan Jepang, dan kemungkinan mendorong kedudukan penyerahan tanpa syarat yang ditekankan oleh pihak sekutu.
Pada tanggal 8 Desember 1941 Kongres Amerika serikat menyatakan perang atas Jepang.Pemerintah Amerika serikat meneruskan pengerahan tentara dan mulai beralih kepada ekonomi perang.Permasalahan tekhnis adalah kenapa Jerman Nazi menyatakan perang atas AS pada 11 Desember 1941 sejurus selepas serangan Jepang. Hitler tidak perlu melakukannya di bawah syarat blok poros, tetapi tetap melakukannya. Ini pasti menggandakan kemarahan penduduk Amerika dan membenarkan Amerika untuk memberikan bantuannya kepada Britania Raya.Meskipun berhasil menenggelamkan kapal induk Amerika, tidak membantu Jepang dalam jangka panjang. Karena serangan tersebut membuat Amerika terlibat penuh dalam perang dunia Ke II, mendorong kekalahan blok poros sedunia. saat mendengar bahwa serangan Jepang atas Pearl Harbour akhirnya telah melibatkan pihak Amerika dalam perang dunia ke II.
    Selain faktor tersebut terdapat pula faktor yang sifatnya tidak langsung.Faktor tersebut adalah Amerika Serikat tidak bisa mempertahakan sifat netral terhadap masalah peperangan eropa. Ketidak mampuan  AS  dalam  mempertahankan  sikap  netralnya  dalam  urusan  Eropa berusaha  diperbaiki  dalam  tahun  1930-an.  Antara  tahun  1935-1939  dikeluarkan  sejumlah kebijaksanaan yang pada prinsipnya berusaha mempertahankan kenetralan untuk tidak memihak negara-negara  yang  bertikai.  Sikap  netral  itu  antara  lain  ditunjukkan  dengan  embargo  senjata terhadap  negara-negara  yang  bertikai.  Namun  demikian,  sikap  netral  tersebut  juga  tidak  bisa dipertahankan.  Dalam  praktek,  seringkali  sikap  netral  AS  dalam  politik  luar  negerinya bertentangan  dengan  kepentingannnya  sendiri.  Keterlibatan AS  dalam  Perang Dunia  II,  dapat dijelaskan dari ketidakkonsistenan negara tersebut menjaga politik netralnya. Sebelum Perang Dunia meletus, AS sudah melenggar sikap netralnya untuk tidak menjual senjata ke Italia dan Ethiopia yang sedang berperang. Ekspor senjata, baja dan minyak bumi AS terhadap negara-negara  tersebut  semakin meningkat  sampai 300 persen. Ketika perang  sipil di Spanyol meletus tahun 1936, kelompok Loyalis diembargo. Sebaliknya, kaum pemberontak yang dipimpin oleh  Jenderal Franco menerima  senjata dari  Italia dan  Jerman.

2.6Keterlibatan Amerika Serikat Dalam Perang Dunia II
Negara dengan cepat melakukan mobilisasi rakyat dan seluruh kapasitas industrinya. Pada tanggal 6 Januari 1942, Presiden Roosevelt mengumumkan target produksi yang mengejutkan. Tahun itu ditargetkan harus selesai 60.000 pesawat, 45.000 tank, 20.000 meriam antipesawat, dan 18 juta ton pengiriman niaga.seluruh kegiatan nasional yang meliputi pertanian, manufaktur, pertambangan, perdagangan, tenaga kerja, investasi, komunikasi, bahkan pendidikan dan kegiatan budaya berlangsung di bawah pengawasan baru yang menyeluruh. Negara mengumpulkan uang dalam jumlah besar dan menciptakan industri baru untuk produksi kapal, kendaraan lapis baja, dan pesawat secara massal.Perekrutan juga berlangsung.Di bawah serangkaian peraturan wajib militer, Amerika Serikat menjadikan angkatan bersenjatanya punya berkekuatan total 15.100.000.Pada akhir 1943, sekitar 65 juta pria dan wanita menjadi tentara atau bekerja di bidang yang berhubungan dengan perang.
Serangan ke Amerika Serikat melumpuhkan daya tarik kaum isolasionis dan mobilisasi militer pun bisa dilakukan yang cepat. Namun, akibat serangan Pearl Harbour dan ketakutan akan kegiatan spionase Asia, Amerika juga melakukan tindakan antitoleransi yaitu menawan orang-orang Amerika keturunan Jepang. Pada bulan Februari 1942, hampir 120.000 orang Jepang- Amerika yang tinggal di California dipindahkan dari rumah mereka dan ditahan di 10 kamp sementara yang kondisinya buruk dan dipagari kawat berduri. Mereka kemudian dipindahkan ke luar kota -kota terpencil di bagian Barat Daya. Hampir 63 persen warga Jepang-Amerika adalah Nisei, lahir di Amerika, dan dengan sendirinya adalah warga Negara Amerika Serikat.Tidak ada bukti kegiatan spionase yang bisa dimunculkan.Bahkan, warga keturunan Jepang-Amerika dari Hawaii dan daratan Amerika Serikat lainnya ikut bertempur dengan gagah berani dalam dua satuan infanteri di Italia.Yang lainnya bertugas sebagai penerjemah di Pasifik.Pada tahun 1983, pemerintah Amerika Serikat mengakui adanya ketidakadilan dalam penahanan tersebut dengan memberikan santunan terbatas kepada orang Jepang-Amerika kala itu yang masih hidup.
Tak lama setelah Amerika Serikat ikut berperang, Sekutu barat memutuskan untuk memusatkan upaya militer mereka di Eropa, di mana pusat kekuatan musuh berada, sementara wilayah Pasifik dinomorduakan. Pada musim semi dan panas tahun 1942, tentara Inggris bisa menahan masuknya Jerman ke Mesir dan menekan Jenderal Jerman Erwin Rommel untuk mundur ke Libya sehingga lenyaplah ancaman Terusan Suez, yang menhubungkan Laut Tengah dan Laut Merah.
Tanggal 7 November 1942, tentara Amerika mendarat di Afrika utara jajahan Perancis, dan setelah pertempuran habis-habisan, berhasil menimpakan kekalahan besar kepada tentara Italia dan Jerman.Tahun 1942 juga merupakan titik balik di Medan Tempur Timur, dimana Uni Soviet dengan kerugian luar biasa berhasil menghentikan invasi Nazi di gerbang Leningrad dan Moskow serta dapat mengalahkan pasukan Jerman di Stalingrad.
Pada bulan Juli 1943, pasukan Inggris dan Amerika menduduki Sisilia dan akhir musim panas, pesisir selatan Laut Tengah dibersihkan dari kekuatan Fasis.Pasukan Sekutu mendarat di Italia dan meskipun pemerintah Italia menyerah tanpa syarat, pertempuran melawan tentara Nazi di Italia berlangsung sengit dan berlarut-larut.Kota Roma tidak bebas hingga tanggal 4 Juni 1944.Sementara pertempuran masih berlangsung di Italia, pasukan Sekutu melakukan serbuan udara terhadap jalur kereta, pabrik-pabrik, penyimpanan senjata Jerman serta pesediaan minyak Jerman di Ploesti, Rumania.
Pada akhir 1943, tentara Sekutu setelah melakukan perdebatan panjang mengenai strategi, memutuskan untuk membuka medan tempur Barat untuk memaksa Jerman mengalihkan lebih banyak tentaranya dari medan tempur Rusia. Jenderal Amerika Serikat, Dwight D. Eisenhower ditunjuk sebagai Panglima tertinggi Sekutu di Eropa. Setelah melalui persiapan luar biasa, pada tanggal 6 Juni 1944 rombongan pertama invasi tentara Amerika Serikat, Inggris dan Kanada yang dilindungi angkatan udara yang hebat, mendarat di pantai Normandia di utara Perancis. Dengan pendirian benteng di pantai setelah terjadi pertempuran sengit, makn banyak tentara yang masuk dan banyak satuan tentara Jerman yang ditangkap setelah terkepung oleh gerakan capit kepiting.Tentara Sekutu mulai bergerak melintasi Perancis menuju Jerman.tanggal 25 Agustus 1944 Paris berhasil dibebaskan. Di perbatasan Jerman, tentara Sekutu dihadang oleh perlawanan keras , namun tentara Jerman berhasil maju ke Jerman dari arah barat. Tentara Jerman bertekuk lutut di hadapan tentara Rusia bagian timur.Tanggal 8 Mei 1945, semua kekuatan angkatan darat, laut, dan udara Third Reich yang tersisa menyerah.
Sementara itu, tentara Amerika Serikat bergerak maju di Pasifik.Walau pasukan Amerika Serikat dipaksa menyerah di Filipina pada awal 1942, tentara Sekutu menyerang pada bulan -bulan berikutnya.Pada bulan April, Jenderal James Doolittle memimpin pasukan pengebom Amerika Serikat menyerang Tokyo.Secara militer serangan ini berdampak kecil, namun dengan adanya serangan tersebut memberikan dorongan psikologi yang besar terhadap rakyat.Dalam pertempuran Laut karang yang merupakan pertempuran laut pertama di mana seluruh pertarungan dilakukan oleh pesawat yang lepas landas dari kapal induk.Angkatan laut Jepang menderita kerugian besar sehingga mereka terpaksa membatalkan ide untuk menyerbu Australia.Pertempuran Midway di tengah-tengah Samudra Pasifik menjadi titik balik bagi Sekutu, dimana tentara Jepang untuk pertama kali kalah besar.Jepang kehilangan empat kapal induk sehingga langkahnya menyeberangi Pasifik tengah terhenti.
Pertempuran lain-lain juga menyumbang kesuksesan Sekutu. Guadalcanal, sebuah kemenangan yang menentukan untuk Amerika Serikat, manandai aksi ofensif pertama Amerika Serikat di Pasifik selama dua tahun berikutnya, pasukan Amerika dan australia yang mencari jalan untuk bergerak ke arah utara kepulauan Pasifik, berhasil menguasai Kepulauan Solomon, Gilbert, Marshall, Mariana, dan Bonin melalui serangan amfibi.
Perang di Pasifik terus berlanjut setelah Jerman menyerah, dan pertempuran-pertempuran pamungkas di Pasifik terhitung paling dasyat.Pada awal Juni 1944, Pertempuran Laut Filipina meluluhlantakan Angkatan Laut Jepang, memaksa Perdana Menteri Jepang Tojo mundur dari jabatannya.Jenderal Douglas MacArthur yang dua tahun sebelumnya dengan enggan meninggalkan Filipina agar tidak ditangkap Jepang.Mereka datang kembali untuk melancarkan Angkatan Laut Amerika Serikat.Pertempuran Teluk Leyte berakhir dengan kekalahan Angkatan Laut Jepang dan mengembalikan kendali perairan Filipina ke tangan Sekutu.
Pada bulan Februari 1945, tentara Amerika Serikat telah mengambil alih Manila.Amerika Serikat mengincar Pulau Iwo Jima di Kepulaun Bonin, yang terletak di tengah-tengah antara Kepulauan Mariana dan Jepang. Namun, Japang tetap bersikukuh mempertahankan pulau tersebut dengan memanfaatkan pulau tersebut dengan memanfaatkan gua-gua alami dana dataran berkarang. Pengeboman Amerika Serikat mendapat perlawanan keras Jepang di darat dan serangan bunuh diri kamikaze di udara. Pasukan Amerika Serikat merebut pulau tersebut pda pertengahan Maret, namun harus kehilangan 6.000 nyawa marinirnya, sementara itu hampir seluruh tentara Jepang tewas. Sejak saat itu Amerika Serikat memulai serangan udara besar-besaran ke pelabuhan dan bandara di Jepang.Dari Mei hingga Agustus, Angkatan Udara ke-20 melancarkan gelombang serangan ke pulau Jepang. Kepala pemerintahan Amerika Serikat, Inggris, dan Soviet bertemu di Postdam, sebuah daerah di pinggir kota Berlin, mulai 17 Juli hingga 2 Agustus 1945 untuk membahas operasi melawan Jepang, kesepakatan damai di Eropa, dan kebijakan untuk masa depan Jerman.
Konferensi tersebut sepakat untuk membantu pendidikan ulang bagi generasi Jerman yang dibesarkan dalam ajaran Nazisme dan menetapkan prinsip-prinsip umum untuk pembangunan kembali kehidupan politik yang demokratis di negara tersebut. Para anggota konferensi juga membahas klaim perbaikan yang dibebankan kepada Jerman, dan bersepakat untuk mengadili para pemimpin Nazi yang dituduh melkukan kejahatan terhadap kemanusiaan, serta dan membantu memindahkan lahan industri dan properti yang dilakukan Uni Soviet. Namun, klaim Soviet yang sudah diajukan di Yalta, untuk perbaikan sebesar $10 miliar tetap menjadi kontroversi.
Sehari menjelang Konferensi Postdam mulai, sebuah bom atom diledakkan di Alamogordo, New Mexico. Peristiwa ini menandai titik puncak riset intensif selama tiga tahun di sejumlah laboratorium di seluruh penjuru Amerika Serikat yang dikenal dengan nama Proyek Manhattan ( The Manhattan Project ). Presiden Truman, yang memperhitungkan bahwa bom atom bisa memaksa Jepang menyerah lebih cepat dengan jumlah korban lebih sedikit dibandingkan invasi darat, memerintahkan penggunaan bom tersebut bila Jepang tidak menyerah juga hingga tanggal 3 Agustus. Sekutu mengumumkan Deklarasi Postdam pada tanggal 26 Juli, menjanjikan tidak akan mengahncurkan atau memperbudak Jepang bila mereka menyerah. Namun, bila tidak Jepang akan menjumpai kehancuran total.
Sebuah komite yang terdiri dari pejabat militer, pejabat politik, serta ilmuwan Amerika Serikat mempertimbangkan sasaran senjata baru tersebut.Truman telah menuliskan bahwa hanya instalasi militer yang boleh diserang. Menteri Perang Henry L. Stimson, misalnya sukses berargumentasi bahwa Kyoto, ibukota kuno Jepang dan tempat penyimpanan sejumlah besar kekayaan Negara dan agama, tidak dijadikan sasaran. Hiroshima, pusat industry perang dan operasi militer, akhirnya terpilih.
Tanggal 6 Agustus, pesawat Amerika Serikat, Enola Gay menjatuhkan bom atom ke kota Hiroshima. Tanggal 8 Agustus 1945, bom atom kedua dijatuhkan kali ini di Nagasaki. Bangsa Amerika lega karena bom tersebut mempercepat proses berakhirnya perang. Kesadaran akan daya hancurnya yang luar biasa baru muncul kemudian. Tanggal 14 Agustus, Jepang menyetujui syarat – syarat yang ditetapkan Postdam.Tanggal 2 September 1945, Jepang secara resmi menyerah.Pada bulan November 1945 di Nurenberg, Jerman, pengadilan pidana para pemimpin Nazi yang diusulkan di Postdam berlangsung.Di hadapan para juri terkemuka dari Inggris, Perancis. Uni Soviet dan Amerika Serikat para pemimpin Nazi ini tak hanya didakwa merencanakan dan mengobarkan peran, tetapi juga melanggar hukum perang dan kemanusiaan dengan genosida yang sistematis, yang dikenal dengan Holocaust, terhadap Yahudi Eropa dan kelompok-kelompok lainnya. Pengadilan berlangsung lebih dari 10 bulan dan menghasilkan vonis bersalah terhadap seluruh terdakwa, kecuali tiga orang.
Salah satu keputusan paling jauh jangkauannya mengenai bentuk dunia pascaperang terjadi pada tanggal 25 April 1945, menjelang berakhirnya perang di Eropa, walau konflik masih berkecamuk di Pasifik.Perwakilan dari 50 negara bertemu di San Francisco, California untuk mendirikan kerangka kerja PBB.Konstitusi yang mereka rancang menggambarkan garis besar organisasi dunia di mana perbedaan-perbedaan internasional dapat dibicarakan secara damai, serta adanya tekad bersama memerangi kelaparan dan penyakit.Sangat berbeda dengan penolakannya terhadap keanggotaan Amerika Serikat di Liga Bangsa-Bangsa setelah Perang Dunia I, Senat Amerika Serikat langsung meratifikasi Piagam PBB dengan suara 89 berbanding 2.Langkah ini memastikan akhir semangat menutup diri sebagai elemen dominan kebijakan luar negeri Amerika dan memberi isyarat kepada dunia bahwa Amerika Serikat beniat mengambil peran penting dalam urusan internasional.
Umumnya dapat dikatakan bahwa peperangan dimulai saat Jerman menginvasi Polandia pada tanggal 1 September 1939, dan berakhir pada tanggal 14 Agustus 1945 pada saat Jepang menyerah kepada tentara Amerika Serikat. Secara resmi PD II berakhir ketika Jepang menandatangani dokumen Japanese Instrument of Surrender di atas kapal USS Missouri pada tanggal 2 September 1945, 6 tahun setelah perang dimulai.
2.7 Dampak Terlibatnya Amerika Serikat Ke Dalam Perang II
2.7.1 Bidang Politik
Kemenangan pihak sekutu (Inggris, Perancis, Amerika Serikat, dan Uni Soviet) dalam mengakhiri Perang Dunia II tidak terlepas dari peran Amerika Serikat dalam memberikan bantuan (perlengkapan, tentara,dan persenjataan) yang mampu mempercepat berakhirnya perang dengan kemenangan di tangan Sekutu. Perang Dunia II telah menghancurkan hegemoni negara-negara besar seperti Inggris, Perancis, Spanyol, dan Portugis yang sudah berabad-abad memegang kendali kekuasaan di berbagai belahan dunia.
Muncul masalah baru yaitu adanya pertentangan kepentingan dan persaingan perebutan hegemoni antara negara anggota sekutu dalam usaha untuk menjadi negara yang paling berpengaruh dan berkuasa di dunia hingga melahirkan dua negara adikuasa (kekuatan raksasa) yaitu Amerika Serikat (kuat secara material) dan Uni Soviet (kuat secara psikologis) yang mengambil alih hegemoni tersebut. Uni Soviet dan Amerika Serikat saling berlomba menanamkan penagruhnya pada negra lain dengan berbagai cara sehinga dampaknya negara-negara di dunia terbagi menjadi 2 dimana negara-negara Eropa Timur, Jerman Timur dan beberapa negara Asia seperti Cina, Korea Utara, Kamboja, Laos dan Vietnam berada dibawah pengaruh Uni Soviet yang selanjutnya dikenal dengan Blok Timur. Sementara negara-negara Eropa Barat dan banyak negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin berada dibawah kekuasaan Amerika Serikat yang selanjutnya dikenal dengan Blok Barat.
Kedua negara adikuasa tersebut memiliki ideologi yang berlawanan dimana Amerika Serikat dengan ideologi Liberalis-Kapitalis (paham yang mengutamakan kemerdekaan individu sebagai pangkal dari kebaikan hidup) sementara Uni Soviet dengan ideologi Sosialis-Komunis(paham yang menghendaki suatu masyarakat disusun secara kolektif agar menjadi masyarakat yang bahagia). Sistem politik dan ekonomi internasional mengalami polarisasi yaitu liberalisme versus sosialisme-komunisme .
Munculnya politik memecah belah dimana terjadi perpecahan dari berbagai negara sebagai dampak dari persaingan pengaruh dua negara adikuasa tersebut, seperti negara Jerman, Korea, dan Vietnam(Indo Cina) berdasarkan ideologi liberal dan sosialis-komunis.
Dibentuklah pakta pertahanan untuk saling mengimbangi kekuatan lawan dimana Amerika Serikat membentuk NATO (North Atlantic Treaty Organization) atau Organisasi Pertahanan Atlantik Utara sementara Uni Soviet membentuk Pakta Warsawa(1955) dengan anggota Uni Soviet, Albania, Bulgaria, Cekoslowakia, Jerman Timur, Hongaria, Polandia, dan Rumania. Berdirinya pakta pertahanan memunculkan rasa saling curiga dan perlombaan persenjatan antara kedua belah pihak sehingga menimbulkan Perang Dingin.Munculnya negara-negara baru dan merdeka di Asia-Afrika yang merupakan bekas jajahan bangsa barat seperti Indonesia, India, Pakistan, Srilanka, dan Filipina. (dampak positif)
2.7.2 Bidang Ekonomi
Perekonomian dunia terbagi atas sistem ekonomi liberal, sistem ekonomi terpusat pada negara, dan sistem ekonomi campuran.Dimana sistem ekonomi liberal berlaku di negara-negara kapitalis.Sistem ekonomi terpusat pada negara berlaku di negara-negara komunis.Dan sistem ekonomi campuran berlaku di negara-negara yang baru merdeka.
Sistem ekonomi kapitalis diterapkan di Eropa Barat dan Amerika Serikat mempraktekkan konsep negara sejahtera (welfare state) sehingga menyediakan dana sosial yang besar untuk mensubsidi kesehatan, pendidikan, pensiunan, dan dana sosial lainnya bagi masyarakat. Amerika Serikat memanfaatkan keadaan dimana banyak negara yang membutuhkan bantuan ekonomi untuk memperbaiki negaranya (dengan menanamkan pengaruhnya) jika tidak maka negara-negara tersebut akan masuk dalam pengaruh kekuasaan ideologi komunis Uni Soviet. Maka Amerika tampil sebagai negara kreditor bagi negara-negara di luar pengaruh Uni Soviet. Dengan bantuan tersebut selanjutnya mampu membuat kedudukan Amerika menjadi kuat sebab ia berhasil menciptakan ketergantungan negara peminjam pada Amerika. Amerika Serikat akhirnya mengeluarkan beberapa program untuk membangun kembali perekonomian dunia, seperti:
a. Marshall Plan merupakan program untuk membantu perekonomian negara-negara Eropa Barat. Program ini disetujui dalam konfrensi Paris 1947 dan pemberian bantuan ini diakhiri pada tahun 1951.Sebuah negara dapat memperoleh bantuan ini dengan memenuhi kesepakatan sebagai berikut.
1) Amerika Serikat akan memberikan pinjaman jangka panjang kepada negara-negara Eropa Barat untuk membangun kembali perekonomiannya.
2) Sebagai imbalan negara peminjam diwajibkan :
a)    Berusaha menstabilkan keuangan masing-masing negara dan melaksanakan anggaran pendapatan yang berimbang.
b)    Mengurangi penghalang-penghalang yang menghambat kelancaran perdagangan antara negara-negara peminjam.
c)    Mencegah terjadinya inflasi.
d)    Menempatkan perekonomian negara masing-masing negara atas dasar sendi-sendi perekonomian yang sehat.
e)    Memberikan bahan-bahan yang diperlukan Amerika Serikat untuk kepentingan pertahanan.
f)    Meningkatkan persenjataan masing-masing negara untuk kepentingan pertahanan.
3) Bantuan akan dihentikan apabila di negara peminjam terjadi pergantian kekuasaan yang mengakibatkan negara tersebut melaksanakan paham komunis.
Dengan Marshall Plan maka tertanamlah dasar-dasar terbentuknya kerjasama yang erat antara negara-negara Eropa Barat dalam pembangunan perekonomiannya.Sejak tahun 1951 maka Amerika Serikat lebih mengutamakan konsolidasi pertahanan terhadap kemungkinan meluasnya paham komunis.
b. Doctrine Truman merupakan kebijakan untuk membantu secara khusus negara Yunani dan Turki dengan maksud membendung kedua negara tersebut dari pengaruh komunis dan Uni Soviet serta memerangi pemberontakan yang dilancarkan gerilyawan-gerilyawan komunis dalam negeri.
c. Point Four Program merupakan program bantuan dalam bentuk perlengkapan ekonomi kepada negara-negara berkembang. Serta bantuan militer yang diberikan pada negara-negara berkembang khususnya Asia.
d. Colombo Plan merupakan program kerjasama bagi pembangunan ekonomi di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Program yang dicetuskan di Colombo 1951 dengan peserta pertama negara-negara persemakmuran Inggris yang selanjutnya diikuti Amerika Serikat, Jepang, dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya.
Pada tahun 1957 terbentuklah kerjasama dalam bidang perdagangan antara 7 negara Eropa Barat (Perancis, Italia, Jerman Barat, Belgia, Belanda, Luksemburg, dan Denmark) dengan nama Pasar Bersama Eropa (PBE) Inggris memprakarsai berdirinya daerah perdagangan bebas Eropa yang meliputi 5 negara (Inggris, Norwegia, Swedia, Swiss, dan Austria).
Negara-negara di Eropa Timur yang tidak mendapatkan bantuan Marshall Plan karena berhaluan komunis sehingga dampaknya pembangunan ekonomi di Eropa Timur tidak secepat pembangunan ekonomi di Eropa Barat sebab seluruh aktivitas perekonomian diatur dan dikuasai oleh negara (berpusat pada pemerintah).Seluruh industri dimiliki dan dioperasikan oleh pemerintah, pertanian diatur menurut pola pertanian pemerintah dimana hanya sebagian kecil tanah pertanian yang boleh dimiliki secara pribadi.
Negara-negara Eropa Timur membangun perekonomian dengan pola Uni Soviet dan prinsip ekonomi komunisme, yaitu melaksanakan pembangunan perekonomian jangka pendek yang dilanjutkan dengan program jangka panjang.
Perkembangan ekonomi negara yang berada di luar Eropa juga mengalami kemerosotan sebab sistem perekonomian mereka sebelum Perang Dunia II terjadi lebih banyak tergantung pada negara-negara Eropa yang memiliki jajahan di Asia, Afrika, dan Amerika.Setelah Perang Dunia II hubungan antara negara-negara Eropa dengan negara jajahan menjadi terputus.
Negara-negara jajahan melepaskan diri dan menjadi negara merdeka serta berusaha membangun perekonomiannya sendiri atau dengan bantuan negara lain sehingga tidak dapat membangun perekonomiannya dengan cepat. Negara-negara di luar Eropa terjerat utang untuk membangun perekonomian sehingga perkembangan perekonomiannya tidak secepat negara-negara Eropa Barat.Jerman dan Jepang tumbuh kembali sebagai negara industri, setelah memperoleh bantuan modal dari Amerika Serikat.Di bentuklah 2 badan ekonomi dunia sebagai perwujudan perkembangan sistem ekonomi kapitalis yaitu IMF (International Monetary Fund) dan Bank Dunia (World Bank).Tugas kedua badan tersebut adalah memberi dan menyalurkan bantuan keuangan kepada negara agar dapat melakukan rekonstruksi dan pembangunan ekonomi negaranya.
2.7.3 Bidang Sosial
Semakin kuatnya kedudukan golongan cerdik pandai (para ilmuwan)Munculnya gerakan sosial untuk membantu memulihkan kesejahteraan rakyat yang porak-poranda akibat perang dengan mendirikan lembaga internasional untuk memelihara perdamaian dunia.Hal ini terwujud dengan berdirinya Perserikatan Bangsa-bangsa (United Nations).
Amerika Serikat membentuk badan guna menghindari jatuhnya korban lebih banyak dengan nama United Nations Relief Rehabilitation Administration (UNRRA). Tugas pokok badan ini adalah meringankan penderitaan dan memulihkan daya produksi rakyat yang tinggal di daerah bekas pendudukan Jerman.Bantuan yang diberikan berupa makanan, pakaian, bibit tanaman, hewan ternak, alat-alat perindustrian, dan rumah sakit.UNRRA (satu bagian dari PBB) dibubarkan sebab tugas untuk memberikan bantuan pembangunan kembali negara Eropa telah dilaksanakan oleh European Reconstructions Plan atau yang dikenal dengan Marshall Plan.



BAB 3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Perang merupakan suatu hal yang penting dalam sejarah umat manusia.Di dunia ini perang besar pernah terjadi beberapa kali dan ada dua yang termasuk tingkat perang dunia.Perang Dunia I terjadi tahun 1914-1918, sementara yang kedua terjadi pada 1939-1945.Kedua perang tersebut melibatkan sebuah negara yang kini merupakan satu-satunya Negara superpower setelah runtuhnya Uni Sovyet, yaitu Amerika Serikat.
Perang Dunia I bermula di Eropa pada tahun1914.Amerika sendiri pada awalnyatidak ikut serta dalam perang dunia itu.Mereka merasa bahwa mereka mempunyai hak netraluntuk tidak berpihak pada sisi manapun.Namun kenyataannya dalam menghadapi Perang Dunia I yang terjadi di Eropa, politik luar negeri AS dihadapkan pada dilema.Pertama, AS ingin tetap berpegang pada prinsip netral yang dianutnya untuk tidak melibatkan diri dengan perang yang terjadi di luar wilayah teritorialnya.Namun demikian, kepentingan perdagangannya di kawasan tersebut terancam karena serangan-serangan negara-negara yang bertikai.Para diplomat AS dihadapkan pada dua pililian antara tetap mempertahankan sikap netralnya dengan menjamin kepentingan ekonominya di kawasan tersebut yang berarti melibatkan diri dalam peperangan.Kedua, setelah meletusnya perang, AS dihadapkan pada tuntutan negara-negara Eropa untuk memberikan bantuan ekonomi terhadap para pengusaha Eropa.Bantuan tersebut adalah untuk kepentingan ekonomi AS sendiri yang memperoleh keuntungan dari perdagangannya dengan para penguasaha Eropa.Hal ini menjadi dilema karena apabila AS memberikan pinjaman kepada negara yang sedang bertikai berarti AS telah melanggar sikap netralnya.
Pada akhirnya Dalam praktek, seringkali sikap netral AS dalam politik luar negerinya bertentangan dengankepentingannnya sendiri.Menurut sejarawan, sikap tersebut menunjukkan ketidakkonsistenan AS dalam mempertahankan prinsip politik luar negerinya.kurang bisa menjaga sifat netralnya, hal ini terbukti dengan adanya kegiatan jual beli senjata yang melibatkan Amerika Serikat, Itali dan Ethoupia.Sehingga hal ini sedikit banyak mendorong Amerika Serikat ikut terjun dalam perang Dunia yang tengah berkecambuk.Yang pada akhirnya, Amerika serikat dengan terang-terangan mendeklamasikan diri sebagai salah satu pihak yang ikut berperang dalam Perang Dunia II dan bergabung dengan pihak Sekutu.


















DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku:
Michelle Anugrah. 2005. Garis Besar Sejarah Amerika Serikat. Biro Program 
Informasi Internasional Departemen Luar Negeri A.S.

Sumber Internet:
Http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._SEJARAH/196110141986011
-NANA_SUPRIATNA/Bangsa_Amerika/BAB_X.Bangsa_Amerika.pdffile.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._SEJARAH/196904301998021- diakses 15 April 2014
MOCH_ERYK_KAMSORI/SEJ.AMERIKA/BAHAN_AJAR/BAB_IX.Bangsa_Amerika.pdf diakses 15 April 2014
Triseptyo.blogspot .com/2012/amerika-serikat—dalam-perang-dunia-ii.html?m=1 diakses 15 April 2014
Sobatbaru.blogspot.com/2008/04/jalannya-perang-dunia-ii 15 April 2014

EKSPANSI AMERIKA

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Pada awalnya Amerika sangat menjunjung tinggi tenteng kebebasan individu, mereka di beri kebebasan untuk melakukan aktivitas, hal ini di tunjukan dengan banyaknya imigran yang datang ke amerika untuk merubah kehidupannya, setelah banyaknya penemuan hal baru tentang sekto perindustrian dan agraris membuat banyak perubahan dan perbedaan.
Salah satu yang dapat terlihat adalah perbedan golongan atau yang biasa disebut kasta adanya dua golongan yaitu golongan atas dan golongan bawah. Yang sangat terlihat adanya perbedaan warna kulit antara orang negro dan orang barat.
Selain itu cara pandang yang membuat permusuhan antar kedua belah pihak yang mempertahankan idologinya masing-masing, menurut amerika bagian selatan adanya perbudakan untuk memasukn sektor industri .laen halnya menurut amerika bagian utara dia mengangap kalau perbudakan itu hanya membawa perpecahan.

1.2    Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang diambil dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana ekspansi Amerika ke arah Barat dan disintegrasi bangsa Amerika?
2. Bagaimana disintegrasi dan masalah perbudakan (1852-1861)?
3.Bagaimana partai-partai politik dan gerakan pemisahan diri?



1.3    Tujuan
Berdasarkan latar belakang di atas, maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui ekspansi Amerika ke arah Barat dan disintegrasi bangsa Amerika.
2. Untuk mengetahui disintegrasi dan masalah perbudakan (1852-1861.)
3. Untuk mengetahui  partai-partai politik dan gerakan pemisahan diri.














BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Ekspansi Amerika ke Arah Barat dan Disintegrasi bangsa Amerika
Pada pertengahan abad ke-19 bangsa Amerika sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan individu dan equality dalam kesempatan politik dan ekonomi. Tumbuh dan berkeinbangnya nilai-nilai tersebut bersamaan dengan tumbuhnya keyakinan akan pentingnya pembebasan invividu dari batasan-batasan sosial politik. Sikap yang sama juga ditandai dengan upaya perluasan wilayah ke arah barat untuk kepentingan ekonomi. Lebih lanjut perkembangan ekonomi tersebut berpengaruh terhadap pembentukan perbedaan regional bam di bidang ekonomi.Kawasan timurlaut berkembang menjadi pusat industri, selatan berkembang menjadi pusat industri kapas dan barat menjadi pusat produsen bahan makanan.Perbedaan tersebut menjadi salah satu penyebab terjadinya ketegangan regional yang berkaitan dengan pola ekspansi serta penggunaan budak dalam kegiatan ekonomi.Pembentukan ekonomi nasional ditandai dengan terbentuknya polarisasi ekonomi antar daerah.
Ekspansi ke arah barat juga dipengaruhi serta tergantung pada pertumbuhan penduduk.Pada tahun 1830 jumlah penduduk AS tercatat 30 juta.Tahun 1850 jumlah tersebut meningkat menjadi 23 juta dan pada tahun 1861 menjadi 31 juta.Dengan demikian dalam waktu 30 tahun jumlah tersebut meningkat hampir tiga kali Upat.Pertumbuhan tersebut terutama disebabkan oleh migrasi dari negara-negara Eropa.Misalnya dalam waktu sepuluh tahun 1840-1850 Jerman dan Irlandia menyumbang empat juta imigran.Sebagian pendatang baru tersebut membeli tanah pertanian di AS bagian tengah dan sebagian lagi tinggal di perkotaan dan menjadi buruh di sektor industri.Didukung oleh kemajuan di bidang transportasi, ekspansi ke arah barat setnakin intensif hingga pada tahun 1850 setengah dari jumlah penduduk AS bermukim di sebelah barat pegunungan Appalacian.Mereka yang bermukim di kawasan barat memilih sektor agraria.Dengan meningkatnya permintaan bahan makanan dari Eropa seperti gandum, jagung, babi dan lain-lain menyebabkan usaha bidang agraria sangat menguntungkan dan mendorong petani untuk meningkatkan spesialisasi dan intensifikasi usahanya.
Meningkatnya produksi pertanian ditunjang oleh peningkatkan sarana transportasi Sistem kanal yang menghubungkan daerah barat dan timur terus ditingkatkan sehingga memudahkan pengangkutan hasil pertanian dari daerah produsen ke daerah pemasaran Akhirnya New York menggantikan peran New Orleans sebagai kota pengekspor hasil pertanian. Distribusidan pengangkutan hasil pertanian semakin meningkat setelah dibangunnya jaringan jalan raya tahun 1830-an. Sedangkan jaringan kereta api, walaupun akhirnya menyaingi jaringan jalan raya, telah memudalikan mobilitas penduduk bergerak dari satu daerah ke daerah lain. Dalam tahun 1848 telah dibangun jaringan kereta api sepanjang 6000 mil yang membentang di sebelah timur pengununan Appalachian. Tahun 1850-an pembangunan jaringan jalan raya, yang sebagian besar dibiayai oleh para investor industri manufaktur dan pertanian, meningkat dengan sangat cepat sehingga pada tahun 1860-an telah terbangun jaringan jalanraya sepanjang 30.000 mil yang menghubungkan kota-kota seperti New York, Philadelphia, Baltimore dan lain-lain. Sedangkan penggunaan telegraph, yang pertama kali diciptakan oleh Samuel Morse, telah mengubah konsep jarak menjadi sangat relatif.
Periode ini juga ditandai dengan pertumbuhan industri yang sangat pesat. Pada tahun 1850-an sebagian besar negara-negara bagian telah memiliki undang-undang mengenai perusahaan korporasi yang mengatur masalah perusahan, permodalan dan penjualan saham. Tumbuhnya perusahan-perusahaan industri ditunjang oleh investor luar negeri serta ditemukannya emas di California.Diciptakannya mesin uap serta mesin pengolahan karet oleh Charles Goodyear dan mesin jahit oleh Elias Howe juga telah meningkatkan industrialisasi.Ditemukannya satu alat industri telah mendorong temuan di bidang industri lainnya, serta industrialisasi sektor agraria di kawasan Barat telah mendorong perdagangan luar negeri terutama dengan negara-negara Eropa, Asia seperti China (dalan perjanjian Wanghsia, 1844) dan Jepang (Perjanjian Kanagana, 1854, oleh Commodore Matthew Perry).
Petumbuhan idustri yang cepat berpengaruh terhadap pembentukan kelas sosial.Tidak semua golongan masyarakat memperoleh keuntungan dan mampu melakukan mobilitas sosial vertikal.Kelompok industriawan dan pedagang besar telah membentuk kelas tersendiri sebagai golongan menengah dan tingal di perkotaan, Sedangkan kelompok buruh tani dan industri serta pendatang bam yang belum bisa mengakomodasi kegiatan ekonomi setempat menempati golongan bawah.Mereka tinggal di daerah kumuh perkotaan (slum) serta di pedesaan.Meningkatnya jumlah imigran mendorong menurunnya upah buruh dan meningkatkan pengangguran.Para buruh yang sulit mendapat pekerjaan bersedia menerima upah rendah dan mendorong semua anggota keluarganya bekerja untuk memperoleh upah yang subsisten (cukup), Temyata meningkatnya perindustrian hanya terjadi di kawasan timur laut.Di kawasan Selatan, kegiatan ekonomi tetap terpusat pada sektor agraria seperti tembakau, gandum, padi dan gula.Sedangkan kapas merupakan komoditi yang paling menguntungkan dan menjadi primadona dalam kegiatan ekonomi agraris Selatan.Di bidang industri, daerah ini masih menggantungkan diri pada barang buatan kawasan utara (timur laut).Peningkatan sektor agraria di kawasan ini ternyata telah memperkuat lembaga perbudakan yang digunakan sebagai tenaga kerja di sektor agraria Kawasan ini juga menjadi puat perdagangan budak. Pada tahun 1860 sekitar 75 persen warga kulit pengusana industri agraria di kawasan ini memiliki dan mempekerjakan budak negro yang jumlahnya mencapai 4 juta orang.
Warga kulit putih Amerika yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi dan hak-hak individu serta equality ternyata tidak menerapkan nilai yang dianutnya pada orang-orang kulit hitam (negro). Mereka masih memperlakukan diskriminasi ras. Warga negro di Selatan tidak diakui hak-hak sipilnya. Mereka seringkali tidak memperoleh perlindungan hukum dari tindakan sewenang-wenang majikan; mereka dipersilit masuk gereja dan sekolah.Jual beli dan lelang budak di kawasan ini sering kali memecah belah keluarga budak.Satu keluarga budak dapat dipekerjakan di majikan yang berbeda-beda.Mereka yang dianggap sebagai bagian dari property atau barang milik bisa diperlakukan apapun menurut kehendak majikan. Perlakukan yang sewenang-wenang tersebut sering menimbulkan perlawanan dari para budak, seperti perlawanan yang dipimpin oleh Nat Turner tahun 1830 di Virginia dan membunuh 57 orang kulit putih sebelum akhirnya dia juga dibunuh pemerintah kulit putih.
Perlawanan para budak negro terhadap pemilik dan pemerintah kulit putih di negara-negara bagian Selatan AS menimbulkan pro dan kontra dan menjurus ke arah terbentuknya perbedaan ideologi antara Utara dan Selatan. Kelompok yang kontra terhadap perbudakan, terutama dari daerah Utara, disebut sebagai abolisionis Mereka sering kali mengkritik kelompok konservatif Selatan yang feodalis melakukan pelanggarari terhadap hak asasi manusia dan nilai-nilai equality Sedangkan warga Selatan, baik warga sipil maupun pemerintah menganggap bahwa kritikan kaum abolisio&is merupakan tindakan subversi yang akan menghancurkan tatanan hidup warga kulit putih Selatan. Sedangkan kaum abolisionis menuduh warga selatan akan menghancurkan nilai-nilai republikan AS seperti dicita-citakan oleh para pendiri AS Penduduk Selatan merasa khawatir bahwa dihancurkannya lembaga perbudakan akan menghancurkan institusi sosial yang telah terbentuk. Perbedaan cara pandang tersebut menyebabkan perbedaan ideologis antara negara-negara bagian utara dan selatan dan menjurus ke arah perbedaan politik di antara elit politik mereka.
Ekspansi warga AS bukan hanya dilakukan ke wilayah AS belahan barat melainkan juga ke kawasan yang dikuasai oleh Mexico di selatan.Pada tahun 1820-an, sejumlah orang Amerika yang dipimpin oleh Stephen Austin mulai bermukim di Texas yang dikuasai oleh Mexico.Sebagian pemukim tersebut adalah pemilik budak. Dengan demikian perbudakan juga diberlakukan di sana. Setelah jumlah pemukim semakin banyak, warga Texas yang tidak begitu suka dengan pemerintah Mexico menyatakan kemerdekaannya tahun 1832.Amerika Serikat yang berkepentingan dengan Texas melakukan aneksasi tahun 1844. (lihat bab VII mengenai diploamsi AS). Setelah melalui perdebatan dalam perlemen AS akhirnya Texas menjadi negara bagian AS tahun 1945.
Setelah memperoleh Texas, orang-orang AS ternyata masih terus melakukan ekspansi.Wilayah terakhir yang digabungkan dengan AS yang diperoleh dari Mexico adalah California. Dalam perang dengan Mexico, (lihat bab VII mengenai sejarah diplomasi) Mexico mengalami kekalahan total dan terpaksa menandatangani Perjanjiari Guadalupe Hidalgo tahun 1848. Dalam perjanjian tersebut Mexico menarik klaimnya atas Texas dan menyerahkan New Mexico dan California serta mengakui Rio De Grande sebagai perbatasan kedua negara.Pada tahun 1853 AS juga memperoleh tambahan wilayah di sebelah selatan California yang berbatasan dengan Mexico.Sedangkan Oregon diperoleh dari Inggeris setelah ditandatangani perjanjian dengan negara itu tahun 1846.

2.2 Disintegrasi dan masalah Perbudakan (1852-1861)
Masalah perbudakan di beberapa negara bagian AS merupakan salah satu faktor yang menimbulkan pefahg’ sipil (civil war) tahun 1860-an. Sikap bangsa Amerika terhadap perbudakan dapat dijelaskan dari cara pandang budaya mereka mengenai kedudukan budak dalam sistem sosial mereka. Salah satu bagian penting dalam identitas budaya bangsa Amerika sejak tahun 1789 adalah adanya keyakinan para pendiri bangsa (founding fathers) bahwa orang-orang negro hitam secara biologis dianggap tidak bisa menjadi warganegara dewasa, rasiqnal dan bertanggungjawab. Para pendiri tersebut, termasuk Jefferson, berpandangan bahwa pada akhirnya orang-orang kulit hitam harus dikembalikan ke Afrika.
Identitas budaya lainriya adalah peranan kawasan Amerika Serikat bagian barat dalam pemeliharaan sifat republik.Jeferson, seperti halnya para pendiri AS lainnya, percaya bahwa rasionalistas tanggungjawab warga kulit putih hanya dapat menyebar ke berbagai kawasan apabila ditunjang dengan pemilikan lahan-lahan pertanian. Bagi Jefferson, dimana orang-orang kaya dan miskin di Eropa bergerombol bersama di kota-kota Eropa, ilmu politik adalah tidak rasional dan menghancurkan. Ketika penduduk, AS meningkat, wilayah toritorial AS akan menjadi katup yang aman sebab penduduk dapat menyebar dimana-mana dan memperoleh lahan pertanian yang memadai, tidak seperti di Eropa dimana penduduk hanya bergerolbol di perkotaan. Dengan demikian, bagi para pendiri bangsa, wilayah terotorial AS berkaitan erat pembentukan sifat politik nasional, dan orang-orang kulit hitam dianggap sebagai ancaman bagi sifat-sifat politik Amerika tersebut.
Generasi Jefferson mendifinisikan perbudakan sebagai suatu kejahatan yang diperlukan untuk menjaga kulit berwarna terpisah dari kulit putih. Akan tetapi logika dari situsi ini, bagi Jefferson, adalah baik lembaga perbudakan maupun orang-orang negro tidak perlu mendiami wilayah teritori Amerika. Konsensus antara pemimpin Selatan dan Utara yang terjadi tahun 1780-an berusaha untuk membatasi perbudakan hanya pada kawasan yang sebelumnyasudah memberlakukan sistem tersebut. Sampai tahun 1830-an, sebagian besar pemimpin Selatan tetap menganggap perbudakan sebagai sebuah kejahatan yang diperlukan sambbil berharap bahwa pada akhirnya orang-orang negro akan dikembalikan ke Afrika dan sepakat bahwa Kongres memiliki kewenangan dan tanggungjawab untuk membatasi semakin meluasnya sistem perbudakan ke arah barat.
Namun demikian, di antara para pemimpin selatan telah terjadi perubahan cara pandang mengenai sistem tersebut. Terbukti pada tahun 1848 partai Whig dan Demokrat di kawasan tersebut tidak lagi sepakat dengan usulan agar perbudakan dihapuskan dari daerah mereka.Ini berarti bahwa sebagian besar warga kulit putih selatan mendefinisikan perbudakan sebagai sesuatu yang positif Perubahan sikap tersebut disebabkan sistem ini sangat menguntungkan bagi perkebunan.Para pemilik ladang pertariian dan perkebunan di Carolina Selatan, Georgia hingga Texas sangat diuntungkan dengan sistem tersebut. Adanya pandangan bahwa orang-orang negro itu dipulangkan saja ke Afrika disebabkan ketika sistem tersebut tidak terlalu menguntungkan di kawasan kawasan tertentu di perkebunan tembakau. Akan tetapi ketika penduduk negro meningkat jumlahnya di Georgia, Alabama, Mississippi, dan Louisiana maka sulit bagi warga kulit putih untuk berpikir menghapuskan sistem tersebut.
Pergeseran cara pandang juga disebabkan adanya perubahan dalam kebudayaan Amerika sejak tahun 1789-1830-an. Perkembangan demokrasi model Jackson menyebabkan terjadinya partisipasi politik dari golongan menengah bawah. Sebagian dari kalangan tersebut mulai menganut Protestan Avangelis atau Protestan Penginjil yang bersifat kritis terhadap nilai-nilai filsafat dan agama yang dianut oleh para pendiri bangsa. Protestan Avangelis mencurigai cara pandang pencerahan abad ke-18 yang menekankan pada intelegensia, ilmu dan akal, Sedangkan kaum Avangelis berpendapat bahwa kebenaran itu harus ditemukan pada Bibel terutama pada Perjanjian Lama (Old Testament).
Warga Amerika yang mengubah agamanya ke dalam Gereja Methodist dan Baptist diajarkan bahwa penganut agama tersebut harus menghindari korupsi moral atau berkompromi dengan dunia pendosa yang banyak dianut oleh golongan menengah atas pada akhir abad ke-18. Perubahan tersebut akan menjadikan mereka sebagai orang-orang sued yang sempurna. Bagi warga kulit putih di kawasan Selatan yang telah menganut Methodist dan Baptist adalah sulit untuk tetap mempertahankan pendapat bahwa perbudakan merupakan kejahatan yang diperlukan.Pendapat tersebut merupakan kompromi dengan korupsi.Jika mereka menganggap ataumendefinisikan perbudakan sebagai sesuatu pekerjaan yang positif berarti mereka tidak berkomoromi dengan kejahatan.
 Bagi sebagaian besar warga kulit putih di Selatan, yang pada tahun 1840-an sekitar 80 persennya adalah penganut Baptis dan Methodis (dan tahun 1844 mereka memisahkan diri dari Gereja Nasional), percaya bahwa dipertahankannya sistem perbudakan tersebut didasarkan atas ayat dalam Perjanjian Lama yang mengakui adanya sistem tersebut. Perbudakan sudah ditakdirkan oleh Tuhan.Institusi yang didirikan oleh Tuhan itu merupakan institusi atau lembaga yang sempurna.Banyak sejarawan masa lalu yang membesar-besarkan faktor sistem feodalisme abad pertengahan akhir (neo-medieval) sebagai penyebab utama perbudakan yang terjadi di Virginia, Karolina Selatan dan Georgia Fitzhugh, bukan atas faktor pandangan agama.
Ketika sebagian besar warga kulit putih Selatan tahun 1830-an menganggap bahwa perbudakan merupakan sesuatu pekerjaan yang baik dan positif, mereka juga menjadi sangat sensitif mengenai makna kewarganegaraan nasional. Mereka sangat menjunjung tinggi liak persamaan (equal right) warga kulit putih terhadap warga kulit putih lainnya yang tinggal di kawasan utara.Ketika penduduk warga kulit putih Utara mempersoalkan perbudakan, sebagai sesuatu kejahatan yang harus dihapuskan dari kawasan teritorial AS, warga Selatan meresa terancam. Mereka menganggap bahwa tidak ada seorangpun yang memiliki alasan yang syah untuk menyanggah warga kulit putih Selatan yang memiliki hak persamaan seperti halnya warga Protestan dan warga negara yang demokratis Warga Selatan seperti memperoleh kemenangan ketika Mahkamah Agung melalui keputusan Dread Scott yang meminta Kongres untuk melindungi perbudakan di wilayah teritori tertentu di AS.
Adanya mobilitas sosial vertikal warga kulit putih golongan bawah menjadi golongan menengah bawah berpengaruh terhadap semakin kuatnya perasaan anti kulit hitam. Waga kulit putih golongan bawah yang pada awal abad ke-18 belum dapat masuk ke dalam "sistem kasta" kulit putih yang menganggap kulit hitam tidak memiliki hak sama dengan warga kulit putih, seperti mendapat kesempatan untuk menunjukkan sikap rasialisnya. Setelah masuk menjadi golongan menengah, mereka meninggalkan sikap equalitynya dengan warga kulit hitam dan mendefinisikan konsep demokrasi sesuai dengan "sistem kasta" yang menganggap bahwa tidak sepantasnya warga kulit putih bekerjasama, bergaul dan menempatkan posisi sama dengan warga kulit hitam. Pada tahun 1857, sikap warga kulit putih selatan tersebut dikecam oleh pemimpinkulit putih Utara dan mengehendaki agar pasal dalam keputusan Dread Scott, mengenai tidak diakuinya status kulit hitam sebagai warganegara, dihapuskan.



2.3Partai-partai Politik dan Gerakan Pemisahan Diri
Perselisihan ideologis dan budaya antara warga kulit putih Utara dan Selatan mengenai masalah perbudakan juga terjadi dalam kehidupan partai-partai politik.Pada tahun 1854 terbentuk partai Republikan yang merupakan partai gabungan dari berbagai partai yang anti-perbudakan.Seperti halnya partau Liberty tahun 1844 dan Partai Free-Soil tahun 1848, Partai Republikan menjadikan anti-perbudakan sebagai prinsip partai.Partai ini semakin besar sejalan dengan runtuhnya Partai Whig yang bertikai sendiri dalam tubuh partai megenai masalah tersebut. Partai ini juga tidak menjadi ancaman bagi partai yang sedang berkuasa tahun 1856, sebab kelompok Demokrat masih bersatu dan partai lain seperti Native American mampu menarik pecahan partai Whig di Utara dan Selatan. Partai ini berusaha mengatasi ketegangan antara wilayah dengan mengajukan memunculkan keaslian Protestanisme di AS dan menentang semakin meningkatnya imigran katholik dari Jerman dan Irlandia.
Pada tahun 1856 Partai Republikan menjadi partai yang besar dan menjadikan konsep abolisi (pembebasan perbudakan) sebagai prinsip perjuangan partai. Partai ini memunculkan issu bahwa kaum aristokrat Selatan akan menyebarkan perbudakan ke seluruh negeri. Perbudakan harus dihapuskan dari seluruh negeri AS. Namun demikian, sikap Partai Republikan tidak terlalu mengancam partai-partai lain sebab pendukungnya sebagian besar berasaal dari warga Utara. Partai Demokrat di Selatan yang pendukungnya berasal dari kalangan petani menjadikan kawasan Utara dan Barat sebagai daerah yang sangat penting bagi AS sebab sebagain besar warganya adalah petani. Partai ini menganggap bahwa ancaman terhadap kebesaran partai ini berasal dari Utara, seperti dilakukan oleh Hamilton tahun 1790-an dan dari Sistem Perbankan AS tahun 1820-an yang berusaha mengeksploitasi potensi ekonomi Selatan.
Pada tahun 1856 konflik terbuka antara yang pro dan anti-perbudakan terjadi di Kansas Territory. Ketika New England Emigrant Aid Company mengirimpan pemukim ke Kansas untuk mengolah tanah di sana, tiba-tiba penduduk pro-perbudakan dari Missouri mengintimidasi mereka. Pada tanggal 24 Mei 1856, pemimpin Free-Soil, John Brown, melakukan serangan balasan terhadap pemukim pro-perbudakan di Pattowatomie Creek dan membunuh 5 orang
Peristiwa tersebut menimbulkan konflik dan pertikaian dalam tubuh Senate yang berasal dari Utara yang anti dan Selatan yang pro-perbudakan.
Dalam konvensi Partai Republikan tahun 1860, posisi partai ini masih sama seperti tahun 1954, yaitu bahwa perbudakan harus dihapuskan dari AS. Namun demikian, untuk menghormati aspirasi politik warga selatan, partai ini mulai mengambil sikap moderat dengan mengakui eksistensi perbudakan di Selatan dan menentang tindakan John Brown sebagai seorang abilisionis ekstrim.Partai ini menominasikan Abraham Lincoln dari Illinios sebagai calon presiden. Partai Keempat, Constitusional Unionist yang merupakan gabungan dari sempalan Partai Whigs tahun 1852 dan Native American, menominasikan Senator John Bell dari Tennessee.
Dalam pemilihan presiden tahun 1860, Douglas dari Partai Demokrat hanya menang di satu negara perbudakan, Missouri.Bell menang di negara budak Virginia, Kentucky, dan Tennessee.Breckinridge dari partai Demokrat menang di Delaware dan Maryland yang juga menerapkan sistem perbudakan.Sedangkan Abraham Lincoln menang di negara-negara utara yang anti-perbudakan.Lincoln memperoleh 1.866.452 suara, Douglas, 1.376.957 suara, Breckinridge, 849 781 suara, dan bell 588.879 suara.
Melihat hasil pemilihan presiden, segera parlemen Carolina Selatan mengadakan si dang untuk mempertimbangkan pemisahan din dari Union AS.Pada tanggal 20 Desember 1860, secara resmi Carolina menyatakan pemisahan din dari AS. Konvensi parlemen negara bagian itu menyatakan bahwa peristiwa tersebut bukan merupakan pemberontakan melainkan hanya pernyataan hak sepertidiakui menurut Deklarasi Kemerdekaan tahun 1776 dan Artikel mengenai Konfederasi tahun 1778 yang menyatakan bahwa setiap negara bagian berhak menyatakan kedaulatan, kemerdekaan daa kebebasannya. Karolina juga menyatakan keluar dari Konstitusi tahun 1789 yang dibentuk oleh seluruh negara bagian. Tindakan negara bagian ini segera diikuti oleh negara bagian lainnya, yang ingin tetap mempertahankan sistem perbudakan, seperti Alabama, Georgia, Florida, Mississippi, Louisiana dan Texas. Sedangkan Karolina Utara, Virginia, Tennessee dan Arkansas menyatakan melakukan hal yang sama pada bulan April dan Mei 1861. Mereka akhimya membentuk Konfederasi Negara-negara bagian Selatan yang ingin tetap mempertahankan perbudakan dan beribukota di Montgomery, Alabama Warga Selatan yang mendukung para gubernuraya menyatakan bahwa mereka tidak bisa bekerjasama dengan partai Demokrat di Utara dan Patai Republikan yang memberi kemenangan padaAbraham Lincoln sebagai presiden. Akhimya setelah Abraham Lincoln dilantik sebagai presiden baru bulan Maret 1861 dan berusaha mengatasi pemberontakan di Carolina Selatan tanggal 15 April 1861, perang sipil meletus dan melibatkan negara-negara bagian yang pro dan anti-perbudakan.











BAB 3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pada pertengahan abad ke-19 bangsa Amerika sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan individu dan equality dalam kesempatan politik dan ekonomi. Tumbuh dan berkeinbangnya nilai-nilai tersebut bersamaan dengan tumbuhnya keyakinan akan pentingnya pembebasan invividu dari batasan-batasan sosial politik. Sikap yang sama juga ditandai dengan upaya perluasan wilayah ke arah barat untuk kepentingan ekonomi. Jadi Perbedaan cara pandang tersebut menyebabkan perbedaan ideologis antara negara-negara bagian utara dan selatan dan menjurus ke arah perbedaan politik di antara elit politik mereka. Ekspansi warga AS bukan hanya dilakukan ke wilayah AS belahan barat melainkan juga ke kawasan yang dikuasai oleh Mexico di selatan.Pada tahun 1820-an, sejumlah orang Amerika yang dipimpin oleh Stephen Austin mulai bermukim di Texas yang dikuasai oleh Mexico.

3.2 Saran
Kritik dan saran dari pembaca sangat kami harapkan, untuk memperbaiki makalah ini kedepannya.







DAFTAR PUSTAKA
Sumber Internet :
http://anjunofarofpki.blogspot.com/2013/07/ekspansi-ke-arah-barat-dan-disintegrasi.html
file.upi.edu/.../BAB_VII.Bangsa_Amerika.pdf